//Rawan Gesekan, Menteri Muhadjir Wacanakan Penghapusan Bahasa Daerah

Rawan Gesekan, Menteri Muhadjir Wacanakan Penghapusan Bahasa Daerah

JawaPos.com –  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi menilai keberagaman bahasa daerah bisa memicu perselisihan antar warga. Kondisi ini seperti yang terjadi di beberapa daerah, di mana adanya perbedaan makna dalam bahasa daerah membuat terjadi kesalahpahaman. Maka dari itu, Mendikbud mewacanakan untuk melakukan penyerapan bahasa daerah menjadi induk bahasa. 

Demikian seperti disampaikan Muhadjir Effendi usai menghadiri Semiloka dan Deklarasi Pengutamaan Bahasa Negara yang diadakan di auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Rabu (8/8).

Lebih lanjut, Muhadjir tidak menampik jika keberagaman bahasa daerah yang mencapai lebih dari 6.000 perlu dilestarikan. Akan tetapi, di satu sisi dalam upaya tersebut sering menghadapi sejumlah kendala.

“Bahasa daerah memang harus dilestarikan, dibina dan mengembangkannya. Tetapi banyaknya bahasa itu jumlah penuturnya hanya ratusan atau ribuan, ada baiknya kemudian dipilih bahasa induk dari bahasa lokal yang banyak itu diserap,” urainya. 

Kemudian, Muhadjir menambahkan, untuk bahasa lokal menjadi ujaran atau kosa kata dari bahasa induk. Dari ratusan bahasa yang ada di daerah bisa dipilih empat atau lima bahasa utama yang memang penuturnya memadai. Tetapi, Muhadjir membantah, jika penyerapan bahasa ini merupakan upaya untuk menghilangkan bahasa daerah itu sendiri.

Melainkan upaya untuk menyerap bahasa sehingga ada bahasa induk. “Istilahnya bukan punah tapi diserap, pilihannya memang sulit. Kalau tidak ada kesulitan kami pasti membina dan mengembangkan bahasa lokal, tetapi ini memang pilihan yang sulit,” katanya. 

Berbagai pertimbangan inilah yang kemudian membuat Muhadjir meminta agar permasalahan bahasa daerah ini dibahas dalam forum tersebut. Muhadjir berharap, dengan adanya penyerapan bahasa lokal atau bahasa daerah bisa memperkecil kemungkinan terjadinya konflik atau warga yang mempunyai ragam bahasa lokal yang berbeda.

“Apakah kita akan terus memelihara atau menyederhanakan menjadi bahasa utama, karena itu saya minta dipertimbangkan dan dibahas dalam forum ini,” tandasnya.

(apl/JPC)