Aktual.co.id – Setiap 24 September, kita kembali mengucapkan Selamat Hari Tani Nasional. Namun, Hari Tani seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan simbolik. Ia perlu menjadi momentum untuk bertanya: sudahkah pembangunan benar-benar memberikan ruang kepada petani untuk menentukan masa depannya? Pertanyaan ini penting karena pertanian masih menjadi bagian besar dari kehidupan Indonesia.
Pada Februari 2026, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 42,49 juta tenaga kerja atau 28,78 persen dari seluruh penduduk bekerja. Sensus Pertanian 2023 juga mencatat sekitar 27,8 juta petani pengguna lahan pertanian, dengan lebih dari 17,2 juta di antaranya merupakan petani gurem. Di balik angka tersebut terdapat persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga akses, pengetahuan, teknologi, jaringan, pasar, posisi tawar, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan.
Di titik inilah pertanian bertemu dengan komunikasi sosial pembangunan. Pembangunan bukan sekadar membangun infrastruktur, menyediakan teknologi, atau menjalankan program. Pembangunan merupakan proses sosial yang melibatkan komunikasi, pertukaran pengetahuan, kepercayaan, negosiasi, jaringan, dan kemampuan masyarakat mengambil keputusan mengenai masa depannya. Karena itu, petani tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang mempunyai pengalaman, pengetahuan, gagasan, dan kemampuan menciptakan perubahan.
Selama beberapa tahun melakukan penelitian dan berinteraksi dengan petani muda, saya menemukan wajah pertanian yang berbeda dari stereotip lama. Petani yang saya temui sudah menggunakan teknologi dalam kegiatan pertanian. Teknologi digital dimanfaatkan untuk membantu pengelolaan usaha tani, teknologi seperti drone digunakan untuk mendukung aktivitas pertanian, sementara telepon pintar menjadi bagian dari keseharian untuk mencari informasi, berkomunikasi, membangun jaringan, dan melihat peluang pasar. Saya juga menemukan peternak yang berinovasi dalam pengelolaan lingkungan dan peningkatan kualitas ternak, serta petani yang tidak berhenti menjual komoditas mentah, tetapi mulai memikirkan pengolahan, kualitas produk, kemasan, merek, pasar, dan konsumen yang lebih luas.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa teknologi sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan sebagian petani. Persoalan pembangunan pertanian bukan lagi sekadar bagaimana memperkenalkan teknologi kepada petani, tetapi bagaimana teknologi yang telah digunakan dapat memperkuat produktivitas, pengetahuan, jaringan, akses pasar, dan posisi tawar mereka. Di sinilah komunikasi sosial pembangunan mempunyai peran penting. Teknologi tidak bekerja sendirian. Di dalam penggunaannya terdapat proses komunikasi: petani mencari informasi, belajar dari petani lain, bertukar pengalaman, membangun jaringan, berhubungan dengan pemerintah dan perguruan tinggi, serta berkomunikasi dengan pasar. Digitalisasi pertanian bukan sekadar perubahan alat, melainkan juga perubahan cara petani memperoleh pengetahuan, membangun relasi, mengambil keputusan, dan mengakses peluang.
Dari Bantuan Menuju Akses
Ada satu temuan dari perjumpaan saya dengan petani muda yang menarik. Ketika berbicara mengenai kebutuhan mereka, bantuan uang dari pemerintah ternyata tidak selalu berada di urutan pertama. Mereka justru banyak berbicara mengenai akses: bibit berkualitas, teknologi, pengetahuan, sertifikasi, perizinan, pembiayaan, jaringan, pasar, hingga ekspor. Temuan ini mengingatkan bahwa masyarakat bukan ruang kosong. Petani telah mempunyai pengetahuan tentang tanah, musim, tanaman, ternak, risiko produksi, harga, dan distribusi. Karena itu, pembangunan tidak selalu harus dimulai dengan pertanyaan “Apa yang akan kita berikan kepada petani?”, melainkan “Apa yang sudah dimiliki petani, apa persoalan yang mereka hadapi, dan akses apa yang perlu dibuka agar kemampuan mereka berkembang?”
