• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Dari “Pertamax Oplosan” hingga Momentum Bersih-Bersih: Strategi Komunikasi Publik yang Relevan Hadapi Krisis
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pakar Menulis

Dari “Pertamax Oplosan” hingga Momentum Bersih-Bersih: Strategi Komunikasi Publik yang Relevan Hadapi Krisis

Redaktur Senin, 3 Maret 2025
Share
7 Min Read
Ilustrasi Pertamax yang sedang ramai/istimewa
Ilustrasi Pertamax yang sedang ramai/istimewa

Aktual.co.id – Dalam beberapa pekan terakhir, isu mengenai “Pertamax Oplosan” telah menjadi perhatian utama publik. Berawal dari berita korupsi di PT Pertamina Patra Niaga yang menyeret petinggi perusahaan, narasi ini berkembang luas di media sosial. Masyarakat menerima informasi ini bahwa Pertamax yang mereka beli adalah hasil campuran dari Pertalite, sementara mereka telah membayar dengan harga yang lebih tinggi. Ketidakpercayaan publik semakin meningkat karena persepsi bahwa mereka telah ditipu oleh perusahaan milik negara yang seharusnya menjaga transparansi dan kredibilitasnya.

Dampak dari isu ini tidak hanya berhenti di media sosial. Gelombang kekecewaan berubah menjadi aksi nyata dengan meningkatnya jumlah konsumen yang beralih dari SPBU Pertamina ke SPBU swasta seperti Shell. Fenomena ini terlihat dari antrean panjang di berbagai SPBU non-Pertamina yang menjadi konten di berbagai media sosial. Perpindahan konsumsi ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat tidak hanya sekadar membicarakan isu ini, tetapi juga mengambil keputusan ekonomi berdasarkan kepercayaan.

Dalam era digital, netizen memiliki peran besar dalam membentuk, menyebarkan, dan mengarahkan opini publik terhadap suatu isu. Fenomena Mass-Self Communication-nya Manuel Castells. Berdasarkan analisis pola perilaku digital, perkembangan isu ini mengikuti tahapan digital activism, yang akhirnya membentuk gerakan perlawanan terhadap Pertamina.

Tahap pertama dimulai dengan profiling, di mana netizen mulai menggali informasi terkait dugaan korupsi dan praktik bisnis Pertamina. Mereka berbagi cerita, berita dan dokumen terkait serta mengaitkan isu ini dengan berbagai skandal sebelumnya. Ketika Pertamina memberikan klarifikasi bahwa Pertamax bukan hasil oplosan, tetapi merupakan produk yang melalui proses blending yang sah, publik tidak serta-merta menerima penjelasan tersebut. Ketidakpercayaan ini diperburuk oleh rekam jejak korupsi di sektor energi, membuat netizen lebih percaya pada narasi yang berkembang di media sosial ketimbang klarifikasi resmi dari Pertamina. Kontestasi diksi “oplosan” dan “blending”, hal yang wajar dalam digital activism.

Baca Juga:  Prof. Ignatia Martha Hendrati, Guru Besar Ekonomi Internasional Penggagas Countertrade sebagai Solusi Perdagangan Global

Situasi ini kemudian berkembang ke tahap kedua, yaitu skeptisisme dan resistensi. Di media sosial, banyak netizen yang tidak hanya menyuarakan ketidakpuasan, tetapi juga menyerukan boikot terhadap SPBU Pertamina. Narasi seperti “Mending ke Shell aja” atau “Lebih baik bayar mahal tapi yakin kualitasnya” semakin muncul dalam perbincangan digital.

Pada tahap ketiga, yakni aksi kolektif, fenomena ini berubah menjadi gerakan nyata. Masyarakat mulai menghindari SPBU Pertamina, dan antrean panjang di SPBU swasta ini menjadi bukti konkret bahwa netizen tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak. Boikot ini berpotensi berkembang lebih jauh menjadi cancel culture, di mana masyarakat secara sistematis menolak produk Pertamina, bukan hanya karena dugaan oplosan, tetapi karena “ketidakpercayaan yang lebih dalam terhadap pengelolaan Perusahaan”.

