//Kurang Laku di ‘Pasaran’, Prodi Konseling dan Ilmu Sosial Dimoratorium

Kurang Laku di ‘Pasaran’, Prodi Konseling dan Ilmu Sosial Dimoratorium

JawaPos.com – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memoratorium program studi (prodi) yang dianggap sudah jenuh. Prodi tersebut ada di fakultas atau kampus-kampus keguruan.

Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, bukti jenuhnya suatu prodi antara lain lulusannya yang tidak terserap dengan baik di dunia kerja. Lulusan tersebut juga cenderung menganggur, maupun bekerja tidak sesuai dengan bidangnya.

“Ada, misalnya yang jenuh, ini kami tutup. Buktinya jenuh apa? Lulusannya tidak terserap oleh industri. Banyak itu. Contoh, program studi keguruan, yaitu tentang konseling. Saya moratorium dulu,” ujarnya saat ditemui di kantor Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (6/11).

Selain prodi bimbangan konseling, bidang lainnya yang akan dikurangi yaitu ilmu sosial. Dia berharap, perguruan tinggi bisa mengedepankan ilmu eksakta.

“Sekarang universitas yang di bidang sosial, sosialnya akan saya moratorium, saya kurangi. Sekarang saya arahkan ke STEM (science, technology, energy, mathematics) ini yang menjadi penting. Ini kami dorong. Kalau ada universitas dengan STEM, saya akan izinkan,” terang dia.

Kemudian, sejumlah jurusan kekinian juga akan ditingkatkan, seperti prodi yang fokus terhadap industri kopi. Sebagaimana diketahui, kopi sudah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat saat ini.

“Maka ada dalam bagaimana tentang konsentrasi program studi kopi, kopi itu kan dari bagaimana cara menanam kopi yang baik, bagaimana dari hulu kan. Bagaimana nanti set plantiationnya itu, bagaimana nanti hilirnya,” kata Nasir.

Untuk mengembangkan inovasi dalam menciptakan prodi, Nasir memberi kebebasan kepada universitas. Kini, kampus bisa dengan mudah mengajukan pembukaan prodi baru tanpa nomenklatur, selama bisa menghasilkan lulusan yang terserap industri.

“Ini sudah saya cabut peraturan ini, sudah diganti peraturan baru. Silakan itu para program studi akan dibuka, tetapi harus lihat pada siapa demand-nya, jangan sampai mencetak tenaga kerja penganggur, tapi mencetak tenaga kerja yang profesional pada bidangnya yang diinginkan industri,” paparnya.

Adapun prodi kekinian yang sudah ada, di antaranya Prodi Pengelolaan Perkebunan Kopi, Prodi Film, Prodi Teknologi Pulp dan Kertas, Prodi Informatika Medis, Prodi Teknik Mekatronika, dan Prodi Sains Data.

Kemenristekdikti juga memberikan rekomendasi kepada perguruan tinggi untuk membuka prodi visioner Sains Perkopian, Prodi Ekonomi Perkopian, Pendidikan Barista, Prodi Seni Meme.

(yes/JPC)