Aktual.co.id – Para ilmuwan di NASA tengah menemuka obyek antarbintang dengan sebutan 31/ATLAS yang melesat menuju tata surya. Entitas misterius ini, kali pertama terlihat melesat menuju Matahari pada Juli dan telah memukau para peneliti sejak saat itu.
Sebagaimana ditunjukkan oleh Science Alert dengan menggunakan empat teleskop canggih yakni Hubble NASA, SPHEREx, Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS), dan Teleskop Luar Angkasa James Webb, telah menangkap secara intens pergerakan 31/ATLAS.
Sementara para peniliti menterjemahkan etitas tersebut adalah komet, namun mereka masih belum pasti mengingat objek tersebut dianggap aneh karena berbeda dibandingkan temuan selama ini.
Pertama, pengamatan dari SPHEREx dan James Webb menunjukkan bahwa komanya, adalah atmosfer gas dan debu raksasa yang mengelilingi inti komet, mengandung proporsi gas karbon dioksida yang jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan.
Bahkan, para ilmuwan menemukan bahwa koma tersebut memiliki rasio karbon dioksida terhadap air tertinggi yang pernah diamati pada sebuah komet.
TESS, yang secara teknis telah menemukan objek tersebut beberapa bulan sebelum penemuannya di bulan Juli yang ditemukan dalam arsip pengamatannya, menunjukkan objek tersebut sudah terang dan aktif saat berada dalam jarak enam unit astronomi dari Matahari.
Sementara astronom Avi Loeb dari Harvard mengatakan bahwa teleskop Hubble milik NASA mengungkap semacam kepompong debu berbentuk tetesan air mata yang keluar dari inti komet yang padat dan dingin namun tidak memiliki ekor komet yang jelas.
“Bisa jadi obyek tersebut dikirim ke bumi dari pedaban luar angkasa,” katanya. Asal usul objek tersebut tetap sulit dipahami. Dalam sebuah makalah pracetak , tim peneliti internasional menduga bahwa 3I/ATLAS mungkin mengandung es yang terpapar radiasi tingkat tinggi daripada komet Tata Surya atau terbentuk di dekat garis es CO2 di cakram protoplanet induknya.
Untuk saat ini, para peneliti harus bersabar hingga temuan tersebut menjalani analisis dan tinjauan sejawat lebih lanjut. Saat objek tersebut lepas landas, ia akan terbang lintas relatif dekat dengan Jupiter, Mars, dan Venus.
Loeb mengusulkan agar Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA mengamati lebih dekat, karena objek tersebut berada dalam jarak kurang dari dua juta mil dari Planet Merah.
Dan sekitar lima bulan kemudian, wahana antariksa Juno milik NASA dapat mencegatnya saat mendekati Jupiter. “Mungkin dengan begitu, kita akhirnya bisa lebih memahami sifat uniknya,” ujar Avi Loeb. (ndi/yahoo)
