• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Kontroversi “Pertamax Oplosan” dan Krisis Komunikasi Pemerintah dalam Era Digital
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Big Data

Kontroversi “Pertamax Oplosan” dan Krisis Komunikasi Pemerintah dalam Era Digital

Redaktur Rabu, 26 Februari 2025
Share
5 Min Read
Ilustrasi SPBU/dok.pertamina
Ilustrasi SPBU/dok.pertamina

Aktual.co.id – Isu mengenai bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi sorotan setelah berkembangnya narasi tentang “Pertamax Oplosan”. Discourse yang menyebar luas di media sosial ini menyebutkan bahwa Pertamax yang dijual di pasaran merupakan hasil oplosan dari Pertalite.

Isu ini ramai setelah Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan (RS) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tahun 2018-2023. PT Pertamina Patra Niaga diduga membeli Pertalite untuk kemudian “diblending” atau dioplos menjadi Pertamax. Namun, pada saat pembelian, Pertalite tersebut dibeli dengan harga Pertamax.

Informasi pelanggaran hukum yang sangat menyakiti masyarakat Indonesia. Berbagai komentar bermunculan, seperti “Bahkan saat berniat baik pakai Pertamax karena merasa tak berhak disubsidi pun, kita tetap ditipu di negara ini”.  Mereka pun akhirnya ramai-ramai bersuara di media sosial.

Di sisi lain pemerintah melalui Pertamina menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan bahwa Pertamax tetap diproduksi sesuai dengan standar yang ditetapkan. Namun meski pemerintah telah membantah, narasi publik justru terus berkembang dan semakin sulit dikendalikan. Pertamax menjadi trending di berbagai media sosial (menjadi viral).

Baca Juga:  Perang Dagang China-AS: Momentum Emas Kebangkitan UMKM Indonesia

Dalam era digital yang penuh disrupsi, kuasa pengetahuan tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Masyarakat kini memiliki peran besar dalam membentuk opini publik melalui berbagai platform digital seperti media sosial, YouTube, dan forum diskusi daring.

Situasi ini membuat pemerintah menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan kendali atas Discourse kebijakan. Lemahnya peran pemerintah dalam jaringan komunikasi digital berpotensi menyebabkan krisis komunikasi yang lebih luas, di mana masyarakat lebih percaya pada informasi yang berkembang di media sosial dibandingkan dengan klarifikasi resmi.

Pengasuh Rubrik Big Data di Aktual.co.id, Dr. Irwan Dwi Arianto, M.I.Kom./Dok.aktual.co.id
Pengasuh Rubrik Big Data di Aktual.co.id, Dr. Irwan Dwi Arianto, M.I.Kom./Dok.aktual.co.id

Hasil analisis jaringan komunikasi digital menunjukkan bahwa isu “Pertamax Oplosan” didominasi oleh aktor-aktor non-pemerintah, termasuk media independen, jurnalis warga, hingga konten kreator YouTube. Kata kunci yang paling banyak digunakan dalam diskusi ini antara lain Pertamax, Oplosan, Pertamina, Korupsi, dan Patra Niaga. Belum lagi isu “tertipu” menjadi diksi yang semakin menguat.

Pemerintah dalam hal ini Pertamina, tampaknya kalah dalam kontestasi digital (hingga hari ini), sehingga tidak mampu mengendalikan narasi yang berkembang di masyarakat. Dalam perspektif kuasa pengetahuan ala Michel Foucault bahwa informasi tidak hanya bergantung pada kebenaran objektif, tetapi lebih kepada siapa yang mampu menyebarkan dan menguasai Discourse secara lebih luas.

Baca Juga:  UU TNI Disahkan DPR RI, Publik Ketik : Sah Kembali Era Orba

Kondisi ini memunculkan beberapa dampak serius. Pertama, melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan Pertamina, yang bisa berdampak pada resistensi terhadap kebijakan energi nasional. Kedua, adanya distorsi kebijakan yang bisa memicu penolakan terhadap regulasi harga BBM, yang pada akhirnya berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial. Ketiga, dominasi Discourse oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu, termasuk kelompok oposisi, yang dapat memperburuk polarisasi opini publik terhadap kebijakan energi.

Hasil analisis Big Data tentang Pertalite oplosan/Dok.aktual.co.id
Hasil analisis Big Data tentang Pertamax oplosan/Dok.aktual.co.id

Untuk mengatasi krisis komunikasi ini, pemerintah dan Pertamina perlu menerapkan strategi komunikasi digital yang lebih efektif. Pertama, meningkatkan keterlibatan dalam diskursus digital dengan aktif berpartisipasi di media sosial dan platform berbasis video seperti YouTube. Kedua, menggunakan format komunikasi yang lebih engaging, seperti infografis, video pendek, dan animasi interaktif, agar informasi lebih mudah dipahami dan diterima masyarakat.

