//Prediksi BIN dan Presiden Menuai Perbedaan
Prediksi BIN dan Presiden Menuai Perbedaan

Prediksi BIN dan Presiden Menuai Perbedaan

Surabaya, Aktual.id – Sejauh ini kurang lebih 6.600 orang tertular Covid-19 di Indonesia. Banyak orang bertanya kapan puncak dan berakhirnya virus tersebut. Sejumlah institusi negara telah melakukan penelitian terkait dengan hal tersebut. Pada 13 Maret 2020 lalu, Badan Intelijen Negara (BIN) memperkirakan puncak persebaran virus corona di Indonesia terjadi pada Mei 2020. Perhitungan tersebut disampaikan Deputi V BIN, Afini Noer berdasarkan hasil simulasi permodelan pemerintah terhadap data pasien Covid-19.

Dilansir dari Kompas.com, Ia mengatakan, masa puncak penyebaran virus corona kemungkinan terjadi dalam 60–80 hari setelah kasus pertama terkonfirmasi. BIN memperkirakan puncak akan terjadi pada Juli 2020. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo. Doni menyebutkan, perhitungan puncak pada Juli didasarkan data dari Badan Intelijen Negara (BIN).

Berdasarkan data BIN tersebut, diperkirakan pada Juli 2020, penyebaran Covid-19 di Tanah Air akan mencapai 106.287 kasus. Merujuk data perkiraan tersebut, kasus Covid-19 akan mengalami peningkatan dari akhir Maret sebanyak 1.577 kasus, akhir April sebanyak 27.307 kasus, 95.451 kasus di akhir Mei dan 105.765 kasus di akhir Juni.

Sedangkan hal berbeda diungkapkan Presiden Jokowi yang meyakini bahwa pandemi Covid-19 ini akan berakhir pada akhir tahun 2020. Menurut Jokowi, banyak sektor industri yang terimbas oleh wabah ini. Imbas yang paling besar dampaknya yaitu sektor pariwisata. Dia meyakini, sektor pariwisata yang kini lemah akibat pandemi Covid-19 akan berkembang pesat. Pasalnya, masyarakat selama masa pandemi beraktivitas di dalam rumah akan pergi berwisata setelah Corona berakhir.

Sumber Foto : katadata.co.id

Jika benar pandemi Covid-19 akan selesai pada akhir tahun 2020, maka diperkirakan banyak pengusaha yang akan mengalami kerugian, dari pengusaha kecil hingga besar. Perhotelan misalnya, manajemen telah menutup hotel, tetapi mereka harus tetap membayar gaji karyawannya. Hal tersebut akan membuat manajemen rawan gulung tikar, mengingat jika akhir pandemi benar selesai pada akhir tahun.

Hal serupa dirasakan oleh lapisan masyarakat yang lain, seperti ojek online. Dengan wabah Covid-19 ini membuat orang takut untuk bepergian dan memilih tinggal di rumah. Tentu dengan fenomena tersebut, pengemudi ojek online terkena imbasnya. Pendapatan mereka menurun drastis tidak seperti dahulu. Biasanya, mereka meraih keuntungan minimal Rp. 100.000 per hari, tetapi dengan adanya virus corona, hanya sekitar Rp. 50.000.

Meskipun prediksi Covid-19 akan selesai di akhir tahun 2020, pemerintah terus berupaya untuk menekan virus ini dengan melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat menghentikan angka positif wabah ini.