Dalam menghadapi situasi ini, langkah yang perlu diambil bukan hanya sekadar mengontrol narasi di media sosial atau menggunakan influencer untuk membentuk opini publik. Justru ini adalah momentum terbaik bagi Pertamina untuk melakukan reformasi besar-besaran dan membangun kembali kepercayaan masyarakat melalui transparansi dan akuntabilitas yang nyata. Alih-alih hanya fokus pada klarifikasi teknis mengenai blending dan produksi BBM, Pertamina harus menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar serius dalam membersihkan diri dari praktik korupsi. Publik tidak hanya menuntut jawaban terkait isu Pertamax oplosan, tetapi juga ingin melihat adanya perubahan struktural yang menghilangkan potensi penyimpangan di masa depan.

Baca Juga:  Riza Chalid Jadi Gunjingan Warganet Pasca Anaknya M Kerry Adrianto Riza Jadi Tersangka BBM Oplos

Salah satu langkah paling krusial adalah transparansi dan akuntabilitas sebagai prioritas utama. Alih-alih hanya membantah tuduhan, Pertamina harus membuka akses informasi seluas mungkin terkait proses produksi BBM. Audit independen harus segera dilakukan dan dipublikasikan kepada masyarakat. Hasilnya tidak boleh hanya berupa pernyataan normatif, tetapi harus disajikan dalam format yang dapat dengan mudah dipahami oleh masyarakat. Jika memang terjadi pelanggaran, Pertamina harus menunjukkan komitmen untuk menindaklanjuti dan membersihkan manajemen dari oknum yang terlibat.

Selain itu, komunikasi publik yang lebih personal dan langsung juga harus diperkuat. Daripada hanya menggunakan influencer, Pertamina dan pemerintah perlu hadir secara langsung di hadapan publik, baik melalui media konvensional maupun digital. Direktur utama atau pejabat terkait harus secara aktif berkomunikasi dalam forum publik, talk show, atau diskusi terbuka untuk menjelaskan langkah-langkah yang diambil dalam menghadapi krisis ini. Gunakan pendekatan humanis, di mana para pejabat tinggi Pertamina tidak hanya berbicara sebagai korporasi, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang juga ingin memastikan kualitas BBM yang mereka gunakan sehari-hari.

Penting pula untuk melibatkan masyarakat dalam reformasi. Membentuk forum pengaduan terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan terkait BBM, baik dari sisi kualitas maupun pelayanan di SPBU, bisa menjadi langkah awal. Selain itu, akademisi dan komunitas konsumen perlu dilibatkan dalam melakukan pengawasan bersama terhadap produksi dan distribusi BBM. Masyarakat harus diberikan akses untuk ikut serta dalam pengawasan harga dan kualitas BBM secara langsung, bukan hanya mengandalkan informasi dari pemerintah dan Pertamina.

Dari sisi digital, strategi mengontrol narasi di media sosial secara organik juga harus diperhatikan. Alih-alih hanya melakukan damage control melalui influencer atau media resmi, Pertamina harus mulai membangun komunitas digital yang dapat menjadi suara organik dalam membela perusahaan. Karyawan Pertamina sendiri bisa lebih terbuka dalam menjelaskan bagaimana mereka bekerja dan memastikan kualitas BBM. Selain itu, konten edukatif berbasis data dapat digunakan untuk menjelaskan proses produksi Pertamax secara lebih transparan dan dapat dipercaya oleh masyarakat.

Baca Juga:  Implementasi Nilai Pancasila, Mahasiswa UPNVJT Gelar Workshop “Belajar Figma”

Kasus “Pertamax Oplosan” menjadi bukti bahwa krisis komunikasi di era digital tidak bisa hanya diatasi dengan klarifikasi atau pengelolaan narasi media sosial. Publik tidak hanya menginginkan jawaban teknis, tetapi juga komitmen nyata dalam membersihkan Pertamina dari praktik korupsi. Jika Pertamina dan pemerintah dapat menggunakan momentum ini untuk melakukan reformasi menyeluruh, krisis ini justru bisa menjadi titik balik untuk membangun kembali kepercayaan publik. Namun, jika hanya fokus pada strategi komunikasi dangkal seperti menggunakan influencer atau sekadar membantah tuduhan tanpa tindakan konkret, maka bukan tidak mungkin boikot dan cancel culture terhadap Pertamina akan semakin kuat dan berkelanjutan yang dapat berimbas pada kebijakan Nasional.

