//Pembinaan Karakter Jadi Tantangan Pendidikan Indonesia

Pembinaan Karakter Jadi Tantangan Pendidikan Indonesia

Kemampuan kognitif tidak bisa menghandle tantangan di abad 21.

REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG — Pondok Pesantren Tebuireng Jombang menggelar diskusi bertema “Memadukan Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional” di Gedung Yusuf Hasyim, Jombang, Ahad (25/8). Diskusi yang digelar merupakan rangkaian dari peringatan 120 tahun lahirnya Ponpes Tebuireng.

Diskusi digelar dengan menghadirkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Phil Kamaruddin Amin menyatakan, dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Toto Suprayitno.

Pada pemaparannya, Kamaruddin mengungkapkan berbagai tantangan pendidikan Indonesia saat ini. Dimana menurutnya, lembaga pendidikan dituntut untuk tidak hanya memperkuat kualitas pendidikan di bidang kognitif seperti kemampuan membaca, menulis, matematika, dan sains. Tapi juga dituntut meningkatkan kualitas pembinaan karakter.

“Kognitif tidak bisa menghandle tantangan di abad 21. Tantang terbesar kita selain di bidang kognitif tadi adalah tantangan pembinaan karakter,” kata Kamaruddin.

Tentang pembinaan karakter tersebut, lanjut Kamaruddin, lembaga pendidikan Islam, utamanya pesantren memiliki keunggulan dibanding lembaga pendidikan nasional. Pesantren-pesantren dirasanya mempunyai kekhasan dalam membina karakter para santrinya. Dimana di pesantren, para santri selalu mempelajari dan mengaplikasikan pendidikan integritas, kolaborasi, dan kemandirian.

“Tentang integritas itu karakter, tentang kolaborasi itu karakter, tentang kemandirian juga karakter. Ini semua ada di pondok pesantren,” ujar Kamaruddin.

Kamaruddin juga mengapresiasi rasa ingin tahu para santri yang semakin hari semakin berkembang. Dimana saat ini, santri tidak begitu saja menerima mentah-mentah apa yang dikatakan kiyainya. Tapi, para santri saat ini juga sudah kritis, yang itu dirasanya akan baik bagi pendidikan karakter di pesantren.

“Critical thinking di pesantren sudah mulai bergeser ke arah yang sangat positif. Dimana santri-santri kita juga sudah mulai kritis dan logis, atau mereka memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi,” ujar Kamaruddin.

Kamaruddin kemudian mengingatkan, guru-guru, termasuk di pesantren memiliki tugas kita bukan saja untuk mencerdaskan murid-murid atau santri-santrinya saja. Tapi, kata dia, guru memiliki tugas bagaimana mentransformasi murid atau santrinya menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa, berintegritas, disiplin, kreatif, serta memiliki rasa ingin tahu.

“Mereka juga harus menjadikan murid atau santri menjadi pribadi yang terus bersemangat dan menghargai orang lain, sehingga selesai lah tugas guru. Dan inilah yang sesungguhnya sekali lagi tugas yang tidak mudah,” kata Kamaruddin.

Kamaruddin mengklaim, lembaga pendidikan Islam di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Madrasah misalnya, di Indonesia saat inj jumlahnya tidak kurang dari 52 ribu. Kemudian pondok pesantren yang jumlahnya mencapai 30 ribu, serta perguruan tinggi Islam yang jumlahnya juga banyak.

“Kita punya siswa-siswi madrasah sekitar 10 juta, mahasiswa sekitar satu jutaan, kita juga punya santri yang jumlahnya sudah 7 jutaan. Jadi jumlahnya sangat besar yang paling besar di dunia,” ujar Kamaruddin.

Saat ini, kata dia, inovasi-inovasi yang dikembangkan lembaga pendidikan Islam juga tidak kalah dari inovasi-inovasi yang dihasilkan lembaga pendidikan nasional. Hal ini menunjukkan, tingkat lembaga pendidikan Islam dengan lembaga pendidikan nasional di Indonesia setara. Lembaga pendidikan madrasah di Indonesia juga diakuinya paling modern di dunia.

TAGS: