Aktual.co.id – Medan puing yang bertambah di orbit Bumi suatu hari nanti dapat membahayakan akses ke bintang-bintang.
Saat ini, area tersebut terdiri dari hampir 130 juta keping sampah antariksa antara lain satelit mati, badan roket tua, dan fragmen kecil yang dihasilkan oleh tabrakan di orbit.
Memahami bagaimana pergeseran puing-puing di orbit dapat membantu menghindari tabrakan yang dahsyat. Sebuah studi menunjukkan bahwa puing-puing luar angkasa jatuh ke bumi lebih cepat ketika matahari lebih aktif.
“Untuk kali pertama, kami menemukan aktivitas matahari melewati tingkat tertentu, penurunan ketinggian ini terjadi jauh lebih cepat,” kata penulis utama studi, Ayisha Ashruf, ilmuwan dan insinyur di Pusat Antariksa Vikram Sarabhai di Thiruvananthapuram, India.
Dia menambahkan pengamatan ini diharapkan menjadi kunci untuk perencanaan operasi ruang angkasa berkelanjutan di masa depan.
Semua objek di orbit Bumi kehilangan ketinggian perlahan-lahan bergerak menuju atmosfer bumi. Sementara stasiun ruang angkasa dan satelit mengimbangi kehilangan ini dengan pembakaran mesin untuk mempertahankan orbit yang diinginkan.
Dalam studi baru ini, para peneliti mengukur lintasan 17 puing antariksa di orbit Bumi rendah selama rentang waktu 36 tahun, dimulai dua generasi yang lalu.
“Semua informasi ini berasal dari objek yang diluncurkan pada tahun 1960-an. Objek-objek ini masih berkontribusi pada ilmu pengetahuan, berfungsi sebagai alat yang berharga untuk mempelajari efek jangka panjang aktivitas matahari pada termosfer,” kata Ashruf.
Tiga puluh enam tahun mencakup tiga siklus aktivitas matahari yang berbeda mengalami pasang surut dengan periodisitas 11 tahun.
Untuk mengetahui perilaku matahari selama rentang waktu ini, para ilmuwan menggunakan data dari Pusat Penelitian Geosains Jerman di Potsdam, yang melacak bintik matahari dan perubahan harian dalam emisi matahari.
Setelah menghubungkan lintasan puing-puing antariksa dengan data matahari jangka panjang, para peneliti menemukan peningkatan aktivitas matahari meningkatkan kepadatan atmosfer di sekitar puing-puing antariksa.
Hal ini menciptakan lebih banyak hambatan, yang memperlambat orbit puing-puing dan mempercepat penurunannya.
“Hasil penelitian kami menunjukkan ketika aktivitas matahari melewati tingkat tertentu, satelit yang sama seperti sampah antariksa kehilangan ketinggian lebih cepat sehingga diperlukan lebih banyak koreksi orbit,” kata Ashruf.
Hal ini secara langsung memengaruhi berapa lama satelit tetap berada di orbit dan berapa banyak bahan bakar yang mereka butuhkan, terutama untuk misi yang diluncurkan mendekati maksimum aktivitas matahari. (ndi/space)
