• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Mengenal Nicolas Maduro yang Kini Ditahan oleh Amerika Serikat
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Headline

Mengenal Nicolas Maduro yang Kini Ditahan oleh Amerika Serikat

Redaktur III Minggu, 4 Januari 2026
Share
7 Min Read
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menghadiri acara militer di Caracas pada 4 Agustus 2018/ Foto: capture Al Jazeera
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menghadiri acara militer di Caracas pada 4 Agustus 2018/ Foto: capture Al Jazeera

Aktual.co.id – Nama Nicolas Maduro, 63 tahun, menjadi mencuat ketika bom dari Amerika Serikat memborbardir Kawasan militer di Caracas, Venezuela, Sabtu (3/1).

Dalam waktu sekejap dirinya diculik beserta istrinya, Cilia Flores, dan dibawa menuju New York Amerika Serikat pada saat itu juga.

Dirinya akan diadili di pengadilan AS atas tuduhan terkait narkoba dan senjata. Lalu siapaka Maduro sesungguhnya. Kenapa dia dikejar dan ditangkap oleh Amerika?

Mengutip dari Al Jazeera, Maduro lahir dalam keluarga kelas pekerja pada tanggal 23 November 1962, di lingkungan El Valle, Caracas.

Orang tuanya adalah Nicolas Maduro Garcia, seorang pemimpin serikat pekerja, dan Teresa de Jesus Moros, yang juga memiliki tiga putri bersama: Maria Teresa, Josefina, dan Anita Maduro.

Maduro dibesarkan di bawah pengaruh politik ayahnya yang sangat besar. Maduro pernah bercerita bahwa kakek-neneknya berasal dari keturunan Yahudi Sephardi, dan berpindah agama menjadi Katolik setelah tiba di Venezuela.

Saat kecil, Maduro adalah penggemar musik rock Barat dan sering mengutip kata-kata dari para artis termasuk John Lennon.

Ia bersekolah di SMA negeri, Liceo Jose Avalos, di El Valle, tempat ia terlibat dalam politik siswa dan dilaporkan menjabat sebagai presiden serikat siswa; namun, tidak ada catatan yang menunjukkan bahwa ia lulus

Ia diyakini telah bergabung dengan Liga Sosialis Venezuela, sebuah partai Marxis-Leninis, pada awal tahun 1980-an.

Pada usia 24 tahun, pada tahun 1986, Maduro dikirim sebagai perwakilan Liga Sosialis ke Kuba selama satu tahun pelatihan politik di Escuela Nacional de Cuadros Julio Antonio Mella, yang dijalankan oleh Persatuan Komunis Muda (UJC).

Baca Juga:  Kebijakan Pembatasan Pers Membuat Wartawan Hengkang dari Pentagon AS

Setelah kembali, ia bekerja sebagai sopir bus di sistem metro kota Caracas, dan mendirikan sekaligus memimpin SITRAMECA, atau Sindicato de Trabajadores y Trabajadoras del Metro de Caracas, pada tahun 1991.

Maduro aktif dalam serikat pekerja transportasi pada akhir tahun 1980-an hingga awal 1990-an. Dia juga mendirikan serikat buruh informal pertama perusahaan tersebut, secara bertahap memasuki pusat kekuasaan melalui politik serikat pekerja.

Sebuah dokumen rahasia tahun 2006 dari Kedutaan Besar AS di Caracas, yang dipublikasikan WikiLeaks, mencatat bahwa Maduro berada di komite nasional Liga Sosialis dan dia dilaporkan menolak kontrak bisbol dari seorang pencari bakat Liga Bisbol Utama AS.

Ia tergerak oleh kepemimpinan Hugo Chavez, seorang letnan kolonel Venezuela yang memimpin gerakan Bolivarian bersenjata yang memberontak melawan sistem yang disebut “Puntofijismo”, sistem demokrasi dua partai Venezuela, dan Presiden petahana Carlos Andres Perez, dengan alasan korupsi.

Pada awal tahun 1990-an, Maduro bergabung dengan MBR-200, sayap sipil gerakan tersebut, dan berkampanye untuk pembebasan Chavez setelah dipenjara karena kudeta yang gagal pada tahun 1992.

Maduro bertemu calon istrinya, Cilia Flores, ketika memimpin tim hukum yang memenangkan kebebasan bagi Chavez pada tahun 1994.

Setelah Chavez diampuni dan dibebaskan, Maduro bergabung dengan Gerakan Republik Kelima, sebuah partai politik sosialis, pada tahun 1997 untuk mengikuti pemilihan umum tahun 1998.

Baca Juga:  PBNU Desak PBB Ambil Langkah Tegas Terkait Serangan Israel ke Iran

Maduro terpilih menjadi anggota Majelis Konstituen Nasional sementara Chavez memenangkan kursi kepresidenan.

Maduro dekat dengan Chavez selama penyusunan konstitusi baru pada tahun 1999. Setelah enam tahun menjabat, ia ditunjuk sebagai menteri luar negeri.

Pada Oktober 2012, Maduro menjadi wakil presiden Venezuela di tengah memburuknya kesehatan Chavez dengan cepat.

Desember 2012, ketika Chavez yang karismatik jatuh sakit dan terbang ke Kuba untuk perawatan kanker, ia menunjuk Maduro, yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden, sebagai penerus politiknya dalam pidato yang disiarkan televisi.

Dalam pemilihan umum setelah kematian Chavez, Maduro menang dengan selisih suara yang tipis pada April 2013.

Ia memulai masa kepresidenannya dengan mengusir para diplomat AS, menyebut mereka sebagai “musuh sejarah” dan menuduh mereka meracuni Chavez. Ia menyebut oposisi domestik sebagai “fasis” yang berupaya “memecah belah negara”.

