//Rektor UI Kukuhkan Guru Besar Tetap di FT UI 

Rektor UI Kukuhkan Guru Besar Tetap di FT UI 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rektor Universitas Indonesia (UI), Ari Kuncoro, mengukuhkan Abdul Wahid sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Teknik UI. Gelar guru besar tersebut diberikan usai Abdul menyampaikan orasi ilmiah dengan  judul ‘Advanced Process Control: Jembatan untuk Celah Riset–Industri di Indonesia’.

“Sistem kendali adalah sesuatu yang familiar di kehidupan sehari-hari yang dapat ditemukan di lampu lalu lintas; peralatan rumah tangga seperti mesin cuci dua tabung, oven, dan microwave; bahkan di mainan anak-anak seperti mobil-mobilan yang dijalankan dengan menarik mundur rodanya,” ujar Abdul dalam orasinya berdasarkan siaran pers, Kamis (31/8/2023).

Pada lingkup yang lebih besar, kata dia, sistem kendali dikenal dengan advanced process control (APC). APC merupakan teknik kontrol yang sudah terjamin baik dan banyak digunakan di industri untuk meningkatkan efisiensi operasi unit proses. Menurut dia, ada empat APC utama, yaitu model predictive control (MPC), robust control, adaptive control, dan nonlinear control.

“Dari keempat APC itu, MPC dianggap sebagai ‘permata mahkota’ teori kendali karena mampu menghitung tindakan kendali yang optimal, tidak hanya berdasarkan pengukuran keadaan sesaat, tetapi juga respons proses yang diantisipasi,” kata dia.

Menurut Abdul, MPC bukan merupakan hasil kerja teoretis yang sumbernya dari penelitian akademis, melainkan implementasi dari industri. Meski begitu, pengembangan riset akademiknya melebihi aplikasinya di industri. Ditambah lagi, revolusi big data yang saat ini terjadi di bidang sains, teknologi, dan masyarakat, akan menantang pemikiran peran data dalam kendali otomatis dan memotivasi penelitian intensif APC.

“Penelitian terkait APC ini perlu dilakukan mengingat besarnya peran APC di industri. Untuk meningkatkan pendapatan, industri tidak hanya memilih variabel bebas yang memungkinkan penyediaan produk dengan biaya rendah, tetapi juga perlu menggunakan kendali proses lanjutan (APC) seperti MPC. Oleh karena itu, harus ada jembatan untuk menyambungkan celah riset-industri,” terang Abdul.

Menurut dia, APC khususnya MPC adalah yang paling tepat menjadi jembatan celah riset-industri karena telah terbukti berhasil meningkatkan profit, mampu menjawab tantangan-tantangan masa depan, dan mampu mengelola kompleksitas proses dengan kinerja yang sangat baik. Karena itu, periset dan industri perlu melakukan langkah kongkret untuk mentransfer pengetahun dan teknologi MPC.

“Komunikasi timbal-balik antara periset dan industri adalah salah satu jembatan yang mampu menyambungkan celah riset-industri. Dengan komunikasi timbal balik, periset akademis mentransfer algoritma baru yang ditemukan kepada industri, sementara industri mentansfer data perkembangan kepada periset akademik,” jelas dia.

Abdul menerangkan, ada banyak kisah sukses dari penerapan aplikasi APC di industri. Beberapa di antaranya adalah propane/isobutane splitter (C3/iC4 splitter) Kilang Phillips’ Borger di Texas, Amerika Serikat, industri proses etilena, dan pabrik butadiene di Italia Selatan. Keberhasilan itu, kata dia, seharusnya dapat memicu untuk menghasilkan riset yang memiliki dampak signifikan bagi industri dan masyarakat.

Riset terkait APC ini merupakan salah satu penelitian yang pernah dilakukan oleh Prof. Abdul. Sebelumnya, ia pernah menulis karya ilmiah berjudul Model Predictive Control with Exogenous Auto-Regressive Model to Improve Performance in the CO2 Removal pada 2023; Multivariable Model Predictive Control to Control Bio-H2 Production from Biomass pada 2023; dan System Dynamics Modeling for Demographic Bonus Projection in Indonesia pada 2022.

TAGS: