//Pocita: Inspirasi dari Kegagalan

Pocita: Inspirasi dari Kegagalan

Metode pohon cita-cita (Pocita) cocok untuk anak-anak usia 5-6 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekelompok mahasiswa program studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof  DR  HAMKA yang menamakan dirinya sebagai Tim Pocita, beranggotakan Andhika Illyas Alhafizh Aldrian, Nur Hidayah,  Shinta Bella Kurniati, dan Moni Amanda. Kelompok ini  berpotensi besar menjadi perwakilan kampusnya dalam ajang Pimnas (pekan ilmiah nasional) 2019 yang akan diselenggarakan di Bali. Pasalnya, kelompok ini telah memenuhi tagihan dari proposal yang mereka kerjakan berupa tercapainya tujuan kegiatan, pengiriman artikel di jurnal ber-ISSN, dan pendaftaran HAKI untuk artikel mereka. 

Siapa sangka prestasi yang diraih tersebut bersumber dari kegagalan. Mereka menjadikan kegagalan sebagai inspirasi proposal program kreativitas mahasiswa pengabdian masyarakat (PKM-M) sehingga memperoleh pendanaan dari Kemristekdikti untuk judul kegiatan Program Pengenalan Cita-cita di Raudhatul Athfal (RA)  Al-Amin, Jakarta, dengan metode Pocita (Pohon cita-cita).

“Waktu saya mau kuliah, saya bingung menentukan jurusan apa yang saya pilih. Saya tidak memiliki cita-cita, sehingga saya sulit menentukan arah hidup saya. Pada saat itu, saya merasa gagal,” terang Andhika, ketua Tim Pocita mengawali asal muasal proposal mereka, melalui rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (10/7).

“Ternyata apa yang saya rasakan juga dirasakan oleh teman-teman saya. Di sini, saya mulai berpikir bahwa ternyata cita-cita sangat penting ditanamkan sejak dini,” jelasnya.

Dengan inspirasi tersebut, maka Andhika bersama teman-temannya menyusun program pengenalan cita-cita di taman kanak-kanak. Setelah melakukan observasi ke sekolah, mereka mendapatkan tantangan yang cukup berat.

“Anak-anak itu sulit fokus dan tidak dapat diceramahi. Mereka senang bermain dan aktivitas motorik,” terang Nur Hidayah menceritakan pengalamannya. “Akhirnya kami berdiskusi untuk menentukan metode yang cocok untuk anak-anak usia 5—6 tahun. Ditentukanlah metode pocita (pohon cita-cita),” terangnya.

Dengan metode tersebut mereka melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di RA Al-Amin berupa mengenalkan cita-cita kepada anak-anak. Kegiatan ini berlangsung menarik bagi anak-anak sebab anak-anak tidak hanya mengenal dan menentukan cita-cita, namun juga melakukan aktivitas bermain berupa menanam pohon dan menyiram pohon.

“Dengan melaksanakan Pocita ini kami tidak hanya menyampaikan pentingnya cita-cita bagi anak, namun juga menanamkan bagaimana anak-anak harus mencintai lingkungannya,” terang Mona, anggota Pocita lainnya.

Kegiatan ini diapresiasi dengan baik oleh kepala sekolah, guru, dan orang tua. Mereka berterima kasih karena kelompok Pocita telah memberikan arahan kepada anak-anak mereka tentang pentingnya cita-cita bagi kehidupan mereka.