//STP Bandung Bimbing 22 SMK Se-Indonesia Bangun Technopark
STP Bandung Bimbing 22 SMK Se-Indonesia Bangun Technopark

STP Bandung Bimbing 22 SMK Se-Indonesia Bangun Technopark

Diharapkan SMK Pariwisata dapat menghasilkan pengusaha muda mandiri.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STP Bandung) dipercaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membimbing SMK Pariwisata se-Indonesia untuk membangun technopark. STP dipercaya untuk mendampingi 22 SMK Pariwisata se-Indonesia membangun technopark.

Menurut Direktur Pascasarjana yang juga sebagai Penanggung Jawab Technopark, Haryadi Darmawan, technopark atau sciencepark merupakan suatu platform terpadu yang menghubungkan dunia industri, perguran tinggi (pendidikan), pusat riset dan pelatihan, kewirausahaan, pebankan, pemerintahan pusat dan daerah yang memungkinkan aliran informasi dan teknologi secara lebih efisien dan cepat. 

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian bagi para pelaku bisnis dari peningkatan efisiensi proses bisnis tersebut,” ujar Haryadi kepada wartawan, Rabu (26/9).

Haryadi berharap, dengan adanya pendampingan ini maka kemandirian ekonomi yang saling didukung dari proses kolaborasi mulai diterapkan di berbagai lembaga pendidikan. Technopark pada lembaga pendidikan, mendorong proses inovasi pada penguatan dan percepatan difusi pengetahuan dan fenomena industri yang sedang terjadi.  

“Proses penguatan ilmu berbasis skill pada lembaga pendidikan vokasi dikenal juga dengan Teaching Factory (TeFa),” katanya.

TeFa memiliki konsep pembelajaran berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Hal tersebut, membantu meminimalisasi kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi yang dihasilkan dari kurikulum lembaga pendidikan.

STP Bandung, kata dia, sebagai lembaga pendidikan tinggi berbasis vokasi bidang pariwisata telah menerapkan konsep TeFa dan Technopark dalam menghasilkan entrepreneurial ecosystem. Penguatan skill mahasiswa tidak hanya menghasilkan produk sumber daya manusia yang profesional tapi juga mandiri untuk menciptakan kemajuan ekonomi dengan lahirnya para pelaku/pemilik bisnis. 

“STP Bandung merupakan satu-satunya lembaga pendidikan tinggi pariwisata yang telah menerapkan konsep tersebut. Makanya, kami dipercaya untuk memberikan pendampingan,” katanya.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, kata dia, mulai menerapkan konsep tersebut kepada SMK Pariwisata Se-Indonesia. Jadi, STP Bandung harus mendamping 22 SMK Pariwisata yang sebelumnya telah melewati proses seleksi. Di antaranya, SMKN 3 Bogor, SMKN  3 Samarinda, SMKN 4 Yogyakarta, SMKN 2 Jayapura, SMKN 1 Palu, SMKN 2 Muara Enim, SMKN 2 Kabupaten Raja Ampat, SMKN 2 Tanjung Pinang, SMKN 3 Ternate, SMKN 3 Malang, SMKN 3 Kabupaten Pangkal Pinang Belitung, SMKN 3 Singkawang, SMKN 3 Kabupaten Tanggerang, SMKN 27 Jakarta, SMKN 1 Lembah Gumanti, SMKN 3 Bengkulu, SMKN 3 Kendari, SMKN 3 Pamekasan, SMKN 3 Bandar Lampung, SMKN 1 Ambon, dan SMK Katolik St Familia Tomohon.

“Di acara ini semua SMK harus dapat mempresentasikan apa yang dilakukan selama dua bulan konsep technoparknya seperti apa,” katanya.

Haryadi menjelaskan, program technopark ini ada karena banyak SMK Pariwisata yang memiliki berbagai fasilitas, tapi tak bisa optimal mengembangkannya. Misalnya, ada SMK yang punya hotel, akomodasi, bisnis pastry dan lainnya.

Technopark ini ada, kata dia, agar semua SMK bisa memasarkan dan mengkolaborasikan produk-produk sekolah dan bisa menjual ke masyarakat. Serta, SMK bisa mengembangkan bisnisnya lebih luas. “Misalnya untuk membimbing tata boga kami kirim chef untuk mendampingi sekolah,” katanya.

Target pendampingan ini, kata dia, minimal hasil produksi SMK bisa dijual ke masyarkat. Kedua, harus mampu menghasilkan entrepreuner terutama dari alumni mereka. Kemudia, mereka minimal menyelenggrakan 2 kali event. Target lainnya, ada outlet bisnis di SMK. Selain itu, harus ada kerja sama industri, menghasilkan strat up dan bisa menghasilkan penguasaha minimal 5 orang.

“Selama ini SMK terkendala mengembangkan technopark karena kurangnya kemampuan dari SDM. Kalau fasilitas sudah mencukupi tapi butuh ekspert yang punya pengalaman,” katanya.

Kegiatan pendampingan ke tiap-tiap SMK, kata dia, dilakukan dengan memantau dan memandu langsung sesuai kondisi riil di lapangan juga dilakukan dan akan rampung pada akhir tahun ini. STP Bandung mengerahkan puluhan pendamping agar program ini dapat terlaksana sesuai waktu yang ditargetkan. Dengan begitu, kegiatan technopark ini akan membantu SMK Pariwisata dapat menghasilkan pengusaha muda mandiri dan berprestasi di bidangnya.