//TIPS SAAT MAKAN LEBARAN NGGA BIKIN MELAR.
TIPS SAAT MAKAN LEBARAN NGGA BIKIN MELAR.

TIPS SAAT MAKAN LEBARAN NGGA BIKIN MELAR.

Puasa sebulan penuh, terkadang membuat banyak orang berhasil menjaga berat badan tubuhnya untuk menjadi ideal. Namun tak jarang, saat sudah melewati masa 30 hari dalam berpuasa, momen yang dinanti-nanti telah tiba, yaitu Perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Momen lebaran memiliki berbagai kebiasaan di masyarakat Indonesia yaitu Makan Bersama. Umumnya, membuat makan-makan tak hanya sekali saja, belum lagi berbagai makanan yang tersedia pun siap disantap. Mulai dari makanan berat, hingga cemilan baru yang menarik perhatian.

Lalu, bagaimana cara kita agar bisa membuat hal yang sudah dijaga selama sebulan, tidak membuat melar saat momen lebaran? Berikut ulasannya!

(sumber foto dari : https://www.merdeka.com)

1. Jangan biasakan ‘oh sekedar ini’.

Dalam sebulan puasa yang kurang lebih sekitar 13 jam, membuat tubuh terbiasa tidak banyak mengkonsumsi makanan. Namun, dalam momen lebaran yang biasanya sedari pagi, sudah tersedia berbagai masakan di meja makan, membuat kita tertarik dan mencoba tiap makanan yang dihidangkan. Sehingga semua makanan akan dicoba dengan kata ‘oh sekedar ini’. Padahal itu dikonsumsi dalam jumlah yang sedikit namun berturut-turut hingga malam. Bukan ‘oh sekedar ini’ kan?.

2. Mengingat pola yang sudah dicapai.

Pola yang terbentuk selama 30 hari dalam berpuasa, membuat tubuh beradaptasi dan membentuk suatu pola. Tapi malah hancur seketika, ketika pola tersebut dipecahkan hanya karena satu hari lebaran yang membuat pola baru lagi, sehingga pola tubuh yang beradaptasi dan ideal, lalu kemudian hancur dan sirna. Sangat disayangkan bukan?.

3. Menghitung-menimbang makanan yang akan dikonsumsi.

Kita coba menghitung, ketupat dalam makanan perayaan Hari Raya Idul Fitri, yang biasanya banyak dikonsumsi masyarakat saat momen kunjungan ke rumah sanak saudara.

Dalam 100 gram ketupat, terdapat kandungan kalori sebesar 119 kkal, protein 1,4 gr, lemak 0,07 gr dan karbohidrat 27 gr. Itu baru saja ketupat jika dihitung, belum lagi kuah opor ayam dari menu ketupat sayur, kue nastar, kue putri salju dan kue lain yang dikonsumsi saat berkunjung kerumah sanak saudara. Yang jika ditimbang dan dihitung, sama saja kita menghabiskan banyak porsi dalam sehari, sehingga membuat kita kelebihan kalori.

4. Mindset “Lebaran bukan momen makan, sepuasnya!”

Memang dalam setahun sekali, momen lebaran ini adalah momen yang ditunggu umat Islam seluruh dunia, bahkan perayaannya membuat kebahagiaan dan kesenangan bagi seluruh keluarga dan orang-orang disekitar.

Namun ingat, mindset lebaran sebagai momen breaktime (untuk break, membalas makan sepuasnya seusai ramadhan) adalah hal yang keliru. Hal seperti ini perlu diperkuat dengan diimbangi dengan pemaknaan mengenai lebaran adalah momen sakral meraih kemenangan, untuk senantiasa ikhtiar dan bisa merubah diri, lebih baik ditahun selanjutnya. Bukan lagi momen untuk break dan jadi makan sepuasnya. Jadi, ayo hayati kembali.

5. Ingat efek pola hidup sehat!

Coba bayangkan, bagaimana penyesuaian tubuh menghadapi makanan-makanan baru di momen lebaran. Yang jika kue, cenderung punya banyak rasa manis yang tinggi. Belum lagi, Opor Ayam, Soto Daging, Sate. Kemudian, camilan seperti kripik pedas dan minum-minuman soda ataupun manis.

Jika hal itu semua digabung bersamaan, tidak dijaga dan dipola. Itu akan memenuhi tubuh kita. Dengan berisi kandungan minyak, lemak, soda dan bahan bahan pemanis buatan. Yang nantinya, berdampak atau berefek pada tubuh kita yaitu bukan hanya berat badan yang tidak ideal. Namun justru menghadirkan banyak penyakit berupa Gagal Ginjal, Obsesitas, Liver, Gangguan Pencernaan dan lain sebagainya.

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [Al-A’raf : 31]

Dalam perintah  Allah SWT dalam Al-Quran sendiri, Allah SWT  tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan, termasuk dalam hal makan dan minum, hendaknya kita dalam momen ini, menjadikan hal-hal kecil itu menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat, nilai berkumpul dalam momen lebaran, bukan hanya tentang kesenangan dan makanan. Namun silaturahim dan saling menjaga sesama saudara dan keluarga untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik dari ramadhan sebelumnya. (zn)