//Fasilitasi Industri dan Perguruan Tinggi Demi Menciptakan Inovasi

Fasilitasi Industri dan Perguruan Tinggi Demi Menciptakan Inovasi

JawaPos.com – Peluang terhadap pengembangan reka cipta di bidang teknologi harus direspons dengan cepat sebelum diambil oleh pihak-pihak lain, khususnya industri luar negeri. Melalui kolaborasi Research and Development (RnD) antara perguruan tinggi dan industri, efisiensi biaya serta optimalisasi SDM dapat dilakukan oleh perguruan tinggi, baik dosen maupun mahasiswa.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam mengatakan industri otomotif memiliki mata rantai yang sangat baik pada aspek produksi maupun pengembangan RnD. Ke depan, pemerintah perlu mendorong pengembangan kendaraan listrik.

“Dukungan pemerintah sangatlah penting, mengingat kemajuan perekonomian bangsa saat ini dan kedepannya sangat bergantung pada reka cipta,” ucap Nizam.

Salah satu dukungan yang dilakukan pemerintah adalah menciptakan Merdeka Belajar Episode 6 terkait pendanaan yang salah satu programnya adalah matching fund. Dalam matching fund, terdapat platform Kedaireka untuk memfasilitasi industri dan perguruan tinggi berkolaborasi.

“Hadirnya platform Kedaireka didorong atas dasar keprihatinan terhadap banyaknya reka cipta perguruan tinggi yang belum dapat terhilirisasi ke industri, serta sebaliknya industri yang lebih nyaman dengan beragam reka cipta yang datang dari luar negeri,” tambahnya.

Sesditjen Dikti Paristiyanti Nurwardani menjelaskan bahwa industri otomotif telah menyumbang 60 persen dari total PDB nasional berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Walaupun sejak pandemi Covid-19 ini, industri otomotif menjadi salah satu sektor yang terkena dampak penurunan pada kuartal pertama tahun 2020. Namun, ia meyakini jika industri otomotif dapat bangkit kembali apalagi jika bersama-sama menjalin kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam proses RnD.

Dengan adanya dukungan pendanaan pemerintah melalui tiga skema pendanaan seperti insentif tambahan untuk mencapai 8 IKU, matching fund, serta competitive fund, maka industri dapat mengefisiensi biaya dengan ketentuan dukungan pembiayaan kemitraan satu banding satu (1:1).

“Misalnya saja biaya RnD salah satu industri otomotif sebesar Rp 10 miliar, maka jika berkolaborasi bersama perguruan tinggi, akan diberi kesempatan pendanaan kemitraan sebesar Rp 5 miliar sebagaimana ketentuan matching fund pada platform kedaireka,” ujarnya.

Terakhir, Nizam menyampaikan apresiasi kepada industri dan para inventor yang telah menunjukkan kesungguhannya dalam mewujudkan kedaulatan teknologi dan reka cipta di Indonesia. “Mari memulai langkah kecil bersama-sama dari sekarang, agar kita mampu membawa Indonesia yang lebih maju,” pungkasnya.