//KKN UMY Berdayakan Kelompok Difabel di Nanggulan Kulon Progo

KKN UMY Berdayakan Kelompok Difabel di Nanggulan Kulon Progo

Kedua koordinator memunculkan gagasan membuat usaha produksi makanan kecil.

REPUBLIKA.CO.ID,KULON PROGO — Semangat kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat diusung oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Salah satunya, di Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. 

Kelompok 074 yang menjalankan KKN di Nanggulan memfokuskan programnya pada pendampingan dan pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil bersama mitra masyarakat setempat. Mereka menggandeng Kelompok Ikhlas yang sebagian anggotanya adalah rekan difabel.

Kelompok Ikhlas merupakan unit usaha mikro dengan usaha produksi makanan kecil berupa keripik Manggleng. Menurut ketua kelompok KKN, Ragil Satriya, program pendampingan meliputi branding product dan strategi perluasan pemasaran melalui media daring.

“Hal ini dilakukan karena produk keripik Manggleng ini belum mempunyai branding, belum terkemas dengan baik, serta masih mengandalkan pemasaran konvensional,” kata Ragil lewat pernyataan resminya yang diterima Republika.co.id, Kamis (27/8).

Kelompok Ikhlas yang berlokasi di Janti Kidul, Jatisarono, Nanggulan, didirikan pada April 2020, sebulan setelah pandemi Covid-19 merebak di Tanah Air. Awalnya, kelompok Ikhlas terdiri dari beberapa orang yang mengalami dampak akibat pandemi.

Beberapa di antara mereka ada yang diberhentikan dari tempatnya bekerja, atau mempunyai usaha rumahan lantas mengalami kelesuan pasar. Ada pula yang tadinya merupakan buruh serabutan dan kian sulit untuk mendapatkan pekerjaan harian.

Sejumlah warga tersebut kemudian diorganisir oleh Sri Nataliwati dan Veronica Wahyu Utari. Kedua koordinator memunculkan gagasan membuat usaha produksi makanan kecil yang memanfaatkan bahan lokal, yakni keripik Manggleng yang terbuat dari singkong.

Kini, kelompok Ikhlas terdiri dari 25 orang, dengan kegiatan utama produksi dan pemasaran keripik, serta kegiatan sampingan membuat kerajinan anyaman. Dosen Pembimbing Lapangan KKN UMY Sugeng Riyanto, merespons baik kolaborasi tersebut.

Dia menyoroti inisiatif mahasiswa yang mengoptimalkan branding dan pemasaran melalui media daring. “Masa pandemi ini tetap dilakukan dengan memanfaatkan ketersediaan teknologi, sehingga muncul program KKN berbasis pada IT,” kata dia.

Menurut Sugeng, masa pandemi bukan halangan bagi UMY untuk terus mengabdi kepada masyarakat dan bangsa. Pada periode Juli hingga Agustus 2020, UMY menerjunkan 2.700 mahasiswa untuk menjalankan program KKN di seluruh Indonesia.

TAGS: