//Butuh Perombakan Besar-besaran Sistem Pendidikan Nasional

Butuh Perombakan Besar-besaran Sistem Pendidikan Nasional

JawaPos.com – Pengamat pendidikan Indra Charismiadji menyatakan, bahwa pungutan liar di dunia pendidikan sudah menjadi penyakit akut yang sulit disembuhkan. Sebab, pungli merupakan bentuk diskriminasi yang mengakibatkan perilaku bullying terhadap orang-orang lemah secara kedudukan di Indonesia, termasuk di dunia pendidikan.

“Pungli itu bentuk bullying yang terjadi di Indonesia. Yang lemah akan di pungli. Ini salah satu hal yang musti diberantas,” ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (25/8).

Menurutnya penyebab terjadinya pungli di dunia pendidikan adalah karena rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.

“Mutu pendidikan rendah ya bakal begini. Orang kerja itu cari duit ini malah musti bayar. Kebalik-balik kan,” katanya.

Indra menyatakan, warga Indonesia menurut penelitian Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tidak mampu membedakan fakta dan opini. Hal itulah yang melatarbelakanginya untuk menyatakan bahwa mutu pendidikan Indonesia rendah.

“Kita itu membaca saja enggak bisa kok,” imbuhnya.

Oleh karena itu, menurutnya dibutuhkan perombakan besar-besaran dari sistem pendidikan nasional (sisdiknas) untuk mengatasi permasalahan pungli dan permasalah lain di dunia pendidikan di Indonesia.

“Gak ada cara lain, harus rombak total sistem pendidikan nasionalnya,” katanya.

Direktur Vox Populi itu berasumsi bahwa sisdiknas saat ini tidak jelas arah tujuannya karena tidak memiliki rancangan grand design yang jelas. Hal itu menyebabkan banyak permasalahan di dunia pendidikan, termasuk salah satunya masalah pungli.

“Gak bisa solusi mikro, yang masalah itu sistem pendidikan nasionalnya,” ucapnya.

Indra mengatakan setidak-tidaknya harus ada lima hal yang diinvestarisasi dalam sisdiknas agar dapat mengatasi masalah di dunia pendidikan. Mulai dari akses yang terbuka bagi seluruh warga Indonesia untuk mendapatkan pendidikan, manajemen sumber daya, sarana dan prasarana, mutu layanan, dan standar kompetensi dan karakter lulusan.

“Lima al saja cukup, tapi harus dijabarkan detil ya,” katanya.