Perubahan pertanyaan tersebut sekaligus mengubah posisi petani: dari penerima menjadi pelaku, dari objek menjadi subjek, dari orang yang “diberi tahu” menjadi orang yang ikut menentukan. Inilah esensi komunikasi sosial pembangunan: bukan sekadar berbicara kepada masyarakat, tetapi berbicara bersama masyarakat. Keberhasilan komunikasi pembangunan pun tidak cukup diukur dari jumlah sosialisasi, peserta pelatihan, aplikasi yang diperkenalkan, atau alat yang dibagikan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah petani semakin mampu mengambil keputusan, memperoleh informasi, memperluas jaringan, mengakses pembiayaan dan pasar, meningkatkan posisi tawar, serta mempunyai kemampuan lebih besar menentukan masa depannya.
Komunikasi, Jaringan, dan Kemajuan
Pengalaman bersama petani muda juga menunjukkan bahwa modal pertanian hari ini bukan hanya tanah dan uang. Jaringan menjadi modal yang semakin penting. WhatsApp, media sosial, marketplace, komunitas petani, penyuluh, perguruan tinggi, pemerintah, lembaga keuangan, dan mitra usaha membentuk ekosistem komunikasi pembangunan. Melalui jaringan itu, petani dapat memperoleh informasi, belajar teknologi, bertemu pembeli, mengetahui peluang pasar, membangun kolaborasi, dan terhubung dengan institusi yang memiliki sumber daya. Jika komunikasi mampu membuka akses seperti itu, komunikasi tidak lagi hanya memindahkan pesan; komunikasi sedang memindahkan kesempatan.
Kemajuan sebuah negara sering digambarkan melalui gedung tinggi, industri besar, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, atau kota pintar. Semua itu penting. Namun, kemajuan Indonesia juga harus dapat ditemukan di sawah, kebun, peternakan, dan desa. Kemajuan terjadi ketika petani mampu mengolah hasil menjadi produk bernilai tambah, membangun merek dan kemasan, memanfaatkan teknologi, memperluas jaringan distribusi, serta menjangkau pasar yang lebih luas. Kemajuan juga terjadi ketika anak muda melihat pertanian bukan sebagai pilihan terakhir, tetapi sebagai ruang inovasi, kewirausahaan, dan masa depan.
Menanam Masa Depan Indonesia
Hari Tani Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara kita berkomunikasi tentang pembangunan pertanian. Pemerintah tidak cukup hanya berbicara kepada petani. Perguruan tinggi tidak cukup datang membawa pengetahuan. Industri tidak cukup melihat petani sebagai pemasok. Teknologi juga tidak boleh hadir sekadar sebagai proyek. Kita perlu membangun ruang di mana petani, pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, lembaga keuangan, dan generasi muda dapat berbicara, mendengarkan, bertukar pengetahuan, dan menciptakan perubahan bersama. Itulah komunikasi sosial pembangunan: menciptakan ruang agar masyarakat dapat berpartisipasi dan mempunyai kemampuan menentukan arah pembangunan.
Pada Hari Tani tahun ini, pertanyaan kita tidak cukup lagi, “Siapa yang mau menjadi petani?” Kita perlu bertanya: sudahkah kita mendengarkan petani, membuka akses, dan memberikan ruang kepada petani muda untuk berinovasi serta ikut menentukan arah kemajuan Indonesia? Selamat Hari Tani Nasional. Teruslah belajar, membangun jaringan, dan berinovasi. Sebab dari teknologi yang mereka gunakan, jaringan yang mereka bangun, produk yang mereka kembangkan, dan ruang komunikasi yang kita buka bersama, para petani tidak hanya sedang menghasilkan pangan. Mereka sedang menanam masa depan Indonesia.
(Penulis: Ririn Puspita Tutiasri/Peneliti Petani Milenial, Dosen Ilmu Komunikasi FISIBPOL UPN “Veteran” Jawa Timur, dan Kandidat Doktor Ilmu Sosial Universitas Airlangga)
