//Guru di Jabar Antusias Ikuti Pelatihan Metode Jari Aljabar

Guru di Jabar Antusias Ikuti Pelatihan Metode Jari Aljabar

Jari aljabar membuat siswa tertarik mengetahui lebih banyak tentang matematika.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Puluhan guru yang berada di Jawa Barat antusias untuk mengikuti pelatihan metode Jari Aljabar di Hotel Amarossa, Kota Bandung, Sabtu (12/10). Kegiatan yang dilaksanakan Harian Republika ini bekerja sama dengan Dede Supriyadi, seorang penulis dan konsultan jari algoritma.

Kegiatan dimulai sejak pukul 08.30 WIB hingga pukul 15.00 wib. Para peserta yang merupakan guru matematika ini mendapatkan materi tentang konsep dasar aritmatika, konsep dasar berhitung cepat metode jari aljabar, rahasia berhitung cepat dan mudah metode jari aljabar dan cara mengajar matematika yang menyenangkan.

Disela-sela acara, salah seorang guru MI Nurul Falah di Sukamenak, Kabupaten Bandung, Praja mengaku keikutsertaan pada acara pelatihan merupakan yang kedua kali. Ia mengungkapkan pada 2015 sudah pernah mengikuti kegiatan yang serupa.

“Alhamdulillah sekolah kami sudah mengaplikasikan metode ini (jari aljabar), teknik dasar dulu. Saya tertarik mengikuti lagi karena ada membahas perkalian,” ujarnya pada acara “Salamath, metode belajar berhitung semudah membalikan tangan”, Sabtu (12/10).

Selama menerapkan metode tersebut di sekolah, ia mengungkapkan siswa terangsang dan tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang matematika. Padahal sebelumnya, menurutnya, pelajaran matematika dianggap menyeramkan.

“Alhamdulilah, anak anak lebih semangat dan tidak terpengaruh oleh rumus-rumus. Selama ini kita hapalan. Alhamdulillah, terbantu dengan metode ini,” katanya.

Dirinya menjelaskan siswa saat belajar matematika didorong untuk menghafal rumus. Namun katanya hal tersebut justru akan membingungkan mereka. Sehingga, dengan menggunakan ilustrasi yaitu jari-jari tangan maka siswa bisa melihat lebih detail.

Salah seorang guru lainnya, Siti Sri asal SMK Taruna Bangsa, Bekasi mengungkapkan minat siswa SMK mempelajari matematika relatif kurang dan mempersepsikan sulit. Sehingga dampaknya mereka menjadi tidak bersemangat dan malas.

“Saya ikut ini karena saya pikir ada cara agar matematika biar mudah  (dipelajari),” ujarnya yang baru pertamakali mengikuti pelatihan. Dirinya mengaku pernah membaca tentang jarimatika dan menilai metode jari aljabar hampir mirip.

Namun menurutnya, metode jari aljabar relatif memiliki cara yang beda dan lebih mudah. Selain metodenya yang disampaikan menyenangkan juga terdapat simulasi atau permainan.

Hal senada disampaikan Endang Yuliani, Guru SMK Taruna Bangsa, Bekasi. Menurutnya, metode jari aljabar menjadi alternatif dalam mengajarkan matematika ke siswa. Dirinya mengaku jarang menggunakan metode tersebut sehingga harus memperbanyak praktek.

TAGS: