//Generasi Indonesia Emas 2045, Tantangan Dibalik Harapan Bangsa.
Generasi Indonesia Emas 2045, Tantangan Dibalik Harapan Bangsa.

Generasi Indonesia Emas 2045, Tantangan Dibalik Harapan Bangsa.

Berawal dari sebuah seminar yang berkolaborasi dengan IDN Times, menyelenggarakan Indonesia Millennial Summit” (IMS) di tahun 2019. Seminar yang membawakan tema “Shapping Indonesia’s Future” yang membahas kondisi Indonesia 25 tahun lagi.

Dengan menggundang peneliti, akademisi maupun pengamat ekonomi, memprediksi Indonesia menjadi negara kekuatan ekonomi baru. Didukung dengan riset kependudukan dari Badan Pusat Statistik, Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2045 nanti.

Generasi Emas Indonesia 2045 menjadi ‘goal’ dari seminar tersebut. Faktanya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan tanah yang subur. Namapaknya, hal tersebut menjadikan diragukan denga fakta dan data di tahun 2021. Terlebih, dengan kondisi pandemi yang melanda seluruh negara di dunia.

Lantas, apa saja tantangan dalam menanggapi bonus demografi khususnya generasi muda?

 

Pengagguran Terdidik dan Imbas Turunya Tingkat Ekonomi

Hasil Riset Katadata tentang Penangguran tahun 2019. Dok Katadata.com

 

Sebelum pendemi melanda, hasil riset dari infografis diatas pada tahun tahun 2019, pengangguran dengan lulusan diploma dan sarjana naik signifikan. Penyebabnya adalah kurangnya ketersediaan lapangan kerja yang bersedia menyerap lulusan tersebut.

Selain itu, keterampilan yang kurang memadai dalam dunia kerja juga menjadi alasan banyak pengangguran terdidik. Persoalan penawaran gaji pun menjadi faktor sulitnya menvari pekerjaan bagi lulusan muda.

Penyebaran virus yang masih melanda, pemberlakuan pembatasan mobilitas masyarakat mempengaruhi perputaran ekonomi. Oleh karena itu, banyak sektor industri yang tutup sehingga karyawan banyak yang diberhentikan. Tingkat pengagguran dan kemiskinan juga naik akibat dibatasinya aktivitas di luar rumah.

Dengan hal itu, juga berdampak pada masyarakat luas. Akibatnya, generasi muda akan teranvam dari sisi pemenuhan gizi, pendidikan dan inovasi menjadi terbatas.

 

Serbuan Tenaga Kerja Asing dan Penggunaan Robot

Restoran Pertama di China menggunakan robot. Dok : detik.com

 

Dalam hasil riset dari Badan Pusat Statistik, penganggguran dalam tahun 2021 sebanyak 8,7 juta dalam situs berita Tirto.id. Dengan banyaknya angkatan kerja, persaingan di dunia kerja semakin ketat persiangan di dunia kerja. Didukung dengan tenaga kerja asing yang membanjiri negara-negara, termasuk Indonesia.

Industri memerlukan tenaga kerja yang terampil dan memiliki profesionalitas. Upah murah menjadi alasan industri kurang menyerap tenaga kerja dalam negri. Hal ini menjadi tantangan pemerintah untuk mengatur regulasi tenaga kerja.

Selain itu, penggunaan teknologi mesin juga memperparah tingkat penggangguran. Seperti penggunaan robot makanan yang telah mengantikan tugas manusia sebagai pelayanan restauran.

 

Kurang Meratanya Akses Pendidikan

Pembelajaran dengan Digital yang Efektif. Dok : Gobal Focus Magazine

 

Pendidikan menjadi modal utama untuk menjadi pribadi yang unggul. Nyatanya, Indonesia menemati urutan ke-72 dari 77 negara yang dikutip dari oleh Programme for International Student Assessment (PISA) dalam situs berita dw.com. Hal ini menjadi polemik untuk harapan Generasi Emas Indonesia 2045.

Dengan adanya pandemi, juga mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Apalagi degan pembatasan sosial, murid diharuskan mengenyam pendidikan dari rumah. Selain itu, pendapatan masyarakat yang berakibat terkait pendidikan. Banyak murid yang terancam putus sekolah demi kebutuhan hidup sehari-hari.

Telepad dari hal tersebut, juga menampilkan mutu pendidikan di Indonesia yang kurang merata. Koneksi intenet menjadi sebuah kebutuhan pokok untuk bisa mengakses informasi bahkan ilmu pengetahuan.

Sosio-Ekonomi yang Digital
Hasil Riset tentang Potensi Ekonomi Digital tahun 2019. Dok : Katadata

 

Indonesia menjadi negara dengan perkembangan ekonomi digital tercepat. Dikutip dari Katadata.com, Indonesia juga menjadi salah satu pasar terbesar dalam transaksi digital di Asia Tenggara.

Internet seakan menjadi kebutuhan pokok masyarakat dalam era teknologi saat ini. Perdagangan antar benua menjadi hal biasa dan segala permasalahan pun menjadi serba praktis. Seperti pada layanan ojek online, tidak hanya pemesanan ojek tapi juga merambah ke akses streaming video.

Walaupun dengan pertumbuhan tervepat, nampaknya tidak membuat dampak yang signifikan. Masih banyak yang gagap akan teknologi digital di Indonesia, yang berakibat pada kurangnya literasi. Generasi muda juga kurang menggunakan sarananya untuk keperluan yang lebih baik. Akankah bisa terwujud dengan harapan Generasi Emas Indonesia 2045?