//Ranking PISA Indonesia Turun, Dipicu Salah Orientasi Pendidikan

Ranking PISA Indonesia Turun, Dipicu Salah Orientasi Pendidikan

JawaPos.com – Ranking Programme for International Student Assessment (PISA)2018 Indonesia kembali jeblok. Nilai indikator kemampuan membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan atau sains siswa turun. Tak pelak posisi Indonesia berada di urutan ke-72 di antara 77 negara.

Pemeringkatan PISA 2018 secara resmi diliris OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) Selasa (3/12). Berikut perbandingan skor PISA Indonesia untuk periode 2015 dan 2018. Skor kemampuan membaca turun dari 397 poin ke 371 poin. Kemudian kemampuan matematika turun dari 386 poin ke 379 poin. Lalu kemampuan sains turun dari 403 poin ke 396 poin. Akibat dari raihan itu, ranking PISA Indonesia turun dari urutan ke-72 menjadi ke-77.

Dosen sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal menyampaikan keprihatinan atas menurunnya nilai pengukuran PISA untuk Indonesia. Baginya penurunan itu merupakan cerminan dari orientasi kebijakan politik pendidikan dan metodologi pendidikan yang salah.

“Orientasi kebijakan politik pendidikan kita masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi ansih,” katanya saat ditemui usai workshop GSM untuk kepala sekolah dan pengawas se-Kabupaten Tangerang di Serpong Rabu (4/12). Dia mengatakan orientasi kebijakan pendidikan di Indonesia masih cenderung penyeragaman administrasi sistem pendidikan.

Rizal mengatakan seharusnya orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam mengajar. Kemudian membangun siswa sesuai dengan kodrad manusia secara optimal. Menurut Rizal kodrad manusia adalah rasa ingin tahu, imajinasi kreativitas, dan kolaborasi.

Dia menegaskan bahwa penilaian PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya UN. Tetapi mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan. Jadi ketika ada penurunan nilai PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh disalahkan.

Dia mencontohkan PISA mengukur kemampuan literasi siswa. Kemampuan ini bukan sekadar membaca. Tetapi memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual. Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar kritisnya.

Kemudian Rizal mengatakan metodologi pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya guru cenderung mengejar aspek administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya. Dia mengatakan hasil PISA yang terus menurun, kontras dengan dana pendidikan yang terus meningkat. Hilmi Setiawan (wan/JPC)

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Hilmi Setiawan