//Unisba Beri Pelatihan Penataan Ruang Desa 
Unisba Beri Pelatihan Penataan Ruang Desa 

Unisba Beri Pelatihan Penataan Ruang Desa 

Kenyataan di lapangan banyak desa belum memiliki rencana tata ruang.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Sebagai langkah dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi–dalam hal ini Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)–Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Unisba menyelenggarakan PKM berupa Pelatihan Penataan Ruang Desa Secara Partisipatif. Salah satu desa yang dijadikan lokasi PKM adalah Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. 

Kegiatan PKM ini diketuai oleh Lely Syiddatul Akliyah, dengan anggota yang terdiri dari Hilwati Hindersah, Hani Burhanudin, Dadan Mukhsin, serta bekerjasama dengan mahasiswa bimbingannya. 

Menurut Ketua Tim Peneliti Lely Syiddatul Akliyah, PKM ini terselenggara sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) dan didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unisba dengan bidang unggulan optimasi pemanfaatan sumber daya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan. 

“Dimensi penting dalam Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (SDA-LH) dalam kegiatan ini sesuai renstra LPPM yakni penataan ruang. Sedangkan isu strategisnya adalah pemberdayaan masyarakat lokal,” kata Lely, Sabtu (17/10).

Lely mengatakan, latar belakang terselenggaranya PKM ini merujuk kepada UU No 6 tahun 2014 tentang Desa yang menuntut desa untuk mampu menyusun rencana tata ruang agar dapat diturunkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

Namun, menurutnya, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak desa, salah satunya Desa Kiangroke yang belum memiliki rencana tata ruang.  Akibatnya, kata dia, tidak sedikit RPJMDes yang disusun desa-desa terkesan hanya berdasarkan keinginan kelompok masyarakat tertetu yang memiliki power. Sehingga dalam menyusun RPJMDes kurang memperhatikan kecenderungan perkembangan ruang desa di masa yang akan datang.

“Buktinya, saat ini, telah terjadi banyak perubahan penggunaan lahan, dari lahan pertanian menjadi lahan terbangun, diantaranya untuk kegiatan permukiman serta perdagangan dan jasa,” katanya.

Untuk itu, Lely beserta timnya terdorong untuk melaksanakan PKM ini dengan tujuan teridentifikasinya potensi dan masalah desa, terpetakannya potensi dan masalah desa, serta tersusunnya rencana tata ruang desa yang partisipatif

Lely menjelaskan, kegiatan pelatihan yang diikuti anggota Karang Taruna dan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kiangroke ini diawali dengan penyampaian materi Proses Penataan Ruang Desa, Pendekatan Partisipatif dan Stakeholder Tata Ruang Desa, dan Pemetaan Potensi dan Masalah yang disampaikan oleh semua anggota tim PKM.

Dipertemuan ini, kata dia,  selain refresh materi, dilaksanakan pula identikasi potensi dan masalah serta pengenalan alat survey. “Pada pertemuan ini adalah apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh masyarakat dalam proses penataan ruang desa. Peserta diberikan contoh kasus apa yang harus dilakukan dan akan dipraktekkan pada pertemuan ketiga,” katanya.

Kemudian, kata dia, pada pertemuan ketiga tim dan peserta melaksanakan praktek ke lapangan untuk menentukan potensi dan masalah Desa Kiangroke di RW 10 sebagai contoh dengan melakukan pengamatan langsung dan pemotretan di lapangan serta menentukan lokasi secara detail dengan menggunakan alat Global Positioning System (GPS). 

“Kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi untuk merumuskan solusi yang dihasilkan,” katanya.

PKM ini, kata dia, memperoleh output yang harus dilakukan oleh pemerintah Desa Kiangroke dalam mengatasi masalah dan dapat memanfaatkan potensi desanya. Antara lain, menghasilkan program kegiatan adanya pembatasan/penataan PKL; wisata terpadu; bekerjasama dengan desa lain yang teraliri sungai untuk dijadikan arung jeram; membuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDES); penyediaan tempat sampah dan peraturan larangan buang sampah; penyuluhan penggunaan pupuk kandang dari ternak yang dibudidayakan oleh pesantren; serta upaya pemindahan lokasi peternakan untuk berjarak dengan perumahan. Sementara itu, peta Batas Administrasi Desa Kiangroke sudah dikerjakan dengan bantuan tim PKM dan Mahasiswa Prodi PWK Unisba.

Menurut Lely, pelaksanaan PKM ini sempat mengalami kemunduran dan pemangkasan waktu karena pandemi Covid-19 yang melanda. Namun, kata dia, hal ini tidak mengurangi salah satu kualitas yang dihasilkan dari produk keluaran PKM ini. Yakni, laporan yang terbit di jurnal nasional dan akan diseminarkan di Sosial and Humanities Research Symposium (SoRes) Unisba 2020 mendatang serta dipublikasikan dalam prosiding internasional. Selain itu, PKM ini pun dimanfaatkan oleh anggota yang berstatus mahasiswa untuk dijadikan sebagai tugas akhir.