• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Peristiwa Negatif Memicu Gejala Depresi pada Remaja Putri dan Putra.
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Peristiwa Negatif Memicu Gejala Depresi pada Remaja Putri dan Putra.

Redaktur III Rabu, 1 Juli 2026
Share
5 Min Read
Ilustrasi depresi/ Foto: freepik
Ilustrasi depresi/ Foto: freepik

Aktual.co.id – Sebuah studi longitudinal selama 12 bulan terhadap remaja menemukan bahwa yang mengalami lebih banyak peristiwa negatif dalam hidup cenderung memiliki gejala depresi lebih parah.

Remaja putri yang mengalami lebih banyak peristiwa negatif dalam hidup melaporkan peningkatan gejala evaluasi diri negatif yang lebih besar daripada remaja putra. Makalah ini diterbitkan di Scientific Reports .

Depresi adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai kesedihan yang terus-menerus, kekosongan, atau hilangnya minat pada aktivitas.

Dikutip dari Psypost, gangguan ini memengaruhi seseorang merasa, berpikir, berperilaku, dan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Gejala umum meliputi suasana hati yang rendah, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, masalah tidur, perubahan nafsu makan, dan perasaan tidak berharga atau bersalah.

Beberapa orang juga mengalami iritabilitas, ketidaknyamanan fisik, gerakan yang melambat, atau gelisah. Depresi lebih parah dan berlangsung lebih lama daripada kesedihan biasa yang disebabkan oleh kekecewaan sehari-hari.

Peristiwa kehidupan yang sulit dapat berkontribusi pada depresi, tetapi depresi dapat berkembang tanpa penyebab eksternal yang jelas.

Diagnosis umumnya membutuhkan gejala yang berlangsung setidaknya selama dua minggu dan menyebabkan penderitaan atau gangguan yang berarti.

Penulis studi, Kate Ryan Kuhlman dan rekan-rekannya, meneliti bagaimana stres berkontribusi terhadap timbulnya depresi pada remaja mengeksplorasi hubungan antara peristiwa kehidupan negatif dan gejala depresi.

Baca Juga:  Jika Ingin Memiliki Ketangguhan Mental Lakukan Hal Berikut Ini

Peneliti mencatat bahwa risiko gangguan kejiwaan meningkat selama masa remaja. Sebuah studi menemukan empat persen anak berusia 12 tahun menderita depresi, tetapi angka ini meningkat menjadi hampir 14 persen pada usia 15 tahun.

Peristiwa negatif dalam hidup adalah pengalaman yang menimbulkan stres atau membahayakan yang dapat memengaruhi kesejahteraan emosional atau psikologis seseorang secara negatif.

Pada masa remaja, peristiwa seperti perceraian orang tua, perundungan, kehilangan orang terkasih, konflik keluarga, kegagalan akademis, penyakit, pelecehan, atau masalah pertemanan dan hubungan.

Peserta penelitian terdiri dari 97 remaja yang terdaftar dalam Teen Resilience Project, sebuah studi prospektif dan longitudinal tentang faktor-faktor perilaku yang menghubungkan kesulitan di awal kehidupan dengan timbulnya depresi. Usia rata-rata peserta adalah 14 tahun. Sekitar 46 persen dari mereka adalah perempuan.

Para penulis studi merekrut peserta dengan mengirimkan surat massal ke rumah-rumah yang memiliki remaja. Surat ini berisi undangan kepada orang tua untuk menghubungi para peneliti guna mempelajari lebih lanjut. Remaja memenuhi syarat untuk berpartisipasi berusia antara 11 dan 17 tahun.

Baca Juga:  Tanda Saatnya Seseorang Detok dari Media Sosial Menurut Psikologi

Para peserta mengisi kuesioner di awal penelitian, dan pada bulan keempat, kedelapan, dan ke-12 setelah pendaftaran.

Selama penelitian, peserta menyelesaikan penilaian peristiwa kehidupan negatif menggunakan daftar periksa 18 item yang menanyakan tentang kejadian stres yang melibatkan keluarga, teman, dan sekolah.

Pada awal penelitian, peserta menyelesaikan penilaian tentang kesulitan hidup di masa kanak-kanak. Orang tua menyelesaikan penilaian serupa mengenai pengalaman masa kecil yang merugikan.

Para peneliti menggunakan alat-alat ini untuk mengambil sampel peserta yang mengalami kesulitan hidup di masa kanak-kanak secara berlebihan, yang merupakan faktor risiko depresi yang diketahui.

Para penulis studi melaporkan bahwa peristiwa kehidupan negatif umum terjadi dalam sampel mereka. Partisipan melaporkan mengalami satu peristiwa kehidupan negatif dalam 71 persen penilaian.

Pada setiap titik waktu, antara 20 dan 30 persen partisipan melaporkan gejala depresi yang meningkat secara klinis, sementara 13 persen diidentifikasi mengalami episode depresi penuh pada suatu titik selama periode studi.

