//Dibalik Teknologi Tesla, Ada Insinyur Perempuan Muda Asal Indonesia
Dibalik Teknologi Tesla, Ada Insinyur Perempuan Muda Asal Indonesia

Dibalik Teknologi Tesla, Ada Insinyur Perempuan Muda Asal Indonesia

Moorisa Tjokro adalah seorang warga negara Indonesia yang bekerja sebagai insinyur perangkat lunak autopilot.

Di usianya 26 tahun, ia menjadi satu-satunya insinyur perempuan di perusahaan besutan Elon Musk.tersebut yang digadang jadi mobil listrik ramah lingkungan. Tidak hanya pada sistem kendaraan, fitur swakemudi penuh atau Full-Self-Driving yang bisa melompati zaman modern.

Berkat pengalaman, kegigihan, bakat dan prestasinya, bagaimana bisa menjadi insinyur di perusahaan di negri paman sam ?

Insinyur Perempuan Berprestasi Asal Indonesia di Bidang STEM, Dilansir dari Goodnewsfromindonesia.id

Berawal dari Sosok yang Pintar dan Berprestasi

 

Dilansir pada portal berita VOA Indonesia (2021), Tjokro memang memiliki bakat dan keverdasan yang mumpuni sejak muda. Ketika berusia 16 tahun, dia mendapat beasiswa Wilson and Shannon Technology untuk kuliah di Seattle Central College.

Selain itu, ia  menjadi salah satu lulusan termuda, yang umurnya baru 19 tahun dengan predikat Summa Cum Laude. Dengan gelar D3 nya, ia juga melanjutkan kuliah S1 jurusan Teknik Industri dan Statistik Georgia Institute of Technology, Atlanta.

Setelah lulus, ia juga melanjutkan pendidikan S2 jurusan Data Science di Columbia University, di New York. Selain pintar dibidang yang ia tekuni, beragam penghargaan juga ia peroleh ketika masih duduk di bangku kuliah. Di tahun 2012, ia mendapat penghargaan President’s Undergraduate Research Award dan nominasi Helen Grenga sebagai insinyur perempuan terbaik di Georgia Tech.

Selain itu, ia juga menoreh prestasi dalam beberapa kompetisi. Seperti mendapatkan juara 1 di ajang Columbia Annual Data Science Hackathon dan juara 1 di ajang Columbia Impact Hackathon.

 

Ditawari Pekerjaan teman

“Sekitar dua tahun yang lalu, temanku sebenarnya intern (magang) di Tesla. Dan waktu itu dia sempat ngirim resume-ku ke timnya. Dari situ, aku tuh sebenarnya enggak pernah apply, jadi langsung dikontak sama Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah kita mulai proses interview,” ujar perempuan yang tinggal di Amerika sejak 2011 itu.

Ia menyatakan bahwa awal mula bekerja di kantor Tesla sejak Desember 2018 silam, sebelum dipercaya sebagai Autopilot Software Engineer. Ia ditunjuk oleh Tesla untuk menjadi seorang Data Scientist, yang juga menangani dan mengawasi perangkat lunak mobil.

Berkat keahliannya dalam menganalisa perkembangan teknologi perangkat lunak, ia dipercaya atasannya untuk menggarap projek. Dengan anggaran yang besar, Moorisa masuk tim insinyur dan menggarap fitur Full-Self-Driving untuk prabrikan Amerika ini.

Bekerja 70 Jam Seminggu

Morissa sedang mengetes fitur self driving, Dilansir dari Kompas.com

Dengan bekerja sebagai insinyur perangkat lunak, bukan hanya kebanggan namun memiliki tanggung jawab yang besar. Proyek yang digarap Moorisa dan timnya, juga dituntut untuk teliti dan selalu mengecek kondisinya.

Ia mengaku bahwa penggarapan sistem ini memerlukan waktu yang panjang dan rumit. Waktu yang dibutuhkan untuk perenvanaan saja membutuhkan 60-70 jam seminggu untuk penggarapan sistem ini.

“Jadi sebelum fitur ini diluncurkan, kami melakukan pengujian yang sangat ketat. Semuanya demi keselamatan dan kemanan berkendara” tambahnya.

Terinspirasi dari Sang Ayah dan Sempat Dianggap Minoritas

Kecintaan Moorissa akan bidang matematika dan aljabar sejak dulu, menjadi motivasinya untuk terjun lebih dalam ke dunia teknik. Bidang yang menjadi masih sangat jarang ditekuni oleh perempuan dan masih dianggap pelajaran yang sulit.

Berkat sosok ayahnya yang menjadi seorang insinyur elektrik dan entrepreneur, ia menjadi semangat dan yang menjadikan panutan untuk dirinya. Walaupun didominasi oleh laki-laki, perkerjaan mengenai teknik insinyur menurutnya sangat seru dan penuh tantangan, apalagi perempuan sering menjadi minoritas.

Alumus SMA Pelita Harapan ini, juga menyayangkan motivasi terhadap perempuan untuk mencapai posisi eksekutif, khususnya di dunia teknologi dan otomotif. “Karena jarang, untuk bisa melihat posisi itu adalah perempuan, karena memang enggak ada. Hampir semuanya laki-laki” ucapnya ketika diwawancari oleh wartawan VOA Indonesia.