Jakarta – Belasan anak dengan tekun menirukan bacaan Al Quran. Suara dari mulut-mulut mungil mereka terdengar hingga ke luar mushola. Sesekali, mereka terhenti seraya mengeja huruf dibimbing Zulbakri.

“Abi, ini seperti apa bunyinya,” salah satu anak bertanya. Zulbakri pun dengan sabar menjelaskan dan memberi contoh.

Panggilan abi yang ditujukan pada Zulbakri memperlihatkan kedekatan di antara anak-anak dengan anggota TNI ini. Abi berasal dari bahasa Arab untuk memanggil seseorang yang dianggap seperti bapak atau ayah.

Di sela tugas berat menjaga perbatasan negara, para tentara berbaur dengan masyarakat. Ada yang ikut membangun infrastruktur desa, membantu kegiatan di sekolah, sampai melatih karate dan mengajar ngaji anak-anak setempat. Zulbakri adalah salah satu yang dipercaya untuk mengajar ngaji.

“Dari Batalyon sebelumnya, mereka melihat kondisi di perbatasan ini kurang tenaga guru ngaji. Kalaupun ada tempat mengaji itu bayar. Orangtua murid merasa berat. Batalyon itulah yang pertamakali merintis ada belajar ngaji di sini,” runut anggota TNI berpangkat Praka ini.

Seiring pergantian Batalyon, tugas mengajar ngaji diteruskan ke Batalyon yang bertugas selanjutnya. Jumlah anak yang datang ke mushola di Pos Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) di Entikong, Kalimantan Barat ini juga terus bertambah.

“Awalnya hanya ada tiga anak yang datang mengaji. Sekarang muridnya sudah 30 orang lebih. Ada dua kelas, Iqra dan Al Quran. Mengajinya setiap sore, jam 3 sampai ashar untuk Iqro, dilanjutkan Al Quran sampai jam 5,” paparnya.

Seperti anggota TNI lain yang melakukan berbagai kegiatan sosial, Zulbakri tidak meminta bayaran atas apa yang dia kerjakan di luar pengabdiannya kepada negara.

“Tidak berbayar sama sekali. Ada orangtua yang mau bayar selalu kami tolak. Kalaupun memaksa bayar akhirnya kami gunakan untuk pemeliharaan mushola seperti beli kain pel, sapu atau alat kebersihan lainnya,” cerita pria asal Padang, Sumatera Barat tersebut.

Cerita Anggota TNI yang Mengajar Ngaji di Pos PerbatasanFoto: Rachman Haryanto/detikcom

Sebagai prajurit, Zulbakri memang sudah siap ditugaskan di mana saja dengan segala risikonya. Namun kesempatan bertugas di Entikong benar-benar disyukurinya. Menurutnya, perbatasan ini lebih aman dibandingkan Pos Satgas Pamtas lain yang pernah didatanginya. Zulbakri sebelumnya pernah bertugas di Ambon.

“Misalnya di Ambon atau Papua dulu itu masih ada kerusuhan dan gerakan-gerakan separatis. Tingkat kecelakaannya tinggi, seperti ada pembacokan dan sebagainya. Di sini Alhamdulillah tidak ada. Kami pun lebih dekat dengan masyarakat,” kisahnya.

Jauh dari keluarga dan berpindah-pindah wilayah tugas menjadi hal biasa bagi anggota TNI. Bagaimanapun, tak bisa dihindari jika mereka bisa diserang rasa kangen setiap waktu, apalagi bagi Zulbakri yang baru dikaruniai bayi. Hanya komunikasi yang menjadi penawar rindunya.

“Ya, anak pertama. Alhamdulillah, anak laki-laki,” Zulbakri tersenyum. Saat dikunjungi tim Tapal Batas detikcom Juli lalu, istrinya baru sepekan melahirkan. Terlihat binar matanya tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan.

Itu sebabnya, anggota tim Batalyon Infanteri 131/Braja Sakti Padang ini senang berkomunikasi melalui video call. Dengan cara itu, dia merasa lebih dekat seperti berhadapan dengan istri dan bayi laki-lakinya.

“Sama istri biasa video call. Disediakan juga WiFi di sini. Internet di sini memang tergantung cuaca. Kalau hujan suka terganggu. Tapi di sini masih beruntung. Masih banyak pos-pos lain yang jauh dari sini, untuk telepon pun sulit sinyalnya,” katanya.

Cerita Anggota TNI yang Mengajar Ngaji di Pos PerbatasanFoto: Rachman Haryanto/detikcom

Sembilan bulan telah berlalu. Tugas menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia berakhir dan digantikan dengan Batalyon lain. Saat Tim Tapal Batas detikcom menghubungi lagi Zulbakri, dia mengabarkan bahwa Batalyonnya bersiap kembali ke Padang.

Selama bertugas di Entikong, banyak pengalaman dirasakan Zulbakri. Hal paling berkesan baginya tentu murid-murid mengajinya. Penembak senapan semi otomatis ini mengaku berat berpamitan dengan mereka.

“Pada nangis apalagi yang kecil-kecil itu, gak boleh pulang katanya. Kita pun sedih juga ninggalinnya. Tapi ya bagaimana, namanya tugas,” Zulbakri tertawa bercampur haru.

Di sisi lain, dia tak sabar untuk bisa bertemu lagi dengan istri dan anaknya. Apalagi ini akan menjadi pertama kalinya dia melihat dan menimang langsung si kecil.

Soal anak-anak didiknya, Zulbakri tak khawatir meninggalkan mereka. Pasalnya, tugas mengajar ngaji sudah didelegasikan kepada Satgas penggantinya dari Batalyon Infanteri 642/Kapuas Kalimantan Barat.

“Saya pesan ke anak-anak, rajin-rajin belajar, tetap semangat sampai tercapai cita-cita yang diimpikan,” kenangnya.

Dia akan selalu mengingat momen ketika anak-anak itu mengerubutinya saat jam istirahat, saling berebut ingin duduk dekat sosok yang mereka panggil abi, dan mendengarkan cerita-cerita mereka yang penuh semangat.

Cerita Anggota TNI yang Mengajar Ngaji di Pos PerbatasanFoto: Rachman Haryanto/detikcom

“Yang kecil-kecil itu suka ngumpul di dekat saya. Ada saja yang diceritakan. Sampai saya suka bingung cerita mana yang mau didengar. Itu yang bakal bikin kangen,” tutupnya seraya tersenyum.

Simak cerita lainnya dari wilayah perbatasan Indonesia di Tapal Batas detikcom.
(rns/fjp)