//BRIN Lanjutkan Program Beasiswa Riset Pro

BRIN Lanjutkan Program Beasiswa Riset Pro

BRIN bertugas melakukan perencanaan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dipastikan akan melanjutkan program Research and Innovation in Science and Technology Project (Riset-Pro). Program ini dinilai berperan besar dalan meningkatkan ekosistem riset dan penyuplai peneliti di Indonesia.

“Riset Pro ini perlu dilakukan karena ini beasiswa khusus.  Menambah kualitas peneliti di Indonesia, memang secara jumlah kurang, secara kualitas memerlukan perbaikan,” ujar Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (3/12).

Pihaknya juga berencana untuk mengajak para peneliti yang berada di luar negeri untuk berkolaborasi dengan peneliti dalam negeri. Sebab, selama ini ia menilai para peneliti Indonesia belum bekerjasama untuk menghasilkan peneilitian yang maksimal.

“Mungkin tidak dalam lima tahun ini, tapi harus dipersiapkan dari sekarang dan harus dilead harus dipimpin, upayanya, tidak bisa mengandalkan individu atau lembaga secara sendiri-sendiri,” ujar Bambang.

Kemenristek/BRIN juga mendorong para lembaga penelitian untuk melakukan kolaborasi dalam sebuah penelitian. Dengan begitu, diharapkan dapat menghasilkan penelitian kelas dunia.

“BRIN ini nantu tugasnya melakukan perencanaan, pemrograman, pengangaran, sampai monitoring evaluasi, dan sharing infrastruktur untuk semua litbang yang ada di Indonesia,” ujar Bambang.

Diketahui, Riset Pro sendiri merupakan program untuk peningkatan kapasitas LPNK melalui program beasiswa, penyusunan kebijakan peningkatan kelembagaan dan pendanaan riset. Selain itu, ini merupakan upaya meningkatkan kapasitas dan potensi peneliti Indonesia untuk menguasai ilmu dan teknologi dengan cara dikirimkan ke beberapa negara yang dianggap memiliki kompetensi sesuai bidang yang diminati oleh penerima program.

Dalam Riset-Pro ada dua program sebagai fokusnya, yaitu beasiswa program gelar yang tersedia bagi SDM di kelembagaan iptek yang memiliki motivasi tinggi melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan doktor di berbagai perguruan tinggi terbaik di luar negeri, dan program nongelar, melakukan pelatihan dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Kelembagaan Iptek.

“Tentunya beasiswa ini kita butuhkan karena sebagian besar peserta kan ke luar negeri. Dan di luar negeri itu selain mendapatkan ilmunya, juga teknologi paling mutakhir,” ujar Bambang.