• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Refleksi Hari Tani: Menanam Masa Depan Indonesia
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pakar Menulis

Refleksi Hari Tani: Menanam Masa Depan Indonesia

redaksi Kamis, 24 September 2026
Share
7 Min Read
Ilustrasi Hari Santri Nasional/dok.istimewa
Ilustrasi Hari Santri Nasional/dok.istimewa

Aktual.co.id – Setiap 24 September, kita kembali mengucapkan Selamat Hari Tani Nasional. Namun, Hari Tani seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan simbolik. Ia perlu menjadi momentum untuk bertanya: sudahkah pembangunan benar-benar memberikan ruang kepada petani untuk menentukan masa depannya? Pertanyaan ini penting karena pertanian masih menjadi bagian besar dari kehidupan Indonesia.

Pada Februari 2026, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 42,49 juta tenaga kerja atau 28,78 persen dari seluruh penduduk bekerja. Sensus Pertanian 2023 juga mencatat sekitar 27,8 juta petani pengguna lahan pertanian, dengan lebih dari 17,2 juta di antaranya merupakan petani gurem. Di balik angka tersebut terdapat persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga akses, pengetahuan, teknologi, jaringan, pasar, posisi tawar, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Di titik inilah pertanian bertemu dengan komunikasi sosial pembangunan. Pembangunan bukan sekadar membangun infrastruktur, menyediakan teknologi, atau menjalankan program. Pembangunan merupakan proses sosial yang melibatkan komunikasi, pertukaran pengetahuan, kepercayaan, negosiasi, jaringan, dan kemampuan masyarakat mengambil keputusan mengenai masa depannya. Karena itu, petani tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang mempunyai pengalaman, pengetahuan, gagasan, dan kemampuan menciptakan perubahan.

Selama beberapa tahun melakukan penelitian dan berinteraksi dengan petani muda, saya menemukan wajah pertanian yang berbeda dari stereotip lama. Petani yang saya temui sudah menggunakan teknologi dalam kegiatan pertanian. Teknologi digital dimanfaatkan untuk membantu pengelolaan usaha tani, teknologi seperti drone digunakan untuk mendukung aktivitas pertanian, sementara telepon pintar menjadi bagian dari keseharian untuk mencari informasi, berkomunikasi, membangun jaringan, dan melihat peluang pasar. Saya juga menemukan peternak yang berinovasi dalam pengelolaan lingkungan dan peningkatan kualitas ternak, serta petani yang tidak berhenti menjual komoditas mentah, tetapi mulai memikirkan pengolahan, kualitas produk, kemasan, merek, pasar, dan konsumen yang lebih luas.

Baca Juga:  Pilkada Langsung Vs Pilkada Oleh DPRD

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa teknologi sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan sebagian petani. Persoalan pembangunan pertanian bukan lagi sekadar bagaimana memperkenalkan teknologi kepada petani, tetapi bagaimana teknologi yang telah digunakan dapat memperkuat produktivitas, pengetahuan, jaringan, akses pasar, dan posisi tawar mereka. Di sinilah komunikasi sosial pembangunan mempunyai peran penting. Teknologi tidak bekerja sendirian. Di dalam penggunaannya terdapat proses komunikasi: petani mencari informasi, belajar dari petani lain, bertukar pengalaman, membangun jaringan, berhubungan dengan pemerintah dan perguruan tinggi, serta berkomunikasi dengan pasar. Digitalisasi pertanian bukan sekadar perubahan alat, melainkan juga perubahan cara petani memperoleh pengetahuan, membangun relasi, mengambil keputusan, dan mengakses peluang.

Dari Bantuan Menuju Akses

Ada satu temuan dari perjumpaan saya dengan petani muda yang menarik. Ketika berbicara mengenai kebutuhan mereka, bantuan uang dari pemerintah ternyata tidak selalu berada di urutan pertama. Mereka justru banyak berbicara mengenai akses: bibit berkualitas, teknologi, pengetahuan, sertifikasi, perizinan, pembiayaan, jaringan, pasar, hingga ekspor. Temuan ini mengingatkan bahwa masyarakat bukan ruang kosong. Petani telah mempunyai pengetahuan tentang tanah, musim, tanaman, ternak, risiko produksi, harga, dan distribusi. Karena itu, pembangunan tidak selalu harus dimulai dengan pertanyaan “Apa yang akan kita berikan kepada petani?”, melainkan “Apa yang sudah dimiliki petani, apa persoalan yang mereka hadapi, dan akses apa yang perlu dibuka agar kemampuan mereka berkembang?”

Baca Juga:  UMKM Sidotopo Naik Kelas, Mahasiswa UPNVJT Dorong Branding Digital Berbasis Sustainable Business

Perubahan pertanyaan tersebut sekaligus mengubah posisi petani: dari penerima menjadi pelaku, dari objek menjadi subjek, dari orang yang “diberi tahu” menjadi orang yang ikut menentukan. Inilah esensi komunikasi sosial pembangunan: bukan sekadar berbicara kepada masyarakat, tetapi berbicara bersama masyarakat. Keberhasilan komunikasi pembangunan pun tidak cukup diukur dari jumlah sosialisasi, peserta pelatihan, aplikasi yang diperkenalkan, atau alat yang dibagikan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah petani semakin mampu mengambil keputusan, memperoleh informasi, memperluas jaringan, mengakses pembiayaan dan pasar, meningkatkan posisi tawar, serta mempunyai kemampuan lebih besar menentukan masa depannya.

Komunikasi, Jaringan, dan Kemajuan

Pengalaman bersama petani muda juga menunjukkan bahwa modal pertanian hari ini bukan hanya tanah dan uang. Jaringan menjadi modal yang semakin penting. WhatsApp, media sosial, marketplace, komunitas petani, penyuluh, perguruan tinggi, pemerintah, lembaga keuangan, dan mitra usaha membentuk ekosistem komunikasi pembangunan. Melalui jaringan itu, petani dapat memperoleh informasi, belajar teknologi, bertemu pembeli, mengetahui peluang pasar, membangun kolaborasi, dan terhubung dengan institusi yang memiliki sumber daya. Jika komunikasi mampu membuka akses seperti itu, komunikasi tidak lagi hanya memindahkan pesan; komunikasi sedang memindahkan kesempatan.

Kemajuan sebuah negara sering digambarkan melalui gedung tinggi, industri besar, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, atau kota pintar. Semua itu penting. Namun, kemajuan Indonesia juga harus dapat ditemukan di sawah, kebun, peternakan, dan desa. Kemajuan terjadi ketika petani mampu mengolah hasil menjadi produk bernilai tambah, membangun merek dan kemasan, memanfaatkan teknologi, memperluas jaringan distribusi, serta menjangkau pasar yang lebih luas. Kemajuan juga terjadi ketika anak muda melihat pertanian bukan sebagai pilihan terakhir, tetapi sebagai ruang inovasi, kewirausahaan, dan masa depan.

Baca Juga:  Nutrisi Sehat Saat Puasa: Sederhana, Cukup, dan Optimal

Menanam Masa Depan Indonesia

Hari Tani Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara kita berkomunikasi tentang pembangunan pertanian. Pemerintah tidak cukup hanya berbicara kepada petani. Perguruan tinggi tidak cukup datang membawa pengetahuan. Industri tidak cukup melihat petani sebagai pemasok. Teknologi juga tidak boleh hadir sekadar sebagai proyek. Kita perlu membangun ruang di mana petani, pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, lembaga keuangan, dan generasi muda dapat berbicara, mendengarkan, bertukar pengetahuan, dan menciptakan perubahan bersama. Itulah komunikasi sosial pembangunan: menciptakan ruang agar masyarakat dapat berpartisipasi dan mempunyai kemampuan menentukan arah pembangunan.

