//Perguruan Tinggi Penting Miliki Chief Information Officer

Perguruan Tinggi Penting Miliki Chief Information Officer

Tidak cuma menguasai teknologi, CIO perlu memiliki kemampuan memimpin.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Pengelolaan teknologi informasi dewasa ini masih sering menjadi kendala pimpinan-pimpinan pendidikan tinggi. Padahal, itu kerap jadi kendala memasifkan tujuan strategis perguruan tinggi.

CIO merupakan kepanjangan dari Chief Information Officer. Mereka  jadi orang yang mampu bertanggung jawab dan mengelola teknologi untuk mencapai target perguruan tinggi.

Masuknya era revolusi industri 4.0, kebutuhan perguruan tinggi akan CIO semakin tinggi. Kepala LLDIKTI Wilayah V, Didi Achjari menilai, masif perkembangan teknologi harus dimanfaatkan perguruan tinggi.

Salah satunya, membantu percepatan dalam perkembangan perguruan tinggi. Sayangnya, ia berpendapat, tidak semua perguruan tinggi menyadari peran-peran teknologi dan informasi.

“Kebanyakan perguruan tinggi melihat teknologi hanya sebagai alat bantu efisiensi, tidak penambah nilai,” kata Didi, dalam Indonesia Higher Education CIO Forum di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Didi menuturkan, CIO memiliki peran penting dalam perkembangan perguruan tinggi melalui teknologi. Pasalnya, tidak cuma menguasai teknologi, CIO perlu memiliki kemampuan memimpin.

Mereka harus dapat pula mengukur dan meningkatkan hasil, membuat strategi dan mengatur sumber-sumber daya yang ada. Tuntutan yang banyak ini forum-forum seperti IHE CIO semakin diperlukan.

“Agar pimpinan-pimpinan perguruan tinggi dapat saling berbagi ilmu, bahkan sumber daya agar mampu menciptakan sistem berbasis teknologi guna kemajuan perguruan tinggi secara merata,” ujar Didi.

Pada kesempatan itu, Rektor UII, Fathul Wahid menuturkan, perguruan tinggi perlu mengubah pola pikir penyelesaian masalah untuk jangka pendek. Utamanya, menuju perubahan cepat dan wujudnya lebih baik.

Fathul menekankan, CIO bagi perguruan tinggi memperhatikan sumber daya teknis maupun nonteknis. Sumber daya ini berupa infrastruktur pendukung seperti layanan internet sebagai media menghimpun data.

Sedangkan, lanjut Fathul, sumber daya nonteknis berupa kemampuan dan kemauan individu meningkatkan kualitas. Lalu, meninggalkan kebiasaan buruk dan mengatur strategi membangun keluaran terbaik.

“Tidak hanya layanan yang perlu kita pelajari bersama, namun juga bagaimana tata kelola sumber daya manusianya dalam menanggapi isu permasalahan yang ada,” kata Fathul.