Jakarta – Sejauh ini, polisi baru menyita aset berupa harta tidak bergerak dan sebagian harta bergerak berupa sejumlah kendaraan mewah dari bos First Travel. Tapi ada di antara kendaraan yang disita dikembalikan karena ternyata statusnya sewaan.

“Aset tak bergerak, rumah dan kantor sudah kami amankan. Termasuk rumah di Kebagusan, kemarin kami datangi tapi rumahnya kosong. Ada beberapa mobil juga yang diamankan. Ada pula yang dikembalikan, dua mobil karena itu rental,” terang Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (19/8/2017).

Penyidik Bareskrim Polri masih terus menelusuri aset-aset serta rekening First Travel dengan menggandeng PPATK. Polri meminta para jamaah untuk bersabar.

Para jamaah mengharapkan polisi menyita aset-aset First Travel, dengan harapan hasil penyitaan aset tersebut dapat dilelang dan dananya dikembalikan kepada para jamaah.

“Kami harapkan mereka (korban) sabar dulu. Ini sedang ditangani pihak Polri dan ini kan perlu waktu dan proses. Kepada sekian ribu jemaah yang belum berangkat ini kan ingin uang kembali atau berangkat. Tapi fakta di lapangan, aset-aset yang ditemukan penyidik baru sebatas itu,” sambungnya.

Begitu juga dengan aliran dana di rekening First Travel masih ditelusuri polisi dengan menggandeng PPATK. “Aliran dana sedang kami upayakan untuk kerjasama bersama PPATK. Nanti saya tanyakan kembali ke penyidik,” tambahnya.

Setyo menyebutkan, total ada 72 ribu jamaah yang mendaftar perjalanan umrah lewat First Travel. Sebagian besar calon jamaah tidak diberangkatkan.

“Bahwa 72 ribu yang telah daftar di First Travel sudah membayar dengan jumlah lebih dari Rp 700 miliar dana yang terkumpul. Yang berangkat itu baru 14 ribu,” katanya.

Polri juga membuka posko pengadaun untuk menampung keluhan para calon jamaah First Travel. Sejak dibuka, polisi menerima semakin banyak aduan dugaan penyelewengan dana umat oleh First Travel ini.

“Kemarin kami juga sudah membuka posko pengaduan dan ternyata makin banyak yg melapor. Makin banyak yang selama ini belum terdata, jadi masuk data tersebut,” tuturnya.
(mei/fjp)