Pada Hari Tani tahun ini, pertanyaan kita tidak cukup lagi, “Siapa yang mau menjadi petani?” Kita perlu bertanya: sudahkah kita mendengarkan petani, membuka akses, dan memberikan ruang kepada petani muda untuk berinovasi serta ikut menentukan arah kemajuan Indonesia? Selamat Hari Tani Nasional. Teruslah belajar, membangun jaringan, dan berinovasi. Sebab dari teknologi yang mereka gunakan, jaringan yang mereka bangun, produk yang mereka kembangkan, dan ruang komunikasi yang kita buka bersama, para petani tidak hanya sedang menghasilkan pangan. Mereka sedang menanam masa depan Indonesia.

(Penulis: Ririn Puspita Tutiasri/Peneliti Petani Milenial, Dosen Ilmu Komunikasi FISIBPOL UPN “Veteran” Jawa Timur, dan Kandidat Doktor Ilmu Sosial Universitas Airlangga)

SHARE
Ad imageAd image

Berita Aktual

Ilustrasi Hari Santri Nasional/dok.istimewa
Refleksi Hari Tani: Menanam Masa Depan Indonesia
Kamis, 24 September 2026
Aktifitas bandara di Timur Tengah/ Foto: vietnam
Irak dan Oman Menangguhkan Penerimaan Penerbangan dari Iran
Rabu, 23 September 2026
RedMagic 11Pro+ / Foto: GSM Arena
Jelang Peluncuran Desain RedMagic 11Pro+ Mulai Dibocorkan
Rabu, 23 September 2026
Sejumlah barang bukti hasil tes DNA temuan Jenazah di Bengkulu/ Foto: ANTARA
Jenazah di Bengkulu Adalah Sukarman ABK KM Arupadatu I yang Membawa 5 Jurnalis
Rabu, 23 September 2026
Steve Witkoff dan Abbas Araghchi / Foto: worldview
Menlu Iran Bertemu Utusan Khusus AS Membahas Syarat Pembukaan Selat Hormuz di PBB
Rabu, 23 September 2026

Mental Health

Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik

Pencegahan Bunuh Diri Menekan Angka Kematian Akibat Bunuh Diri di Dunia

Ilustrasi olah raga/ Foto: psypost

Studi Menjelaskan Olah Raga Mampu Meredam Gangguan Depresi

Joe Biden/ Foto: capture ANTARA

Hunter Biden: Kanker Prostat Joe Biden Menyebar ke Tulang

Ilustrasi nyeri kepala/ Foto: freepik

Mengenali Nyeri Kepala yang Sering Diderita oleh Setiap Orang

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

KPK Melakukan OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena

Pasangan Park Shin Hye dan Choi Tae Joon Menyambut Anak Kedua

Presiden Donald Trump Membantah Kehabisan Amunisi

Permintaan Produksi Robot Humanoid Meningkat di Tahun 2026

KPK Menyita Uang Tunai dalam OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena

More News

Ilustrasi ilmu komunikasi di tengah wacana penutupan prodi/dok.aktual.co.id

Ilmu Komunikasi di Tengah Wacana Penutupan Prodi

Kamis, 30 April 2026
Ilustrasi terpapar flu/ Foto: freepik

Super Flu: Alarm Dini Bagi Ketahanan Kesehatan Nasional

Jumat, 16 Januari 2026
Ilustrasi cuaca panas/ foto: freepik

Cuaca Panas, Lelah, dan Tantangan Daya Tahan Tubuh.

Kamis, 16 Oktober 2025
Narasumber dan ketua KKNT setelah menyampaikan materi strategi Social Media Marketing/dok.istimewa

Mahasiswa KKN Dorong UMKM Go Digital Lewat Pelatihan Media Sosial dan AI

Jumat, 26 September 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id