Maduro mewarisi kendali penuh atas lembaga-lembaga kunci yang telah dibentuk ulang oleh Chavez, termasuk kepemimpinan militer, Mahkamah Agung, dan media pemerintah

Namun, mantan pemimpin serikat pekerja itu tidak memiliki karisma seperti mentornya. Dia harus berurusan dengan ekonomi yang runtuh dan oposisi, termasuk Maria Corina Machado, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2025.

Maria Corina yang menyerukan protes di seluruh negeri, meski ada pertentangan dengan Maduro dengan cara menindak keras orang yang berlawanan dengan kekuatan rezom sehingga menewaskan 43 demonstran.

Baca Juga:  PT Sritex Tutup, Nama Noel Melambung di Media Sosial

Menghadapi tekanan oposisi yang meningkat dan popularitas yang merosot, Maduro membentuk majelis konstituen pro-pemerintah pada tahun 2017 untuk menetralisir lembaga legislatif, yang kini dikendalikan oleh oposisi. Gelombang protes dan penindakan lebih lanjut pun terjadi, dengan pasukan Venezuela menewaskan lebih dari 100 orang.

Sementara itu, perekonomian merosot, dengan hampir 30 juta penduduk Venezuela menghadapi kekurangan kebutuhan pokok, dan produksi minyak turun hingga ke titik terendah.

Dalam pemilihan berikutnya pada tahun 2018, Maduro dinyatakan sebagai pemenang tanpa lawan, tetapi 45 negara, termasuk AS, tidak mengakuinya, dan ia memenjarakan beberapa pemimpin oposisi serta memaksa yang lain untuk mengasingkan diri.

Pada tahun 2024, Maduro terpilih sebagai pemenang pemilihan presiden, yang secara luas dianggap tidak transparan, karena dewan pemilihan gagal menunjukkan lembar penghitungan suara. Protes massal pun berlanjut, dan ditanggapi dengan tindakan keras.

Setelah Presiden AS Trump kembali menjabat kedua kalinya ia meningkatkan tekanan terhadap pemimpin Venezuela.

Pemerintahan Trump memberlakukan tarif 25 persen terhadap Caracas, menggandakan hadiah untuk penangkapan Maduro, dan menjatuhkan sanksi kepada anggota keluarganya.

Sejak September, pasukan AS telah melakukan serangan terhadap kapal-kapal di lepas pantai Venezuela, yang menurut Gedung Putih terlibat dalam “narkoterorisme”.

Hari Sabtu menjadi titik balik, ketika Maduro dan istrinya diculik oleh pasukan khusus AS dan dibawa ke AS untuk menghadapi persidangan atas tuduhan yang diajukan terhadap mereka di AS. (ndi/al Jazeera)

SHARE
Tag :Amerika SerikatCaracasNicolas MaduroVenezuela
Ad imageAd image

Berita Aktual

Bendera Kolumbia/ Foto: wikipedia
Kolumbia Memutuskan Hubungan Diplomatik dengan Iran
Jumat, 25 September 2026
Mivi One 5G/ Foto: GSM Arena
Ponsel Mivi Siap Meluncur di Pasar Global dengan LCD 6,5 Inci
Jumat, 25 September 2026
emas antam / Foto: Ist
Harga Emas Antam Turun Menjadi Rp2.590 Juta Per Gram
Jumat, 25 September 2026
Xi Jinping dan Donald Trump/ Foto: Anadolu
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping Memulai Pertemuan Bilateral
Jumat, 25 September 2026
Ilustrasi Hari Santri Nasional/dok.istimewa
Refleksi Hari Tani: Menanam Masa Depan Indonesia
Kamis, 24 September 2026

Mental Health

Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik

Pencegahan Bunuh Diri Menekan Angka Kematian Akibat Bunuh Diri di Dunia

Ilustrasi olah raga/ Foto: psypost

Studi Menjelaskan Olah Raga Mampu Meredam Gangguan Depresi

Joe Biden/ Foto: capture ANTARA

Hunter Biden: Kanker Prostat Joe Biden Menyebar ke Tulang

Ilustrasi nyeri kepala/ Foto: freepik

Mengenali Nyeri Kepala yang Sering Diderita oleh Setiap Orang

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Pasangan Park Shin Hye dan Choi Tae Joon Menyambut Anak Kedua

Presiden Donald Trump Membantah Kehabisan Amunisi

Yusril: Pemerintah Menghormati KPK Jika Ingin Memeriksa Nusron Wahid

Menlu Iran Bertemu Utusan Khusus AS Membahas Syarat Pembukaan Selat Hormuz di PBB

Jenazah di Bengkulu Adalah Sukarman ABK KM Arupadatu I yang Membawa 5 Jurnalis

More News

Menteri HAM Natalius Pigai / Foto: IG

MenHAM: Beberapa Negara Menyediakan Ruang Khusus untuk Unjuk Rasa

Senin, 15 September 2025
dr. Tompi/ Foto: capture kavacare

dr.Tompi: Sudah Diguyur Rp200 T Tapi Bunga Masih Tinggi

Minggu, 21 September 2025
Unjuk rasa siswa menolak program Makan Bergizi Gratis di Papua

Papua Menguat di Media Sosial Tentang Unjuk Rasa Siswa Menolak Makan Bergizi Gratis

Senin, 17 Februari 2025
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (kedua kiri) serta Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad (keempat kiri) menyampaikan keterangan kepada pers terkait Satuan Tugas Mitigasi Pemutusan Hubungan Kerja / Foto: ANTARA

Mensesneg Prasetyo Hadi Ditunjuk Menjadi Ketua Satgas Mitigasi PHK

Jumat, 26 Juni 2026
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id