//Pengalaman Peserta PMDSU, Jalani Kuliah S2 dan S3 Cuma Empat Tahun

Pengalaman Peserta PMDSU, Jalani Kuliah S2 dan S3 Cuma Empat Tahun

JawaPos.com – Desak Nyoman Surya Suameitria Dewi, merupakan satu diantara sekian banyak mahasiswa beasiswa program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Melalui program tersebut, dia bersyukur proses kuliah S2 dan S3 bisa dijalankan lebih cepat dibandingkan pada umumnya.

Lulusan S1 Jurusan Biologi Universitas Airlangga (Unair) itu mengatakan, melalui program PMDSU, lama studi S2 dan S3 bisa ditempuh hanya empat tahun. Desak mengambil program PMDSU di almamaternya sebelumnya, yaitu Unair. Dia merasakan bahwa ilmu yang dia dapat selama menempuh program sarjana belum cukup.

“Keinginan untuk melanjutkan studi saya rasakan ketika bekerja di ITD (Institute of Tropical Disease) Unair,” katanya Rabu (23/11).

Dia merasakan selama bekerja di ITD ilmu yang didapatkan pada sat S-1 masih sangat kurang. Dia ingin memperkaya ilmu dan skill lagi dengan melanjutkan studi.

“Kebetulan karena saya bekerja di studi grup Tuberkulosis saya menjadi tertarik untuk mendalami penyakit tersebut,” tuturnya.

Selama menempuh studi S-2 dan S-3 program PMDSU tidak selamanya berjalan mulus. Banyak tantangan yang ia alami.

Salah satunya adalah harus menghasilkan publikasi dalam waktu yang relatif singkat. Tantangan lainnya adalah Ia menghadapi sistem birokrasi yang cukup rumit untuk dapat menerbitkan publikasinya itu.

Program PMDSU juga memberikan banyak pelajaran serta pengalaman bagi peserta. Setelah lulus, Desak mencoba melamar untuk menjadi seorang dosen, salah satunya di Universitas Ciputra. Namun, pada saat bersamaan Desak juga mendapat penawaran post-doctoral di Universitas Niigata dari Prof. Matsumoto.

“Awalnya saya memutuskan untuk menerima penawaran post-doctoral dan sudah harus berada di Jepang pada bulan Maret 2020,” kenangnya.

Namun dikarenakan Covid-19, rencana tersebut mundur. Desak mengatakan, berencana kembali ke Universitas Ciputra setelah menyelesaikan kontrak dengan Niigata University.

Ia berpendapat pekerjaan akademisi dan peneliti adalah pekerjaan yang tidak mudah dan penuh dengan tantangan. Namun, dia tetap ingin mewujudkan impian bisa terus melanjutkan penelitian di bidang Tuberkulosis.

Bahkan bila memungkinkan, Desak masih berharap untuk bisa menghasilkan publikasi yang publish di jurnal dengan impact factor yang cukup tinggi sebagai penulis pertama. Serta berkeinginan untuk bisa berguna bagi orang di sekitarnya.