//Menhan Berikan Kuliah Umum kepada Mahasiswa Baru UNS

Menhan Berikan Kuliah Umum kepada Mahasiswa Baru UNS

Ada kekhawatiran terhadap paham radikal marak berkembang di lingkungan kampus.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO — Menteri Pertahanan (Menhan) RI Ryamizard Ryacudu memberikan kuliah umum berjudul Bela Negara sebagai Penangkal Radikalisme di Kampus. Kuliah umum digelar bagi mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo di halaman Gedung Rektorat dr Prakosa UNS, Selasa (13/8).

Kuliah umum dilaksanakan setelah upacara pelantikan para mahasiswa baru tersebut oleh Rektor UNS Jamal Wiwoho. Menhan menjelaskan, materi tersebut dibahas karena akhir-akhir ini kekhawatiran terhadap paham radikal marak berkembang di lingkungan perguruan tinggi. Karenanya, dia merasa memiliki tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme bagi para mahasiswa baru, termasuk UNS.

“Ancaman terhadap ketahanan nasional, seperti terorisme tidak hanya menjadi tanggung jawab bagi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun, ancaman tersebut menjadi tugas dan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia, tidak terkecuali bagi generasi muda,” terangnya kepada ribuan mahasiswa.

Dia menyontohkan, terorisme tidak bisa hanya dihadapi dengan senjata. Menangkal terorisme tidak hanya tugas polisi dan tentara semata. Kemungkinan hanya satu persen kemampuan TNI dan Polri dalam menghadapi terorisme.

Menhan juga menyinggung mengenai konsep khilafah dimana sudah ada 21 negara di dunia yang melarang konsep khilafah. Di antaranya, Mesir yang telah membubarkan organisasi yang mendorong negara khilafah.

“Masalah khilafah, konsep khilafah ini adalah ajaran sesat yang dilarang di penjuru dunia. Sudah 21 negara melarang, seperti Turki, Mesir, Arab, dan Yordania,” ungkapnya.

Di samping itu, Menhan membahas mengenai mashab wahabi salafi yang dibentuk oleh penjajah Inggris pada waktu itu untuk menghancurkan persatuan Islam. Pada saat itu, masa kerajaan Turki Ustmani berkembang pesat dan menjadi ancaman penjajah di Barat karena sangat sulit menaklukkan persatuan Islam. Penjajah Inggris waktu itu menyusun strategi untuk memecah belah Islam yang berkolaborasi dengan pedagang keturunan Turki dan Yahudi yakni Muhammad bin Abdul Wahab. Paham tersebut mengkafirkan kaum Muslimin yang dianggap melakukan bid’ah. Bahkan, menolak berbagai tafsir Alquran yang dianggap mengandung bid’ah. Selain itu, juga mulai menyerang kaum Syiah, Suni dan Ahlussunah wal Jamaah dengan cara yang brutal.

“Wajah Islam Indonesia yang sebenarnya adalah Islam yang penuh damai, namanya Islam semuanya bukan hanya Indonesia, membawa rahmat di muka bumi ini, menjunjung tinggi nilai persatuan dan toleransi. Islam Indonesia yang damai ini memegang peran penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia,” paparnya.

Di samping itu, Menhan juga menjelaskan mengenai konsep arsitektur pertahanan negara yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 harus diperkuat dengan sikap bela negara dari setiap pribadi. Dia juga mengingatkan, ideologi Pancasila merupakan anugerah luar biasa dari Tuhan Yang Maha Esa bagi bangsa Indonesia. “Pancasila ini merupakan rahmat dan hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa karena kecintaan-Nya yang luar biasa bagi bangsa Indonesia,” ucapnya.

Kepada wartawan, Menhan menegaskan, pemaparannya di depan ribuan mahasiswa baru tersebut tidak sekadar kuliah umum. Namun, ada penekanan-penekanan bagi para mahasiswa baru agar tidak terpengaruh pada paham yang ingin mengubah Pancasila.

“Salah satunya khilafah. Tidak benar, yang menyanyikan Indonesia Raya kafir, yang menaikkan merah putih itu kafir. Dia tidak tahu yang mendirikan bangsa ini sudah pada mati hanya untuk Pancasila. Ini harus ditekankan pada mereka karena 20 tahun lagi mereka mengatur negara ini. Bagaimana kalau tidak pakai Pancasila, rusak negara ini,” ungkap Menhan.