//Puasa dan Pengendalian Diri
Puasa dan Pengendalian Diri

Puasa dan Pengendalian Diri

Puasa dan Pengendalian Diri Bagi Mahasiswa

Sumber : Bianca Bagnarelli (nytimes.com)

Sabtu (8/5/2021), beberapa Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur menganggap puasa dan pengendalian diri itu jadi satu paket atau maknanya harus begitu.

Dalam Bahasa Arab, puasa adalah saum, dan bentuk pluralnya adalah siyam. Puasa sering diartikan sebagai pengendalian diri dari melakukan sesuatu.

Atau, puasa adalah suatu bentuk ibadah berupa menahan (pengendalian) diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak terbit matahari hingga terbenam dengan niat mencari ridha Allah SWT (Faridl, 2007).

Pengendalian diri ialah kecakapan orang dalam kepekaan membaca suasana serta lingkungannya, pula keahlian buat mengendalikan serta mengelola sikap (Ghufron dan Rini, 2014).

Terjadinya pengendalian diri (self control) tidak terlepas dari pemahaman terhadap diri yang besar.

Keahlian tersebut ditetapkan oleh berapa besar serta sepanjang mana orang tersebut berupaya mengatur dirinya.

Sikap pengendalian diri menampilkan keahlian pada memusatkan tingkah lakunya sendiri, atau aksi yang berkenaan dengan keahlian melaksanakan suatu kemauan dengan tujuan terencana.

Berpikir atau Berperilaku Lebih Terarah

Oleh Mokh. Riswan (Adne 2019) Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur, puasa dalam suasana pandemi Covid-19 kali ini melatihnya dalam mengendalikan diri.

Dari segala hal kejelekan dan juga melatih kesabaran, terutama saat ini dirinya sedang menjadi relawan palang merah penanganan Covid-19.

Yang mengharuskan mengatur waktu antara kuliah dan tugas relawan.

Riswan mengatakan “saya harus bisa mengatur waktu antara kuliah dan tugas relawan sehingga disini saya bisa belajar mengendalikan diri dari segala emosi dan menjadi insan yang lebih sabar dalam menghadapi segala masalah.”

Pengendalian diri menjadikan individu untuk berpikir atau berperilaku lebih terarah, mengalirkan karya atau perasaannya dengan benar, dan tidak menyimpang dari norma dan aturan yang ada di masyarakat (Hurlock, 2006).

Tak jauh dari Riswan, M. Chusaini Ashari (HI 2019) menyayangkan bila dirinya tidak bisa menahan dan mengontrol emosi dan kesabaran di bulan penuh berkah ini.

Chusaini menganggap bahwa pada bulan ramadhan akan ada peristiwa Nuzulul Qur’an, Lailatul Qodar.

Ssehingga bila dia tetap tidak sabar, maka secara otomatis bulan ramadhan sama saja dengan bulan biasanya.

“Bulan ramadhan kan juga bulan yang penuh keistimewaan jadi ya harus bisa tetap tabassam, sabar, ikhlas, dan tawakal. Dari berpuasa itu cara menyikapi diri bisa menjadi beda, dengan suasana dingin dan sabar. Sehingga kebiasaan tersebut (dingin dan sabar) bisa terbawa pada bulan bukan ramadhan.” Kata Ashari.

Sejalan Dengan Hadis Rasulullah SAW

Dilansir dari Hadis Shahih, Riwayat Bukhari No. 6116, ada seorang pria melakukan perjalanan panjang dan melelahkan, tujuan dari perjalanan itu untuk menjumpai orang yang paling dicintainya, yaitu Rasulullah Muhammad s.a.w.

Saat, ia berjumpa dengan Nabi, dengan perasaan haru dan bahagia ia berkata “Berikan wasiat kepadaku (yang dengan wasiat atau nasihat itu ia akan memperoleh kesuksesan di dunia dan akhirat)”.

Lalu dijawab oleh Nabi s.a.w “la taghdhab (kamu jangan marah, jangan bersikap tidak terkendali)”.

Pria itu tampak kurang puas, karena datang dari tempat yang jauh hanya mendapat nasihat yang sangat singkat.

Selanjutnya pria itu meminta lagi kepada Nabi s.a.w., supaya diberikan nasihat yang banyak, untuk bekalnya agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Namun, Nabi Muhammad s.a.w. tetap menyampaikan kalimat “la taghdhab” sebanyak 3 kali.

Putri Nur Wahyuni (Tekkim 2018) menambahkan, “hakikat puasa itu sendiri kan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan amarah.”.

Menahan diri ini lah yang paling sulit bagi manusia, sehingga di bulan puasa dilarang untuk makan, minum, dll. Itu adalah salah satu bentuk pengendalian diri.

Menahan untuk tidak makan, minum, dll. Allah menyuruh manusia untuk belajar menahan.

Mengendalikan Diri dan Kesuksesan

Sukses atau gagalnya usaha seseorang tergantung pada kemampuan dari orang itu untuk mengendalikan dirinya atau nafsunya.

Bila mampu mengendalikan nafsu dan dirinya, maka sukses telah berada di tangannya. Sebaliknya bila tidak, maka kegagalan telah membelenggu dirinya (Mubarak, 2021).

Mubarak (2021) menambahkan, apabila manusia dapat mengendalikan nafsu dan dirinya, ia pasti menjadi manusia yang memiliki ketabahan, kesabaran dan ketenangan.

Karena dengan ketabahan, kesabaran dan ketenangan, manusia akan meraih sukses dan menggapai kebahagiaan dalam segala kehidupan.

Pustaka :

Elizabeth Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta : Erlangga, 2006).

Mifta Faridl, Puasa Ibadah Kaya Makna, (Jakarta: Gema Insani, 2007).

M. Nur Ghufron dan Rini Risnawati S. Teori-teori Psikologi. (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2014).