• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Ekonomi Indonesia Dipersimpangan Hutang Jepang dan Amerika
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pakar Menulis

Ekonomi Indonesia Dipersimpangan Hutang Jepang dan Amerika

Redaktur III Kamis, 18 Desember 2025
Share
8 Min Read
Ilustrasi pinjaman dari Japan Bank / Foto: AI
Ilustrasi pinjaman dari Japan Bank / Foto: AI

Sejarah Singkat Bubungan Keuangan Jepang – Amerika

Selama puluhan tahun pemerintah jepang adalah tonggak terbesar yang menopang ekonomi Amerika Serikat di belakang layar.

Melalui mekanismenya, pemerintahan Jepang memberikan legalitas kepada Bank of Japan “BOJ” (Bank Sentral Jepang) untuk menyediakan likuiditas berbunga rendah yang disebut sebagai zero interest rate policy (secara definitif hampir nol yakni sebesar “0.001% atau 0.03%”) yang dimulai sejak era 90’an.

Awal mula kebijakan ini bermula dari keinginan pemerintah Jepang memerangi deflasi yang dikhawatikan memiliki implikasi negatif bagi perekonomiannya.

Kebijakan ini berdampak pada kemudahan bagi pelaku keuangan dunia atas dana masif yang besar dan digunakan sebagai dasar membeli portofolio keuangan dunia.

Salah satu penggunaannya adalah untuk membeli surat hutang negara Amerika atau “US T (Treasury) – Bond”. Perlu juga diketahui Jepang menjadi pemegang terbesar US T-Bond dengan nilai mencapai USD$ 1 Triliun.

US T-Bond ini yang dijadikan aset oleh pemerintah Jepang sebagai dasar pengamanan keuangan dan penjamin hubungan multilateral serta perdagangan.

Amerika pun diuntungkan dengan adanya mekanisme ini yang membuatnya menjadi negara yang hampir pasti selalu memiliki penjamin atas setiap surat hutang yang diterbitkannya dengan imbal jasa kekuatan Amerika untuk menyokong kebijakan perdagangan jepang.

Kebijakan Impulsif Amerika Serikat

Ketidak-konsistensi-an kebijakan ekonomi dan luar negeri pemerintah Amerika Serikat dalam perannya di kancah global telah merubah sudut pandang dunia terhadap Amerika.

Kebutuhan atas entitas yang tegas dan fair serta menarik diri dari WTO, Paris Climate Agreement, dan beberapa kancah internasional lain telah menciptakan keraguan besar di mata negara-negara sekutunya termasuk Jepang.

Hubungan simbiosis finansial Jepang-Amerika ditengarai runtuh saat Presiden Trump memberlakukan kebijakan tarif perdagangan kepada negara manapun baik kawan maupun lawan termasuk Jepang.

Negara manapun yang membukukan keuntungan atas perdagangan dengan Amerika dianggap merugikan negara tersebut karena menciptakan perdagangan yang defisit, dan tidak fair di mata presiden Trump.

Baca Juga:  Dampak Pasca Robohnya Gedung PP Al Khoziny Sidoarjo Terhadap Kesehatan Paru dan Pernafasan.

Amerika pun mencoba menekan rem defisit perdagangan dengan memberikan tarif perdagangan yang besar. Perang tarif ini menciptakan inflasi di negara jepang.

Bukan karena tingginya konsumsi domestik namun pasar perdagangan dunia menjadi lebih sulit dan memunculkan dampak sistemik tarif yang berakibat naiknya kebutuhan dunia secara global termasuk di Jepang.

Burung Kenari dalam Tambang Batubara

Dahulu kala burung kenari kerap dijadikan pertanda adanya bahaya monoksida yang bisa membawa racun yang sunyi tetapi mematikan di dalam tambang batubara saat era revolusi industri.

Metode ini diketahui menyelamatkan banyak penambang dikala itu, dikarenakan karakteristik burung kenari yang haus akan oksigen dan sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Dikatakan Burung kenari akan terlihat gelisah bila instingnya bekerja terhadap bahaya. Diibaratkan seekor burung kenari yang dibawa oleh penambang batubara, saat ini Jepang diindikasi mengambil langkah melepas US T-Bond secara berkala.

Selain itu, Jepang perlahan-lahan meningkatkan suku bunga tahunan hingga mencapai 0,75%. Walaupun terlihat kecil bagi orang awam, suku bunga ini menjadi besar bila dikalikan dengan dana Jepang yang telah keluar ke pasar keuangan global sebesar USD$ 132 Milyar untuk kembali masuk ke dalam pasar keuangan domestik Jepang.

