Aktual.co.id – Hari Keamanan Cloud Sedunia diperingati setiap tanggal 3 April untuk membantu meningkatkan kesadaran di kalangan pelaku tekonologi informasi tentang ancaman yang meningkat terkait organisasi yang bekerja jarak jauh dan hibrida serta BYOD (Bring Your Own Device).
Menurut laporan, 32% pekerja menggunakan aplikasi atau perangkat lunak untuk bekerja menggunakan informasi teknologi, dan 92% karyawan melakukan tugas pekerjaan di perangkat tablet atau ponsel pintar pribadi mereka.
Perangkat, aplikasi, dan perangkat lunak ini, beserta data perusahaan yang diakses, tidak terlihat oleh TI (shadow IT), yang secara dramatis meningkatkan risiko keamanan organisasi.
Cloud telah menjadi tulang punggung penting bagi sebagian besar organisasi. Pada tahun 2020, 61% bisnis di AS memindahkan beban kerja ke cloud untuk mendukung kerja jarak jauh dan akses cepat ke data perusahaan.
Tahun 2002, 60% seluruh data perusahaan disimpan di komputasi cloud. Meskipun cloud memberikan fleksibilitas dan potensi peningkatan produktivitas, ia juga memperkenalkan risiko yang tidak mudah diidentifikasi. Seiring dengan meluasnya operasi cloud, ancaman keamanan juga semakin meningkat.
Pelaku ancaman terus mengembangkan taktik untuk mengganggu penggunaan ponsel pintar dan tablet serta internet publik untuk terhubung ke cloud.
Alih-alih mengirim email phishing ke komputer desktop, penyerang menyesuaikan kampanye rekayasa sosial menggunakan pesan teks SMS, aplikasi media sosial, atau aplikasi lain apa pun dengan fungsi perpesanan.
Dengan banyaknya layanan cloud, semakin sulit memantau pengaturan setiap layanan individual serta kapan harus memperbaruinya.
Akibatnya, kesalahan konfigurasi dan kerentanan menjadi lebih umum, memberikan penyerang cara lain untuk membahayakan data organisasi atau individu di cloud. (ndi/national today)
