//SDN Waru 05 Parung Ajarkan Peserta Didik Berbagi

SDN Waru 05 Parung Ajarkan Peserta Didik Berbagi

Salah satu kegiatannya dengan menyantuni anak yatim

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Sekolah Dasar Negeri (SDN) Waru 05 Kecamatan Parung, Bogor, Jawa Barat, giat melaksanakan kegiatan sosial di lingkungan sekolah. Salah satu kegiatannya dengan menyantuni anak yatim pada Jumat, (13/9).

Sebanyak 378 peserta didik dari kelas 1 sampai 6 berbaur di halaman sekolah beralaskan terpal biru dan koran untuk mengikuti rangkaian acara ‘Santunan Yatim’. Mengenakan seragam muslim dan muslimah putih-putih seluruh peserta didik dengan khidmat mengikuti acara yang dipandu Jaelani, SPd guru kelas IV.

Acara yang dimulai pukul 07.00 WIB diawali Yasinan (pembacaan surat Yaasin, doa dan tahlilan, red) yang dipimpin Safe’i guru kelas VI. Tampak hadir kepala SDN Waru 05, Boin Ibrahim, ketua komite Agan Suganda, dewan guru dan tokoh masyarakat, alim ulama, dan puluhan orang tua murid.

Boin Ibrahim, mengaku sangat bahagia bisa melaksanakan implementasi program pendidikan karakter yang dicanangkan Kemendikbud di sekolah yang baru dinahkodainya pada Mei 2018.

”Alhamdulillah, sejak saya memimpin sekolah ini penanaman nilai karakter berbagi dan kepedulian terhadap sesama terus kami tingkatkan,” ujar Boin seperti dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Jumat (13/9) siang.

Boin bersama dewan guru dan orang tua murid melalui komite sekolah memaksimalkan program teromol Jumat untuk program kurban. ”Sudah dua kali Idul Adha kami menitipkan satu ekor kambing kurban yang dananya dari infak setiap Jumat yang dihimpun dari seluruh murid,” jelasnya.

Santunan yatim, kegiatan sosial yang baru kali pertama di gelar di bawah kepemimpinan Boin. ”Alhamdulillah ini kegiatan santunan yatim pertama sejak saya diangkat sebagai KS di sekolah ini dengan menyantuni 18 anak yatim.

Lebih lanjut, Boin menjelaskan, mereka (anak yatim, red), mendapatkan bingkisan berupa mie instan masing-masing satu dus, alat tulis dan uang tunai Rp 150.000 yang dihimpun dari teromol Jumat.

Rangkaian acara ditutup dengan tausyiyah oleh ulama setempat. Ustadz Abdul Ghoni di daulat memberikan ceramah singkat tentang kedudukan anak yatim. ”Anak yatim jangan sedih, hakikat yatim itu orang yang tidak punya bapak. Tapi yang yatim hakikatnya orang yang tidak punya adab dan minim ilmu agama dan ilmu umum, ” jalas Ustadz Abdul Ghoni

Lebih lanjut Abdul Ghoni, mengatakan, kalau sudah punya adab dan berilmu hormati orang tua dan guru. ”Hormati gurumu sayangi teman, itulah tandanya kau murid budiman,” kata ustadz menirukan lagu.

”Faedah orang yang menyantuni anak yatim sama seperti jari tengah dan jari telunjuk. Begitu dekatnya. Nanti di surga bersama Rasulullah. Jadi kalian harus belajar yang rajin. Bulan ini adalah bulan Muharram, buat anak anak yang orang tuanya masih lengkap dan memiliki keluasan rezeki maka diperbolehkan menyantuni anak yatim,” paparnya.

Kebahagiaan pagi itu semakin lengkap dirasakan Fikri Fadhilah kelas V A dan Zalfah Zaefinah dari kelas VI B. Kedua kakak beradik yang sudah sejak kecil ayah mereka meninggal dunia, tidak bisa menyembunyikan raut muka bahagianya. ”Alhamdulillah, saya senang, karena saat ini banyak yang peduli,” kata Zalfah yang ini melanjutkan pesantren.

TAGS: