//Eksis Ribuan Tahun, Jalur Rempah Pengaruhi Kehidupan Sosial Tiongkok

Eksis Ribuan Tahun, Jalur Rempah Pengaruhi Kehidupan Sosial Tiongkok

JawaPos.com – Perdagangan rempah Indonesia pada masa lampau, tidak hanya memberikan pengaruh ke dunia barat, tetapi juga ke dunia timur, khususnya Tiongkok. Fakta sejarah ini diungkapkan oleh pengamat politik Akademi Ilmu Sosial Tiongkok (China Academy of Social Science/SACC) Prof. Xu Liping.

Penulis buku berjudul ‘Dari Bantaran Kali Anyar Hingga Istana, Kisah Presiden Jokowi’ itu mengatakan, perdagangan rempah-rempah antara Tiongkok dan Indonesia sudah berlangsung sangat lama. “Berlangsung selama ribuan tahun, dari Dinasti Han dan Tang sampai Dinasti Qing,” kata Xu Liping dalam keterangannya Selasa (20/9).

Dia menjelaskan, sebelum kedatangan penjajah Barat, Tiongkok kuno dan Indonesia terus memelihara hubungan persahabatan. Hubungan ini mendorong perkembangan perdagangan rempah-rempah antara Tiongkok dan Indonesia.

“Sampai memberikan pengaruh besar pada kehidupan sosial di Tiongkok,” jelasnya.

Xu Liping mengatakan bahwa sejarah perdagangan rempah-rempah antara Tiongkok dan Indonesia, sepenuhnya menunjukkan bahwa pertukaran budaya berlangsung dua arah, bukan satu arah. Sementara itu Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan, sejarah Jalur Rempah sangat penting untuk digali.

Pesan tersebut dia sampaikan dalam Seminar Internasional bertajuk Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia. Hilmar mengatakan, Jalur Rempah sangat berperan penting dalam membentuk sejarah Indonesia hari ini.

“Bukan hanya di masa kolonial, tetapi juga masa prakolonial. Penting bagi kita untuk menelusuri sejarah yang cukup jauh ke belakang,” katanya.

Hilmar menjelaskan, dengan mempelajari Jalur Rempah, bisa melihat ikatan dan saling keterhubungan yang ada di dalam masyarakat yang sudah berlangsung berabad-abad. Jauh sebelum adanya nasionalisme modern.

“Penting bagi kita berdiskusi mendalami seperti apa dunia Melayu di dalam jalur perdagangan rempah dunia,” katanya.

Dari keterangan para sejarawan dan narasumber yang hadir, Hilmar berharap bisa melihat bahwa hubungan-hubungan itu cukup erat. Tecermin bukan hanya dari catatan sejarah. Tetapi juga bisa memeriksanya dari perspektif linguistik, tinggalan arkeologisnya.

“Kita bisa melihat dari ekspresi budaya yang kemudian bermunculan di seluruh Nusantara,” pungkasnya.