Aktual.co.id – Program pendampingan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) Wonokromo 2025 terus menunjukkan konsistensinya dalam menguatkan kapasitas pelaku UMKM lokal. Setelah sesi digital marketing dan branding yang berlangsung sukses, kini giliran materi packaging atau pengemasan produk menjadi bahasan utama. Tema ini dipilih karena kemasan dinilai sebagai “wajah pertama” yang menentukan daya tarik produk di mata konsumen.
Kegiatan yang digelar pada Sabtu (16/8/2025) itu menghadirkan narasumber dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT), yang juga anggota Tim Pusat Riset Ekonomi, Sosial, dan Humaniora, Mohammad Syarrafah, M.I.Kom. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kemasan bukan sekadar pembungkus, melainkan bagian penting dari strategi komunikasi visual produk.
“Packaging itu berbicara sebelum penjualnya sempat berbicara. Sebuah kemasan yang baik bisa langsung menjelaskan nilai produk, menarik perhatian, dan menumbuhkan rasa percaya. Jadi, kalau mau produk kita naik kelas, mulai dari kemasannya,” ujar Syarrafah.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta diajak memahami tiga fungsi utama kemasan: melindungi, mengomunikasikan, dan menjual. Syarrafah menjelaskan, kemasan yang menarik harus mampu menceritakan karakter produk hanya dengan sekali pandang. “Gunakan warna dan tipografi yang sesuai dengan identitas merek, sertakan informasi yang jelas, dan jangan lupa tampilkan logo atau elemen khas agar konsumen mudah mengenali,” tambahnya.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung. Para pelaku UMKM dibimbing untuk mendesain ulang kemasan produk mereka menggunakan bahan sederhana seperti kertas kraft, stiker label, dan plastik ramah lingkungan. Beberapa peserta memamerkan hasil kreasinya — dari kemasan sambal rumahan dengan desain modern, hingga bungkus jajanan tradisional yang tampil lebih elegan dengan tambahan story label tentang asal-usul resep keluarga.

Selain aspek visual, Syarrafah juga menekankan pentingnya fungsi ekologis dalam kemasan modern. Ia mengingatkan bahwa tren konsumen kini semakin sadar lingkungan, sehingga penggunaan bahan ramah lingkungan dapat menjadi nilai tambah. “Sekarang konsumen makin cerdas. Mereka lebih memilih produk yang peduli lingkungan. Jadi, kemasan juga harus bisa bicara tentang tanggung jawab sosial kita,” jelasnya.
Program pendampingan UPPKA Wonokromo 2025 ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemkot Surabaya dan UPN Veteran Jatim dalam kerangka Kampus Berdampak. Pendekatannya tidak hanya fokus pada peningkatan omzet, tetapi juga pada penguatan identitas, daya saing, dan keberlanjutan usaha.
“Setelah memahami digital marketing dan branding, materi packaging ini menjadi penyempurna. Kita ingin pelaku UMKM tidak hanya pandai menjual, tapi juga mampu menghadirkan produk yang punya nilai estetika, cerita, dan kepedulian lingkungan,” ungkap Syarrafah menutup sesi pelatihan.
Dengan materi yang terintegrasi dari pemasaran digital, branding, hingga kemasan, UPPKA Wonokromo kini melangkah lebih matang menuju UMKM yang berdaya saing dan berkarakter. Produk-produk rumahan yang semula sederhana kini tampil lebih professional siap bersaing di pasar modern dengan wajah baru yang lebih menarik dan berkelas.
Antusiasme peserta terlihat tinggi. Banyak dari mereka baru menyadari bahwa tampilan kemasan ternyata sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. “Saya biasanya cuma pakai plastik polos, tapi setelah dijelaskan, saya jadi tahu pentingnya label dan warna yang menarik. Konsumen ternyata lebih tertarik kalau tampilannya rapi,” ujar Nurul, salah satu pelaku usaha kue kering Wonokromo.
(Penulis: Mohammad Syarrafah, M.I.Kom/Tim Redaksi Pusat Riset Ekonomi, Sosial, dan Humaniora sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur)