Selama periode penelitian, gejala depresi peserta cenderung meningkat. Peningkatan ini pada suasana hati disforik dan keluhan somatik.

Anhedonia dan evaluasi diri negatif tidak berubah secara signifikan dari waktu ke waktu untuk kelompok secara keseluruhan.

Baca Juga:  Akibat Pikiran Tidak Tenang dan Memancing Emosi

Suasana hati disforik adalah keadaan kesedihan, iritabilitas, kegelisahan, atau tekanan emosional yang menetap. Keluhan somatik adalah gejala fisik seperti sakit kepala, kelelahan, nyeri, masalah tidur, atau ketidaknyamanan perut.

Peserta yang mengalami lebih banyak peristiwa negatif secara keseluruhan cenderung memiliki gejala depresi yang lebih parah.

Hubungan ini sebagian besar disebabkan peningkatan evaluasi diri negatif. Anak perempuan yang mengalami lebih banyak peristiwa negatif cenderung melaporkan peningkatan evaluasi diri negatif yang jauh lebih besar daripada anak laki-laki.

“Data yang ada saat ini mendukung hubungan yang mapan antara peristiwa negatif dan gejala depresi, khususnya gejala evaluasi diri negatif dan di kalangan perempuan,” ungkap peneliti.

Data ini mendukung upaya untuk mencegah depresi di kalangan remaja yang terpapar pengalaman buruk di masa kanak-kanak dari paparan stres yang berkelanjutan.

Studi ini berkontribusi pada pemahaman ilmiah tentang hubungan gejala depresi dan peristiwa kehidupan negatif. Namun, perlu dicatat studi ini dilakukan pada kelompok kecil remaja dari California selatan.

Hasil pada kelompok budaya tidak identik. Selain itu, desain observasional studi tidak memungkinkan diambil kesimpulan tentng sebab-akibat langsung untuk ditarik dari hasilnya. (ndi/psypost)

SHARE
Tag :Gangguan Cemasgangguan jiwaGangguan MentalPsykologi
Ad imageAd image

Berita Aktual

Ha Jung Woo dan Cha Jung Won / Foto: soompi
Ha Jung Woo dan Cha Jung Won Umumkan Pernikahan
Rabu, 14 Oktober 2026
Antrian pembeli BBM di SPBU Denpasar, Bali/ Foto: ANTARA BALI
Bahlil: Kendaraan Antrian BBM Diduga Karena Isu Distribusi di Bali
Rabu, 14 Oktober 2026
Kepulan asap rudal yang dicegat di Riyadh/ Foto: anadolu
Empat Orang Terluka dan 15 Rumah Rusak Setelah Rudal Houthi Dicegat Jatuh di Riyadh
Rabu, 14 Oktober 2026
Tahanan KPK dalam kasus operasi tangkap tangan di linglungam BNPB keluar dari Gedung Merah Putih KPK/ Foto: courtesy ANTARA
KPK Menahan Lima Orang Tersangka Hasil OTT di Lingkungan BNPB
Rabu, 14 Oktober 2026
Petugas berjuang memadamkan Karhutla/ Foto: Kemenhut
Dampak Polusi Udara Karhutla Terhadap Kesehatan Respirasi
Rabu, 14 Oktober 2026

Mental Health

Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost

Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting

Ilustrasi kebosanan/ Foto: freepik

Penelitian Menyebutkan Kebosanan Bisa Memicu Sikap Agresif

Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik

Pencegahan Bunuh Diri Menekan Angka Kematian Akibat Bunuh Diri di Dunia

Ilustrasi olah raga/ Foto: psypost

Studi Menjelaskan Olah Raga Mampu Meredam Gangguan Depresi

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Penelitian Menyebutkan Kebosanan Bisa Memicu Sikap Agresif

Pemerintah Thailand Mendorong Pensiun Dini Bagi Pegawai Negeri Sipil

KPK Menangkap 14 Orang dalam OTT di Lingkungan BNPB

Israel Menolak Penerbangan Ethiopian Airlines Tujuan Tel Aviv Kerena Pilot WNI

Tiga Negara Mengeluarkan Bersama Mengutuk Serangan Houthi

More News

Hargai setiap emosi yang dicurahkan seseorang / Foto ; Freepik

Alasan Orang Kesulitan Meminta Dukungan Emosional

Sabtu, 19 April 2025
Ilustrasi tetap dalam ketenangan/ Foto: freepik

Prinsip Stoicisme Membantu Mengurangi Kecemasan dan Stress

Sabtu, 8 Maret 2025
Berpelukan bisa melatih kepekaan mental pada anak / Foto : Freepik

Orang yang Jarang Dipeluk Saat Kecil Membawa Pola Emosi Seperti Ini

Kamis, 10 April 2025
Cerdas emosional memiliki pembicaraan produktif/ Foto : Hackspirit

Hal yang Dilakukan oleh Orang Kecerdasan Emosional Tinggi

Kamis, 20 Maret 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id