//Pendidikan Tidak Melulu Tentang Sekolah

Pendidikan Tidak Melulu Tentang Sekolah

JawaPos.com – Paradigma pendidikan selama ini didekatkan dengan persoalan sekolah atau lembaga pendidikan formal. Padahal pendidikan itu dimulai dari manusia itu lahir dan sesuai dengan eranya.

Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018, Psikolog Pendidikan Karina Adistiana melihat kurikulum tidak seharusnya selalu berbicara sekolah. Seharusnya kurikulum bisa dibuat sesuai konteks zamannya. Sebab slogan pendidikan anak itu harus sesuai dengan zamannya bukan zamanmu. Pendidikan yang ideal harus digarap sesuai kemungkinan untuk masa depan.

“Di situlah harusnya dibuat blueprint. Nantinya gambaran masa depan pendidikan itu seperti apa. Sayangnya kita nggak pernah punya rencana jangka panjang,” ujar perempuan yang disapa Anyi kepada JawaPos.com, Rabu (2/5).

Pendidikan Tidak Melulu Tentang Sekolah
Suasana keceriaan siswa di lapangan sekolah di Kabupaten Solok. (Padang Ekspres/Jawa Pos Group)

Anyi mencontohkan terhadap aspek bonus demografi. Jika Pemerintah tidak punya rancangan jangka panjang soal pendidikan, maka bonus demografi hanya akan menjadi kesia-siaan.

“Dalam pengembangan kurikulum, pemerintah juga belum menerapkan kurikulum yang mengeksplorasi kekayaan dan kearifan lokal,” ujarnya.

“Contoh, di Aceh terkenal karena kopinya tapi nggak ada pembahasan kopi di kurikulumnya. Bagaimana kita bisa berharap anak-anak bisa mengolah potensi lokal di daerahnya dengan baik,” tutur Anyi tertawa.

Pendidikan tidak melulu bicara tentang sekolah. Pendidikan itu beragam. “Kurikulum kalau ganti tidak apa-apa, asal sesuaikan kondisinya. Dasar memertahankan kebijakan untuk dilanjutkan, pemerintah gak ada datanya,” tambahnya.

Bahkan, dalam pendidikannya yang ditangani Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Pemerintah terlalu sibuk memikirkan paradigma sekolah. Padahal nyatanya di luar sekolah banyak sekali gerakan pendidikan yang tidak hanya bicara akses sekolah.

“Ada loh paradigma pendidikan alternatif yang tidak berparadigma sekolah. Misal ada sekolah yang kurikulumnya memakai visual art, ada juga yang pendidikan berbasis komunitas nggak ada kurikulum tapi mereka disuruh mencari masalah di lingkungan,” terangnya.

Bahkan dulu, itu bertujuan agar anak dibesarkan untuk mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Tapi sekarang pendidikan anak seharusnya membuat mereka bisa bergerak melakukan perubahan dan terlibat dalam usaha menjadikan lingkungannya untuk lebih baik.

Tidak dipungkiri, situasi pendidikan zaman ini memang tidak terlalu baik. Namun, kata dia, di sisi lain Indonesia mempunyai harapan dengan istilah ‘nggak gelap-gelap banget’.

“Kita masih punya banyak orang yang tertarik di gerakan pendidikan, lagi tren dan bicara soal akses. Walau nggak melulu soal akses dan sekolah tapi tidak apa-apa kita harus memunculkan harapan di masyarakat,” ungkap Anyi.

(rgm/JPC)