//MPR Ingatkan Bahaya Learning Loss di Masa Pandemi Covid-19
MPR Ingatkan Bahaya Learning Loss di Masa Pandemi Covid-19

MPR Ingatkan Bahaya Learning Loss di Masa Pandemi Covid-19

JawaPos.com – Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu hal krusial yang harus diperhatikan di era pandemi saat ini. Hal ini ia utarakan saat memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei kemarin dalam Diskusi Empat Pilar MPR yang digelar di Media Centre, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (3/5) kemarin.

Dalam diskusi yang bertema Hari Pendidikan Nasional dan Tantangan Merdeka Belajar di Tengah Pandemi itu, Rerie, sapaan akrab Lestari, menuturkan  bahwa partisipasi pendidikan di negara ini masih rendah. Meski diakui ada peningkatan, namun hal itu masih meninggalkan permasalahan.

Sebagai negara yang geografisnya luas, bentangan wilayah yang ada merupakan tantangan tersendiri bagi keberlangsungan pendidikan di Tanah Air. Rerie mengatakan, selain masih rendahnya tingkat partisipasi pendidikan, pemahaman tentang pendidikan dan mengenal kebudayaan juga belum maksimal.

“Pandemi membuat gerak masyarakat terbatas sehingga proses belajar tak lagi di sekolah”, tuturnya.

Sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang saat ini diterapkan untuk menekan penularan pun masih menemui banyak kendala terutama masalah jaringan internet. “Tak semua siswa bisa belajar lewat PJJ secara ideal. Padahal, ada 60 juta siswa yang saat ini sedang belajar di rumah,” ujarnya.

Akibat pandemi yang berlangsung hampir dua tahun dan kapan berakhir semua tidak tahu membuat Lestari khawatir kita akan berhadapan dengan learning loss. Rerie menyebut, hal tersebut terjadi sebagai dampak kesehatan mental yang menimpa para siswa yang frustrasi belajar di rumah. “Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah,” tegasnya.

Rerie pun menyimpulkan bahwa dalam masa pandemi ini, pemerintah belum bisa menerapkan ekosistem pembelajaran yang ideal. “Masih banyak warga yang belum memperoleh kesempatan belajar. Ini yang perlu mendapat perhatian,” tambahnya.

Timbulnya learning loss juga diakui oleh Anggota MPR Fraksi PKB, Syaiful Huda, yang juga menjadi narasumber dalam diskusi itu. Dalam kunjungan kerja ke berbagai daerah dan berbicara dari hati ke hati dengan kepala sekolah, Syaiful mengatakan bahwa ternyata efektifitas PJJ hanya 30 persen.

“Rendahnya efektifitas PJJ kita maklumi sebab pendidik dan siswa masih beradaptasi dengan teknologi”, ungkapnya.

Syaiful Huda pun berharap kepada Mendikbudristek Nadiem Makarim agar memanfaatkan kondisi yang ada menjadi momentum untuk bangkit. “Misalnya dengan menerapkan pendidikan yang berbasis pada media digital,” tuturnya.

Masa pandemi Covid-19 dikatakan oleh Syaiful Huda juga menelanjangi proses pendidikan di Indonesia. “Ternyata kita tidak siap PJJ karena soal akses internet. Kita juga belum bisa menerapkan prokes di sekolah. Fakta itu membuat pemerintah bisa membangun program-program yang konkret”, ujarnya.