Ketiga, agar kebijakan dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh masyarakat, pemerintah perlu mengadopsi strategi komunikasi digital yang lebih proaktif dan sistematis. Sudah sewaktunya pemerintah menggunakan metode riset sosial berbasis big data dengan analisis komunikasi big data untuk “memahami” dalam perspektif baru bagaimana informasi kebijakan tersebar, mengidentifikasi video berpengaruh, serta memahami tren diskursus digital. Keempat, merespons dengan cepat dan konsisten terhadap misinformasi yang berkembang di ruang digital agar pemerintah tidak tertinggal dalam membentuk opini publik.

Baca Juga:  Jebakan Kebenaran Palsu: Ancaman AI terhadap Masa Depan Bangsa

Fenomena “Pertamax Oplosan” menjadi pelajaran penting (kembali) bahwa di era digital, narasi publik bisa berkembang jauh dari kendali pemerintah jika strategi komunikasi tidak dilakukan secara tepat. Jika pemerintah terus kalah dalam kuasa pengetahuan, maka bukan tidak mungkin krisis komunikasi ini akan semakin membesar dan merugikan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan negara. Oleh karena itu, strategi komunikasi berbasis big data dan pendekatan digital yang lebih relevan harus segera diterapkan agar informasi yang disampaikan pemerintah dapat diterima dengan lebih baik oleh masyarakat.

Dr. Irwan Dwi Arianto, M.I.Kom.

Pengasuh Rubrik Big Data di Aktual.co.id

Kepala Laboratorium Integrated Digital – FISIBPOL – UPN “Veteran” Jatim

Founder ASIGTA Group

 

 

SHARE
Tag :Big Data
Ad imageAd image

Berita Aktual

Noah PLAVE/ Foto: Soompi
Noah dari PLAVE Mengalami Kesehatan Usai Tampil di Jepang
Senin, 28 September 2026
Aleksandar Vucic / Foto: VoA
Presiden Serbia Aleksandar Vucic Mengundurkan Diri
Senin, 28 September 2026
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum / foto : dok
Harga BBM Nonsubsidi di SPBU Terpantau Stabil di Bulan September 2026
Senin, 28 September 2026
Emas Antam/ Foto: ANTARA
Harga Emas Antam Turun Menjadi Rp2.597 Juta Per Gram
Senin, 28 September 2026
Orang-orang mengangkut barang mereka di Khlong Chan, Bangkok/ Foto: vn
Banjir Merendam 52 Ribu Rumah Warga di Kota Bangkok
Minggu, 27 September 2026

Mental Health

Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik

Pencegahan Bunuh Diri Menekan Angka Kematian Akibat Bunuh Diri di Dunia

Ilustrasi olah raga/ Foto: psypost

Studi Menjelaskan Olah Raga Mampu Meredam Gangguan Depresi

Joe Biden/ Foto: capture ANTARA

Hunter Biden: Kanker Prostat Joe Biden Menyebar ke Tulang

Ilustrasi nyeri kepala/ Foto: freepik

Mengenali Nyeri Kepala yang Sering Diderita oleh Setiap Orang

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Banjir Merendam 52 Ribu Rumah Warga di Kota Bangkok

Harga Emas Antam Turun Menjadi Rp2.597 Juta Per Gram

Presiden Serbia Aleksandar Vucic Mengundurkan Diri

Harga BBM Nonsubsidi di SPBU Terpantau Stabil di Bulan September 2026

Noah dari PLAVE Mengalami Kesehatan Usai Tampil di Jepang

More News

Fanny Soegi ikut memberikan komentar tentang IKN / foto : IKN

IKN ‘Mangkrak’, Penyanyi Fanny Soegi Ikut Komentar

Jumat, 7 Februari 2025
Ilustrasi bulan purnama / Foto : yahoo

Bulan Purnama Paling Dekat dengan Bumi Terjadi Tanggal 4 – 5 November 2025

Selasa, 4 November 2025
Ilustrasi berbuka dengan kurma/ Foto; Ist

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah Jelang Hari Raya Iduladha Bulan Dzulhijjah

Senin, 25 Mei 2026
Sufmi Dasco Ahmad / Foto : Ist

Berikut Kutipan Statement Sufmi Dasco Terkait Elpiji 3 Kg

Selasa, 4 Februari 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id