//Puluhan Guru Penggerak se-Jakarta Selatan Unjuk Kreativitas di Panen Raya PGP

Puluhan Guru Penggerak se-Jakarta Selatan Unjuk Kreativitas di Panen Raya PGP

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lima puluh dua guru dari berbagai sekolah di Jakarta Selatan, DKI Jakarta menggelar Panen Raya yang merupakan rangkaian kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 8 di SMKN 8, Jakarta Selatan, Sabtu (2/11/2023). Pada Lokakarya 7 yang mengangkat tema “Panen Hasil Belajar” tersebut, para guru unjuk kreativitas yang diwujudkan melalui stand dan aksi drama di atas panggung.

Koordinator Sub Pokja Fasilitasi Implementasi PGP Jakarta Selatan, Ratna Kumala Hapsari saat berbincang dengan Republika di lokasi menjelaskan, Program PGP ini merupakan program nasional yang dicanangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Ia mengatakan, para Calon Guru Penggerak (CGP) di Jaksel yang mengikuti Lokakarya 7 sudah mengikuti Program PGP selama enam bulan.

Dijelaskan Ratna, selama enam bulan para Guru Penggerak sudah membuat aksi nyata dan sekarang waktunya dipamerkan. Panen Raya tersebut merupakan inovasi dan kreativitas Guru Penggerak yang telah dilaksanakan dan akan dikembangkan di sekolah-sekolah mereka.

“Anggaplah mereka sedang bersenang-senang tentang aksi nyata tersebut, sekarang dipetik, dipanen. Yang dipamerkan bukan produknya tapi proses mereka melakukan aksi nyata di sekolah,” ucap dia.

Program PGP yang dimulai pada 2020 itu menurut Ratna bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru, mutu pendidikan, dan kualitas pembelajaran di Indonesia. Sehingga Program PGP bisa memberikan bekal kepada guru menjadi pemimpin pembelajaran yang dapat menumbuhkembangkan potensi siswa.

“Tugas mereka (Guru Penggerak) itu berat lho. Mereka nantinya harus menularkan ilmu yang sudah didapatkan dari Program PGP kepada guru-guru lain di sekolah dan harus membuat inovasi-inovasi baru,” ujar Ratna.

PGP juga bisa berpihak pada murid dan mereka bisa membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan minat dan bakat siswa. “Jadi tidak seperti dulu, RPP dibuat anak harus mengikuti. Sekarang di kelas itu harus ada pelajaran berdiferensiasi, artinya mereka diberikan pelajaran dari guru tetapi mengikuti bagaimana cara anak itu belajar,” tutur dia.

Ratna mengungkapkan dengan selesai mengikuti Program PGP, para Guru Penggerak mendapatkan sejumlah manfaat. Selain mendapatkan tambahan ilmu mengajar di kelas, para Guru Penggerak juga punya peluang lebih besar dalam hal karier daripada guru yang belum berkesempatan mengikuti PGP.

Goals-nya ini jadi, sertifikat (PGP) sebagai salah satu syarat mereka menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah. Minimal (golongan) 3B mereka sudah bisa jadi kepala sekolah setelah diusulkan dari dinas,” imbuh Ratna.

Memang, dijelaskan Ratna, Program PGP memang tidak bisa diikuti semua guru. Alasannya untuk lolos sebagai Calon Guru Penggerak (CGP) para guru harus mengikut tes dan wawancara dari Kemendikbud.

“Mereka jadi tutor, duta bagi rekan-rekan yang belum punya kesempatan menjadi CGP. Mereka bisa memberikan penjelasan tentang modul-modul PGP yang bisa dimulai di sekolah tentang sejumlah program, seperti pembelajaran diferensiasi, budaya positif dan keyakinan kelas,” ucap Ratna.

Salah Guru Penggerak yang mengikuti pameran lokakarya 7, Neny Kusumawati mengaku lega setelah selama enam bulan mengikuti Program PGP tersebut. Kepada Republika, Guru SMPN 239 Jakarta tersebut menjelaskan tentang program kerja dan aksi nyata yang sudah dilakukan kelompoknya “Harmonis”.

“Salah satunya di sekolah tempat saya mengajar, SMPN 239 Jakarta, ada aksi nyata untuk mengurangi sampah plastik melalui impelemtasi zero plastic for food,” kata Neny.

Jadi, kata Neny menjelaskan, program zero plastic for food bertujuan untuk mengurangi dampak negatif pengurangan plastik sekali pakai dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengurangan sampah. “Jadi murid tidak lagi memakai botol plastik kemasan sekali pakai. Di kantin misalnya kami memakai gelas dan piring plastik yang bisa dipakai berulang kali. Jadi dampak negatif sampah plastik bisa dikurangi,” tutur Neny.

Rekan satu kelompok Neny, Handoko yang merupakan guru SMAN 82 Jakarta menjelaskan. Program PGP mengajarkan para Guru Penggerak bagaimana melakukan pendekatan kepada murid-muridnya secara lebih baik.

“Jadi kalau anak SD kan masih perlu pendampingan, namun anak SMP atau SMA seperti saya sudah bisa lebih dipercaya. Jadi ketika diberikan tugas kelompok misalnya, mereka sudah bisa tanpa perlu didampingi orang tua,” kata Handoko.

Salah satu pengajar Praktik Program PGP, Imam Gunawan menjelaskan para Guru Penggerak setelah mengikuti program selama enam bulan terakhir menjadi lebih fleksibel dalam mengajar. Selain itu, kata dia, Program PGP juga meningkatkan kompetensi Guru Penggerak. “Jadi mereka menjadi lebih tajam dalam mengajar di kelas,” kata Imam.

TAGS: