//Bela Negara, Gunakan Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Sehari-hari

Bela Negara, Gunakan Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Sehari-hari

JawaPos.com – Pemerintah memiliki semangat besar menjadikan bahasa Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Semangat itu dibuktikannya dengan lahirnya peraturan presiden (perpres) Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia.

Regulasi itu semakin menjadi penyemangat bagi pihak UPN Veteran Jakarta untuk menerapkan bahasa Indonesia di dalam kampus dan kehidupan sehari-hari. “Kami sebagai kampus bela negara tentu sangat senang. Setidaknya dengan perpres itu, Bahasa Indonesia tidak punah dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ungkap Rektor UPN Veteran Jakarta Erna Hernawati saat berkunjung ke redaksi JawaPos.com, Jakarta, Selasa (12/11).

Bagi Erna, bahasa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negara sendiri. Berbahasa Indonesia merupakan bentuk dari bela negara. Caranya dengan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mediumnya tidak sekadar sebagai bahasa tutur, tapi juga bahasa tulis. Konkretnya, UPN Veteran Jakarta saat menggelar seminar internasional. Sebelumnya sudah dilakukan, tetapi pada pengantar seminar. Belum pada pembahasan materi. “Ini terkendala ketika regulasinya baru turun. Sedangkan pesertanya dari luar negeri belum mengetahui ketentuan ini. Kami pun kurang siap menyediakan penerjemah,” imbuhnya.

Ke depan, imbuhnya, pihak UPN Veteran Jakarta mulai menyiapkan perangkat bahasa Indonesia ketika menggelar seminar internasional. Di antaranya materi yang disampaikan dalam bahasa Indonesia. Jika ada peserta dari luar negeri, nanti akan diantisipasi dengan ketersediaan penerjemah.

Bentuk kurang diimplementasikannya bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari belakangan sudah banyak contoh. Baik dalam bahasa tulis ruang publik maupun bahasa tutur. Di bahasa ruang publik yakni dalam papan nama di pusat belanja, hotel, atau gedung lainnya. Kini sudah banyak ditulis restroom ketimbang toilet atau kamar kecil. Begitu juga petunjuk arah. Masuk atau keluar. Kini lebih banyak ditulis in atau out. Padahal penerapannya belum tentu benar.

Papan reklame pun demikian. Pemasang reklame menggunakan pada iklannya bahasa asing. Hal itu membuat publik merasa di luar negeri.

Menurut Erna, penggunaan bahasa asing tidak salah. Hanya saja jangan sampai salah kaprah. Bahasa itu adalah identitas suatu bangsa. Jika bahasa nasional suatu bangsa itu kurang diterapkan, bisa jadi membuat anak bangsa ini kehilangan identitasnya.