//Balada Mahasiswa Semester Akhir Saat COVID-19?
Balada Mahasiswa Semester  Akhir Saat  COVID-19?

Balada Mahasiswa Semester Akhir Saat COVID-19?

Penyebaran virus corona yang begitu cepat membuat pemerintah menyarankan tindakan social distancing atau jaga jarak saat berada dikeramaian. Hal ini dilakukan guna meminimalisir penyebaran virus yang kian merebak, serta untuk memutus rantai penyebarannya.

Banyak kegiatan yang akhirnya harus dilakukan di rumah, mulai dari pekerjaan hingga sistem kegiatan belajar mengajar. Dengan menggunakan beberapa aplikasi pendukung, kegiatan tersebut masih bisa dilakukan tanpa melanggar himbauan dari pemerintah. Segala bentuk aktivitas termasuk di perguruan tinggi juga berubah, saat ini banyak layanan kemahasiswaan, sistem belajar-mengajar hingga syarat kelulusan juga berbeda.

Skripsi merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh mahasiswa untuk lulus dan menyelesaikan pendidikan di bangku perguruan tinggi.  Pengerjaan skripsi dilakukan melalui berbagai macam tahap. Meskipun setiap jurusan memiliki tahapan yang berbeda, namun tahapan-tahapan tersebut memiliki kesamaan, seperti tahapan presentasi atau yang dikenal dengan seminar dan bimbingan skripsi.

Bagaimanakah sistem seminar proposal pada masa pandemi COV-19 ini?

Sistem seminar biasanya dilakukan dengan tatap muka di dalam sebuah ruangan yang dihadiri oleh dosen pembimbing, penguji, dan audiens, kini juga berbeda, saat ini banyak seminar yang berpindah media melalui video call. Salah satu mahasiswa yang telah melalui tahapan ini adalah Dhimas Putra Setyawan, seorang mahasiswa Teknik Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur angkatan 2016. Ia baru saja melakukan seminar proposal pada tanggal 27 Maret 2020.

Seminar proposal merupakan tahapan awal dalam penyelesaian skripsi di jurusannya. Ia mengaku bahwa metode daring ini dinilai lebih efektif dibandingkan dengan tatap muka seperti biasa. Apalagi pada revisi secara online yang membuat lebih semangat dalam mengerjakan. Sebab, pengerjaan dapat langsung dilakukan setelah menerima pesan mengenai hal-hal yang harus direvisi. Waktu dilakukannya bimbingan juga lebih fleksibel dan tetap pada jam kerja. Suasana tentu saja sangat berbeda dengan melakukan seminar secara tatap langsung yang membuat perasaan lebih berdebar. Dimana mahasiswa dapat melihat secara langsung sorot mata penguji.

 ”Lebih suante buangett. Seminarnya malah sante. banyak guyon (candaan) tipis-tipis disela seminar. Ya mungkin karna pandemi, kita ya butuh hiburan”, ujar Dhimas.

Apakah dengan begitu sudah dirasa maksimal?

Namun, hal yang dirasa kurang bagi Dhimas adalah permasalahan dalam memahami bobot materi. Baginya, proses pemahaman ini lebih enak dilakukan secara tatap langsung. Dibalik kemudahan yang dirasakan saat seminar secara daring ini, Dhimas mengaku merasa rindu dengan teman-temannya.

Seperti telah menjadi budaya di Indonesia, sangat umum bagi mahasiswa yang telah melakukan kegiatan seminar, hadir teman dan kerabat yang memberikan bingkisan serta ucapan selamat, kali ini Dhimas tidak dapat merayakan hal tersebut.

Namun tidak semua mahasiswa juga memberikan respon yang sama seperti halnya yang dirasakan oleh Dhimas. Beberapa mahasiswa mengeluh dengan pembimbing yang memberikan respon yang lama saat melakukan bimbingan. Biasanya, pembimbing ini merupakan beliau dengan usia lanjut yang kurang cakap dengan perkembangan teknologi. Beberapa halangan lain yang terjadi saat kegiatan seminar juga berupa koneksi yang kurang stabil sehingga kegiatan video call dapat mengalami masalah.