Dengan mendasarkan alasan mengatasi inflasi dalam negeri Jepang, muncul kekhawatiran langkah ini berdampak sistemik terhadap keuangan Amerika.

Apalagi saat ini negara pemegang US T-Bond terbesar kedua setelah Jepang adalah China, yang tengah bersitegang dengan Amerika. Sehingga sangat logis terdapat kekhawatiran Amerika kehilangan negara-negara kaya yang rela membeli surat hutangnya secara perlahan yang dimulai dari Jepang, kreditur terbesarnya.

Seperti layaknya Burung Kenari yang gelisah akan sinyal bahaya, langkah Jepang ini adalah sinyal awal akan bahaya ekonomi sistemik yang bisa menciptakan domino effect, termasuk ke pasar keuangan Indonesia.

Baca Juga:  Sanae Takaichi Terpilih Sebagai Perdana Menteri Jepang yang Baru

Skenario 1, Kepercayaan atas US T-Bond masih ada

Bagi Indonesia bila US T-Bond masih dipercaya namun mulai ditinggalkan dominasi perannya oleh negara lain, maka akan memicu The Fed menaikkan suku bunga T-Bond yang tinggi agar menarik pasar.

Langkah ini yang diikuti oleh naiknya suku bunga Bank Sentral Jepang pasti akan berimplikasi pada larinya modal internasional dan regional, berujung pada pembengkakan pada hutang negara Indonesia yang menggunakan nominasi dollar sebagai pembayarannya.

Larinya modal dari indonesia juga berdampak pada penurunan nilai bursa efek, hengkangnya penanam modal asing dan memicu pelemahan rupiah.

Merosotnya rupiah akan berdampak pada besaran nilai impor indonesia dan memicu inflasi lebih tinggi serta menenggelamkan ekonomi lebih dalam lagi. Hal ini berdampak spiral efek yang tidak berhenti namun ke arah negatif.

Skenario 2, Kepercayaan atas US T-Bond Lemah atau Hilang

Ini adalah asumsi gila yang saya sendiri berharap tidak terjadi. Skenario ini tidak hanya beranalogi badai ekonomi tetapi bagaikan Tsunami Aceh yang menerpa persis di jantung ekonomi Indonesia.

Berawal dari penjualan US T-Bond oleh Jepang, sekutu Amerika di Asia. Langkah ini diikuti oleh sekutu-sekutu Amerika lainnya yang juga merangkak menjualnya perlahan-lahan dan menciptakan kepanikan pasar dengan menjual ramai-ramai US Bond oleh pasar keuangan global.

Asumsi gila ini bukannya tidak mungkin terjadi, pasar bisa saja meragukan kemampuan Amerika Serikat sebagai the last resort karena merasa ragu atas kemampuannya membayar hutang jumbonya yang sudah sebesar USD$34 Triliun (120% dibandingkan pendapatan nasionalnya).

Ditambahkan oleh kegagalan pemerintahan internal Amerika dalam mendorong perekonomian, gagal menarik industri untuk berproduksi didalam negeri, gagal menjaga status quo Petro-Dollar dan menciptakan dominasi produk global serta diikuti oleh kegagalan militer Amerika yang salah satunya seperti terjadi di Afghanistan maka dapat berimplikasi menghilangkan dominasinya sebagai polisi dunia.

Baca Juga:  Dubai Airports Diberlakukan Penerbangan Terbatas Usai Konflik Iran Vs Israel dan USA

Asumsi distrust dapat berujung pada suku bunga The Fed yang juga naik secara menggila. Pasar dunia yang meragukan kemampuan Amerika akan berujung pada kegagalan pasar keuangan global, bagi dunia ini adalah bencana nuklir ekonomi.

Bagi indonesia, cadangan devisa dan simpanan swasta yang umumnya berbentuk US T-Bond serta merta ter-reset nilainya di buku neraca perdagangan.

Negara maupun pelaku pasar Indonesia akan kehilangan asetnya seketika. Perdagangan yang tetap menggunakan dolar sebagai nilai kontrak maka akan berujung pada nilai impor yang melesat tak terkendali.

Seperti halnya skenario 1, skenario 2 akan melibas fundamental ekonomi Indonesia bila tidak bersiap siap sejak sekarang.