Kunci utama dalam mengelola isu ini bukan hanya bagaimana mengendalikan narasi, tetapi bagaimana menunjukkan perubahan nyata yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, maka bukan hanya Pertamina yang akan kembali dipercaya, tetapi juga sektor energi nasional secara keseluruhan.

 

Dr. Irwan Dwi Arianto, M.I.Kom.

Pengasuh Rubrik Big Data di Aktual.co.id

Kepala Laboratorium Integrated Digital – FISIBPOL – UPN “Veteran” Jatim

Founder ASIGTA Group

SHARE
Tag :Pakar menulisPertamaxPertamax OplosanPertamina Patra Niaga
Ad imageAd image

Berita Aktual

Ilustrasi Tes Kemampuan Akademik / Foto: Ist
Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tingkat SD/MI/Sederajat Digelar 20 Hingga 30 April 2026
Minggu, 19 April 2026
Justin Bieber dan Billie Billie Eilish / Foto: variety
Justin Bieber Kolaborasi dengan Billie Eilish dan SZA di Panggung Coachella
Minggu, 19 April 2026
BXB/ Foto: Allkpop
BXB Meresmikan Akan Bubar Setelah Kontrak Berakhir
Minggu, 19 April 2026
Jusuf Kalla ketika jumpa pers/ Foto: capture ANTARA
Sebagai Sosok yang Lebih Senior JK Memberikan Nasihat kepada Jokowi
Minggu, 19 April 2026
Penampakan Aurora/ Foto: time and date
Aurora Badai Matahari Kembali Terjadi dan Bisa Dilihat AS Bagian Utara
Minggu, 19 April 2026

Mental Health

Ilustrasi/ Foto: freepik

Cara Kendalikan Diri Ketika Menghadapi Situasi Penuh Emosi

Ilustrasi penyakit Chagas/ Foto: national today

Mengenal Penyakit Chagas yang Diperingati 14 April untuk Menekan Penyebaran

Main games strategi bisa meningkatkan kinerja otak/ Foto: freepik

Begini Cara Meningkatkan Kerja Otak Menjadi Maksimal

Ilustrasi cara melihat orang lain / Foto: freepik

Berikut Melihat Karakter Seseorang dari Cara Bersikap

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Berikut Curahan Animator Film The Legend of Aang: The Last Airbender yang Kecewa Film Bocor

Yulia Baltschun Beri Pesan Kepada yang Terjebak Cinta Segitiga Setelah Suaminya Selingkuh

Zeda Salim Memutuskan Lepas Hijab untuk Bekerja Menafkahi Anak

Film Salmokji: Whispering Water Mencapai Box Office dalam 10 Hari

Selat Hormuz Dibuka Penuh oleh Iran Selama Gencatan Senjata

More News

Ilustrasi pinjaman dari Japan Bank / Foto: AI

Ekonomi Indonesia Dipersimpangan Hutang Jepang dan Amerika

Kamis, 18 Desember 2025
Ilustrasi depresi bisa memicu bunuh diri / Foto: freepik

Bersama Mencegah Bunuh Diri

Rabu, 10 September 2025
Foto bersama seusai acara/dok.aktual.co.id

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Tanamkan Nilai Gotong Royong Sejak Dini di SDN Sepanjang 1 Sidoarjo

Sabtu, 15 November 2025
Pertemuan CLAS dengan Universidad de La Plata, Argentina/dok.aktual.co.id

UPN Veteran Jatim dan Universidad de La Plata Argentina Jalin Kerja Sama Akademik Lintas Kawasan

Sabtu, 25 Oktober 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id