//Kemendikbud Diminta Monitoring dan Evaluasi Belajar Online
Kemendikbud Diminta Monitoring dan Evaluasi Belajar Online

Kemendikbud Diminta Monitoring dan Evaluasi Belajar Online

JawaPos.com – Pembelajaran online di tengah wabah Covid-19 sudah berjalan sekitar dua bulan. Anggota Komisi X (membidangi pendidikan) DPR Ferdiansyah meminta Kemendikbud melakukan monitoring dan evaluasi. Untuk mengetahui seberapa efektif pembelajaran dari rumah itu.

Ferdiansyah menjelaskan evaluasi dan monitoring itu perlau dilakukan secara menyeluruh. ’’Mulai dari jenjang PAUD sampai perguruan tinggi,’’ katanya dalam seminar Edutalk bertema ‘Efektivitas Pembelajaran Daring di Tengah Pandemi Covid-19’ Senin (18/5). Politisi Partai Golkar itu menuturkan evaluasi dan monitoring itu perlu untuk pembenahan ke depan.

Dia menjelaskan, saat ini Balitbang Kemendikbud jangan hanya melakukan penelitian dan kajian yang ecek-ecek saja. Menurut Ferdiansyah, penerapan belajar online tentu sangat beragam. Sebab pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar saat ini ada yang sudah berlari kencang. Tetapi juga ada yang masih tertataih-tatih. Kemudian juga ada yang menganggap dengan sikap masa bodoh atau bahkan merasa sekarang waktunya beristirahat dari kegiatan pembelajaran.

Menurut Ferdiansyah, pelaksanaan pembalajaran online yang berbasis teknologi, belum bisa dilaksanakan seluruh sekolah. Sebab jangankan akses internet, di beberapa titik masih ada sekolah yang belum teraliri listrik. Dia mengungkapkan ada 6.604 unit SD yang tidak memiliki fasilitas listrik.

Kemudian ada 817 unit SMP dan 86 unit SMA yang juga tidak mendapatkan pasokan listrik. Data lainnya sebanyak 33.227 sekolah sudah tersambung listrik, namun belum tersambung internet. ’’Kalau listrik saja belum masuk, apalagi layanan internet,’’ tuturnya.

Secara garis besar Ferdiansyah mengatakan, pemerintah perlu membuat cetak biru (blue print) pendidikan. Nah di dalamnya harus tertuang skenario proses pembelajaran dan mitigasinya jika terjadi kondisi darurat. Baik itu karena bencana alam maupun wabah penyakit seperti sekarnag ini.

Dia mengatakan, apapun kelemahan dalam belajar online saat ini, guru, siswa, maupun orangtua tidak boleh disalahkan. Termasuk ketika banyak tudingan bahwa banyak pihak yang tergagap-gagap menjalankan pembelajaran online. Karena memang tidak ada panduan baku yang dibuat Kemendikbud. Dia berharap kondisi ini harus jadi pelajaran penting. ’’Semoga ke depan tidak tergagap-gagap lagi,’’ pungkasnya.

Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Ismah mengatakan saat ini adalah tantangan global. ’’Bukan hanya di Indonesia,’’ tuturnya. Untuk itu semua pihak sekarang harus saling mendukung dan memberikan motivasi.

Dia mengatakan, yang paling terkena dampak wabah Covid-19 ini adalah sektor ekonomi, pariwisata, bisnis, dan dunia pendidikan. Ismah mencontohkan dirinya selama dua bulan ini harus merangkap aktivitas. Mulai dari menjalankan peran sebagai dosen, guru bagi anak-anaknya yang masih SD, sampai menggantikan tugas asisten rumah tangga (ART). ’’Apalagi di bulan Ramadan seperti ini, tahu-tahu sudah sore mau buka puasa,’’ jelasnya