//STEI SEBI Bangun Budaya Riset Berbasis Kampus

STEI SEBI Bangun Budaya Riset Berbasis Kampus

Riset sangat diunggulkan dalam dunia akademik.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — Riset merupakan dari kewajiban akademik kampus. Belakangan ini isu rendahnya riset di Indonesia menjadi isu hangat.

Terkait hal tersebut, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI)  SEBI kembali mengadakan agenda rutin sekolah riset. Agenda Islamic Economic Research School (IERS) kali ini mengusung tema “Bagaimana menulis penelitian agar bisa masuk ke indeks jurnal Scopus“. 

Kegiatan tersebut dilaksanakan di kampus STEI SEBI Depok, Jawa  Barat, Jumat (12/4). Nara sumbernya adalah pakar akuntansi Islam yaitu Ousama Abdulrahman Anam  PhD dari Qatar University. IERS diikuti  50 peserta yang berasal dari kalangan dosen dan mahasiswa STEI SEBI.

Saat membuka IERS, Ketua STEI SEBI Sigit Pramono  PhD mengatakan, budaya riset merupakan satu dari budaya yang tidak boleh hilang dari keilmuan. Momentum penelitian harus dihadirkan sepanjang tahun. 

“Inilah budaya warisan Islam, di mana keilmuan hadir dengan berlandaskan penelitian. Kami berharap,  dengan adanya sekolah riset ini para dosen dan mahasiswa lebih semangat dan terarah dalam penelitian khususnya bidang ekonomi Islam,” ujar Sigit seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Sabtu (13/4). 

Hal senada ditegaskan oleh Ousama Abdulrahman Anam PhD. “Riset atau penelitian sangat diunggulkan dalam dunia akademik.  Bahkan di beberapa negara, durasi lama pengalaman mengajar bisa kalah dengan jumlah riset yang telah diterbitkan oleh seorang dosen. Apalagi bidang Ekonomi Islam masih sangat jarang, sehingga peluang amatlah besar. Walaupun potensi tertolaknya penelitian menjadi tantangan tersendiri dalam seorang peneliti,” papar Ousama.

Pada akhir pembahasan,  moderator yang juga  dosen STEI SEBI, Muhammad Doddy AB menyimpulkan, setidaknya ada beberap tips agar penelitian dapat diterima oleh indeks Scopus. Pertama, dalam pemilihan judul jangan terlalu panjang dan usahakan mudah ditemukan oleh mesin pencarian internet.

Kedua, peneliti harus mengetahui standar baku penulisan. Hal itu karena masing-masing jurnal biasanya memiliki standarisasinya sendiri.

Ketiga, utamakan tema yang signifikan serta memiliki pembaharuan dalam penelitian. “Oleh karena itu, seorang peneliti harus banyak mengetahui penelitian terdahulu,” ujarnya.

Keempat, penulisan abstrak amatlah penting  karena itu merupakan wajah dari sebuah penelitian. “Pada umumnya jumlah kata dalam abstrak maksimal 200 kata, mencakup tujuan penelitian, metode yang digunakan, objek penelitian, pembaharuan, kontribusi dan hasil serta kata kunci penelitian,” tuturnya.

Kelima, sebelum mengumpulkan hasil penelitian ke jurnal,  usahakan sudah melakukan pra review dengan pakar maupun teman akademik. 

Keenam. Jangan pernah putus asa ketika  penelitian ditolak. “Harus  terus mencoba,” ujarnya.

Ketujuh, kata Muhammad Dody, harus berhati-hati dengan jurnal palsu/predator yang meminta bayaran mahal agar tulisan bisa diterima.