Posisi Indonesia

Walaupun begitu, untungnya pasar dunia bertahap menghilangkan 100% ketergantungan pada dollar dan menggunakan mata uang domestik sebagai dasar perdagangan bilateral.

Meskipun hanya sebagian kecil, tetapi semenjak China dapat meyakinkan Arab Saudi untuk menjual minyaknya menggunakan Yuan dan mendorong dunia bertransaksi secara bilateral tanpa dolar seperti halnya perdagangan Yuan-Rupiah, Saya meyakini efek ini akan mampu ter-netralisir.

Semua skenario di atas bukan hanya prediksi, Jepang memiliki semua alasan untuk mengeksekusi langkah tersebut.

imajinasi krisis ini menunjukkan indonesia perlu membangun kedaulatan pada fundamental ekonomi yang resilien, tujuan ekspor yang terdiversifikasi, permintaan domestik yang kuat, hutang yang terkendali, dan kestabilan sosial politik.

Namun seperti halnya burung kenari di dalam tambang batubara, Indonesia adalah salah satu penambangnya, apakah indonesia mampu keluar cepat dari dalam tambang sebelum racun monoksida yang mematikan telah memenuhi ruangan.

Arif Zeinfiki Djunaedi
Arif Zeinfiki Djunaedi

Penulis:

Arif Zeinfiki Djunaedi

Dosen dan Pengamat Ekonomi Universitas Hayam Wuruk Perbanas

disunting oleh :

Andi Prasetyawan – Editor Aktual

SHARE
Tag :Amerika SerikatEkonomiJepangPerbankan
Ad imageAd image

Berita Aktual

Ahmad Hidayat/ Foto: dok AHa
Ahmad Hidayat Gabung PSI Sesuai Semangat Soekarnoisme dan Marhaenisme
Kamis, 15 Oktober 2026
Letjen TNI Kristomei Sianturi / Foto: Ist
Letjen TNI Kristomei Sianturi Dilanti Menjadi Kepala BNPB
Kamis, 15 Oktober 2026
Mencuci tangan/ Foto: freepik
Cuci Tangan Mampu Menurunkan Penyebaran Infeksi dan Menyelamatkan Nyawa
Kamis, 15 Oktober 2026
Ilustrasi mendengarkan musik/ Foto: freepik
Mendengarkan Musik Jazz dari Platform Digital Diyakini Mampu Meredam Stres
Kamis, 15 Oktober 2026
Ha Jung Woo dan Cha Jung Won / Foto: soompi
Ha Jung Woo dan Cha Jung Won Umumkan Pernikahan
Rabu, 14 Oktober 2026

Mental Health

Mencuci tangan/ Foto: freepik

Cuci Tangan Mampu Menurunkan Penyebaran Infeksi dan Menyelamatkan Nyawa

Ilustrasi mendengarkan musik/ Foto: freepik

Mendengarkan Musik Jazz dari Platform Digital Diyakini Mampu Meredam Stres

Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost

Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting

Ilustrasi kebosanan/ Foto: freepik

Penelitian Menyebutkan Kebosanan Bisa Memicu Sikap Agresif

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

KPK Menangkap 14 Orang dalam OTT di Lingkungan BNPB

Penelitian Menyebutkan Kebosanan Bisa Memicu Sikap Agresif

Dirut PT Pertamina Meminta Maaf Atas Antrian Konsumen BBM di Bali

Pemerintah Thailand Mendorong Pensiun Dini Bagi Pegawai Negeri Sipil

Israel Menolak Penerbangan Ethiopian Airlines Tujuan Tel Aviv Kerena Pilot WNI

More News

Bendera AS berkibar di Pelabuhan Los Angeles/ Foto: The Guardian

Tarif Global Baru Donald Trump Sebesar 10% Sudah Mulai Berlaku

Selasa, 24 Februari 2026
Kapal tanker di Selat Hormuz/ Foto: The Guardian

Penutupan Selat Hormuz Bisa Mengancam Ketersediaan Pertanian Pangan Dunia

Kamis, 5 Maret 2026
Kapal di Selat Hormuz/ Foto: the guardian

Harga Minyak Naik Dampak Perang yang Terjadi di Iran

Senin, 2 Maret 2026
Ilustrasi gempa bumi / Foto: freepik

Gempa Bumi Magnitudo 5,8 Melanda Lepas Pantai Prefektur Aomori di Jepang

Sabtu, 1 Agustus 2026
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id