//Bahagia itu Mencerdaskan, Rahasia Mengajar dengan Hati
Bahagia itu Mencerdaskan, Rahasia Mengajar dengan Hati

Bahagia itu Mencerdaskan, Rahasia Mengajar dengan Hati

Paradigma Bahagia Itu Mencerdaskan sejalan dengan program Merdeka Belajar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tenaga Pendidik anak usia dini adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan, melaksanakan  proses  pembelajaran,  dan  menilai  hasil  pembelajaran, serta  melakukan  pembimbingan,  pengasuhan, perawatan, dan  perlindungan  anak didik. 

“Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Guru TK/PAUD harus memenuhi kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan sesuai dengan Permendikbud No. 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional PAUD. Pada bab VII pasal 24 disebutkan bahwa pendidik anak usia dini terdiri dari guru PAUD, guru pendamping dan guru pendamping muda,” kata praktisi pendidikan, Eka Putri Handayani dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Kamis  (21/5).

Pengurus Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) PGRI DKI Jakarta itu menambahkan, guna mewujudkan paradigma “Bahagia itu Mencerdaskan,” Kepala Sekolah dan Tenaga Pendidik Taman kanak-kanak (TK) / PAUD hendaklah mampu memaksimalkan berbagai sumber daya (resources). Tenaga Pendidik dan kepala sekolah hendaklah tertanam dalam dirinya 10 aspek Paradigma Bahagia Itu Mencerdaskan. Tenaga Pendidik dan Kepala Sekolah hendaklah menjadi (1) Pribadi yang menyenangkan;  (2) Fokus pada Kebahagiaan Anak;  (3) Memahami dengan baik bahwa otoritas penuh pada anak;  (4) Guru selalu siap memfasilitasi, dan (5) Mendidik dan membantu anak agar bisa sebagai Pemimpin.

Selain itu,  (6) Memberikan keteladanan dan pembiasaan (misalnya melalui mendongeng);  (7) Menciptakan suasana rileks dan menyenangkan;  (8) Guru adalah Kurikulum yang berjalan; (9) Guru hendaklah selalu membangun pola pikir dan membuka horizon pengetahuannya;  dan (10) Guru hendaklah selalu adaptif, memiliki budaya inovatif dari pengalaman belajar yang selama ini digelutinya. 

“Selain itu, guru yang menerapkan paradigma Bahagia Itu Mencerdaskan mampu memanfaatkan segala sumber daya yang ada dan dekat dengan lingkungan sekolah, keluarga dan menjadikan potensi unik anak sebagai dasar dalam menyediakan berbagai pelayanan kepada setiap peserta didik, tanpa kecuali,” kata Eka yang juga Pengurus Yayasan Alifa Permata Bunda Jakarta, dan Yayasan Perguruan Al-Iman Bogor. 

Ia mengungkapkan, program Bahagia itu Mencerdaskan telah dilaksanakan di KB-TK Islam Alifa dan TKIT Al-Iman Bogor.  “Paradigma Bahagia Itu Mencerdaskan merupakan langkah baru dalam memahami esensi belajar yang sesungguhnya. Bahwa peserta didik hanya bisa belajar dengan baik bilamana dalam suasana hati, iklim belajar dan dukungan lingkungan yang membahagiakan. Dengan belajar dalam situasi bahagia maka akan berdampak pada kecerdasan peserta didik, baik kecerdasan kognitif, afektif maupun psikomotoriknya,” tuturnya.

Ia menambahkan, paradigma Bahagia Itu Mencerdaskan bertalian erat dengan program Merdeka Belajar yang digagas Mendikbud Nadiem Makarim. “Keduanya saing mendukung dan berangkat dari satu paradigma bahwa well-being merupakan prasyarat utama dalam sebuah proses pembelajaran. Keduanya menganut pembelajaran yang humanis, adaptif, kreatif dan efektif,” paparnya.

Menurut Eka, kondisi orang tua yang heterogen mutlak membutuhkan sentuhan yang berbeda dari para Tenaga Pendidik dan Kepala Sekolah pada anak-anaknya. Eksistensi guru Taman Kanak-kanak benar-benar sebagai pengganti orang tua. “Di sinilah pentingnya paradigma Bahagia Itu Mencerdaskan,” ujarnya.

Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan seperangkat alat dan cara untuk meningkatkan kapasitas Tenaga Pendidik dan Kepala Sekolah TK/PAUD.   Penguatan Kapasitas Kepala Sekolah dan Tenaga Pendidik TK/PAUD ini dimaksudkan agar para peserta nantinya benar-benar mampu memahami dan menggerakkan para pendidik TK/PAUD lainnya. “Sehingga pada akhirnya menjadi pendidik TK /PAUD Profesional yang mampu mengembangkan kompetensi literasi dan numerasi siswa dengan baik,” kata Eka.

Dengan demikian, kata dia,  dalam proses pembelajaran siswa mendapatkan pembelajaran sesuai dengan tahap perkembangannya, dengan media-media pembelajaran yang kreatif dalam suasana yang menyenangkan. “Sehingga,  sekolah menjadi tempat bermain yang menyenangkan dan dapat mengembangkan 6 Aspek perkembangan anak secara maksimal,” paparnya.

Ia mengemukakan, guna tercapainya tujuan “Bahagia Itu Mencerdaskan” di sekolah-sekolah TK/PAUD, diperlukan lebih banyak guru dan kepala sekolah yang benar-benar memahami dengan baik paradigma itu. Hal ini akan berimplikasi pada program Merdeka Belajar. 

Orang tua murid memahami hakikat pendidikan anak usia dini, memahami enam aspek perkembangan anak, sehingga bisa bersinergi dengan guru dalam upaya memberikan pendidikan yang patut dengan mengedepankan kebahagiaan anak. Sekolah mengadakan kegiatan Morning tea (parenting) setiap bulan, yang dipandu oleh kepala sekolah yang sudah terlatih dan sudah memiliki kurikulum Morning tea.

Selain itu, Sekolah-sekolah TK/PAUD memiliki media pembelajaran yang banyak, kreatif tanpa harus membeli mahal. Guru-guru punya Koleksi  Aktivitas-aktifitas anak yang menyenangkan sesuai tema, dan memiliki skill menciptakan kegiatan-kegiatan yang mengedukasi dan menyenangkan. “Guru tidak kesulitan lagi mencari gerak dan  lagu  anak sesuai tema, bahkan dapat mencipta lagu anak sederhana,” tuturnya.

Pada akhirnya, kata Eka, dampak akhir program Bahagia Itu Mencerdaskan adalah terciptanya suasana yang bahagia di sekolah. “Siswa menemukan kebahagiaan sesuai dengan usia tumbuh-kembangnya, bermain tapi mereka sebenarnya sedang belajar. Siswa didik pada TK/PAUD akan senang dan bahagia berada di sekolah dan di rumah. Mendapatkan pendidikan yang layak sesuai usia mereka. Didampingi guru-guru yang bersahabat dan menyenangkan,” papar Eka Putri Handayani.

TAGS: