//Siswa SMA Muhammadiyah 4 Depok Luncurkan Buku
Siswa SMA Muhammadiyah 4 Depok Luncurkan Buku

Siswa SMA Muhammadiyah 4 Depok Luncurkan Buku

SMA Muhammadiyah 4 Depok menjadi pelopor literasi yang sangat luar biasa.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK – SMA Muhammadiyah 4 Kota Depok, Jawa Barat, meluncurkan buku bertajuk Berguru pada Takdir secara virtual, Selasa (24/11). Buku yang merupakan karya 40 siswa SMA Muhammadiyah 4 Depok ini berisi cerpen dan esai yang mengangkat tema seputar pembelajaran dari rumah saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada masa pandemi Covid-19.

Peluncuran buku yang digelar secara daring tersebut dihadiri oleh siswa-siswi SMA Muhammadiyah 4 Depok, terdiri atas 95 siswa, 40 penulis, serta bapak dan ibu guru yang turut berperan menjadi editor.

Ketua Gerakan Literasi SMA Muhammadiyah 4 Depok, Ali Wartadinata, menyampaikan, ide penulisan buku ini berawal dari program gerakan literasi sekolah yang sudah berjalan sejak tiga tahun yang lalu di SMA Muhammadiyah 4 Depok. 

“Sejak tiga tahun yang lalu, kegiatan membaca buku secara khusus membuat resonansi buku dan memaparkan hasil bacaan ini adalah kegiatan yang rutin dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 4 Depok, serta mengajarkan atau membimbing peserta didik untuk menulis,” ujarnya dalam peluncuran virtual buku Berguru pada Takdir, Selasa (24/11).

Ide yang kedua, kata dia, selama pembelajaran dari rumah saat PJJ pada masa pandemi Covid-19, banyak hal yang sering disampaikan orang tua dan siswa tentang keadaan dan suasana pembelajaran di rumah.

“Maka, kemudian selama satu bulan penuh di setiap hari Selasa peserta didik diberikan kesempatan dan waktu untuk membuat tulisan.  Baik cerpen berdasarkan peristiwa dan kejadian sehari-hari saat pembelajaran dari rumah dan juga esai berkaitan dengan pandemi Covid-19 dan karantina di rumah saat pembelajaran di semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021,” ungkap sekretaris PD Muhammadiyah Kota Depok ini dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Dia menceritakan, dari 156 peserta didik yang ada di SMA Muhammadiyah 4 Depok terhimpun sebanyak 75 naskah. Kemudian setelah naskah itu di diseleksi dan diteliti, terpilihlah 40 naskah. “40 naskah ini kemudian diedit oleh Ibu Istiqomah, Ibu Rabiatul Awaliyah, dan Ibu Risyca Nova Pudjiastuti,” ujar Ali.

Ali juga berharap buku yang sudah dihasilkan ini menjadi satu catatan peradaban di masa pandemi Covid-19 dan budaya literasi ini terus berlanjut. “Saya berharap di semester yang akan datang kegiatan ini bisa terus berlangsung dan bisa dilaksanakan agar nantinya tidak hanya satu sekolah memiliki satu  buku tetapi juga setiap kelas memiliki satu  karya buku dari tulisan bersama-sama peserta didik,” katanya.

Peluncuran buku Berguru pada Takdir ditandai dengan penyerahan buku secara simbolis kepada Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok H Idrus Yahya dan Wakil Ketua PDM Bidang Dikdasmen H Ahmad Yusuf.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok sangat mengapresiasi karya peserta didik SMA Muhammadiyah 4 Depok ini. “Ini adalah buku pertama yang dihasilkan oleh peserta didik tingkat SMA Muhammadiyah di Kota Depok. Maka, SMA Muhammadiyah 4 Depok menjadi pelopor literasi yang sangat luar biasa,” kata H Idrus Yahya.

Dalam kesempatan itu, dua orang perwakilan penulis menyampaikan pesan dan kesan. Salah satu penulis yang merupakan siswa kelas XI, Hana Fitriani, menyampaikan rasa bangga dan senang telah turut ikut serta dalam penerbitan buku ini, meskipun sempat merasa tidak percaya diri.

“Awalnya saya takut karena tulisan masih belum bagus dan perbendaharaan kata masih sedikit. Jadi saya insecure, cuma saya yakin aja, saya tulis apa yang saya rasain apa yang saya alamin. Saya jadi lebih banyak belajar untuk menuangkan apa yang saya rasakan, apa yang ingin saya ungkapkan,” ujar Hana.

Sementara itu, siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 4 Depok, Zaafarani, menjelaskan mengenai judul esainya yang terpilih menjadi judul buku ini. Ia mengungkapkan, pada dasarnya keadaan seperti ini merupakan takdir dari Allah SWT. “Jadi, memahaminya kayak berguru, belajar pada keadaan gitu. Jadi, dari situ saya mempelajari keadaan,” ujarnya.

Zaafarani pun merasa kaget karena judul esainya dijadikan judul buku ini. “Saya nggak ngira sih, sederhana banget judulnya, tapi ternyata terpilih,” katanya.

TAGS: