Aktual.co.id – Sebuah studi psikologis mengungkapkan bahwa obsesi terhadap selebriti sangat terkait dengan gejala depresi dan kecemasan.
Tetapi jika dihubungkan dengan trauma masa kanak-kanak ternyata kenyatannya sangat rumit.
Para peneliti menemukan meskipun peristiwa traumatis di masa kanak-kanak pernah dialami seseorang, namun tidak langsung meningkatkan kekaguman terhadap selebriti dengan meningkatkan tekanan mental. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Psychological Reports .
Studi ini bertujuan memahami motif psikologis yang mendorong orang mengidolakan tokoh-tokoh terkenal. Psikolog memandang kekaguman terhadap selebriti melalui kerangka kerja yang disebut model penyerapan-kecanduan.
Menurut kerangka kerja ini, minat seseorang terhadap selebriti sering dimulai melalui cara yang sehat. Orang-orang menikmati menonton film atau mendengarkan musik, dan menikmati mendiskusikan para penghibur ini dengan teman-teman sebaya mereka.
Namun bagi sebagian kecil individu, fokus hiburan ini perlahan-lahan berubah menjadi keterikatan obsesif. Orang yang mengembangkan keterikatan yang tidak sehat merasa memiliki kebutuhan kompulsif untuk mempelajari detail intim kehidupan pribadi seorang selebriti.
Penelitian sebelumnya telah mengaitkan tingkat fanatisme ekstrem dengan kerentanan pribadi, seperti rasa identitas yang lemah atau kesehatan mental yang buruk.
Studi ini memperluas gagasan dengan mengevaluasi trauma masa kecil dan ciri-ciri interpersonal dapat berkontribusi pada keterikatan ini.
Penelitian ini dilakukan oleh tim kolaboratif yang terdiri dari para psikolog. Lynn E. McCutcheon dari North American Journal of Psychology memimpin proyek ini.
McCutcheon bekerja sama dengan para ilmuwan dari Western Kentucky University, Farmingdale State College, Elmhurst University, Rollins College, dan Eötvös Loránd University di Hongaria.
Bersama-sama merancang proyek untuk menguji validitas survei yang baru dipersingkat yang digunakan mengukur sikap terhadap selebriti.
Untuk mencapai tujuan ini, tim peneliti merekrut 367 mahasiswa sarjana dari empat institusi Amerika. Partisipan sebagian besar adalah perempuan dengan usia rata-rata dua puluh tahun.
Setiap partisipan menyelesaikan serangkaian kuesioner daring yang dirancang mengevaluasi empat area psikologis yang berbeda.
Survei tersebut mengukur sikap terhadap selebriti, tekanan psikologis, kepedulian patologis terhadap orang lain, dan pengalaman masa kecil yang buruk.
Tekanan psikologis diukur dengan menanyakan kepada peserta tentang perasaan depresi, kecemasan, dan stres umum.
Kepedulian patologis menggambarkan jenis perilaku interpersonal tertentu di mana seseorang berfokus pada kebutuhan orang lain sambil mengabaikan kebutuhan dasar mereka sendiri.
Kepedulian patologis sering kali didorong oleh rasa bersalah, kebutuhan yang besar untuk diterima, dan ketakutan yang intens akan ditinggalkan. Individu-individu ini akan menekan keinginan sendiri untuk mempertahankan hubungan yang rapuh.
Para peneliti mengukur pengalaman masa kecil yang buruk. Istilah ini merujuk pada peristiwa traumatis yang terjadi sebelum seseorang mencapai usia delapan belas tahun.
Contohnya mengalami pelecehan fisik atau verbal, menderita pengabaian ekstrem, atau tinggal di lingkungan yang berbahaya.
Mengalami trauma berat di usia muda secara teratur dikaitkan masalah kesehatan mental di masa dewasa. Para peneliti berteori kesulitan awal ini membuat orang rentan membentuk keterikatan obsesif dengan orang asing yang terkenal.
Untuk menganalisis data survei, para peneliti menggunakan teknik statistik yang disebut model jalur. Metode ini memungkinkan para ilmuwan melihat hubungan yang saling tumpang tindih pada waktu yang bersamaan.
Alih-alih hanya melihat dua variabel secara terpisah, model jalur mengungkapkan bagaimana sifat psikologis berinteraksi memengaruhi hasil akhir.
Hasil dari model jalur mengkonfirmasi tekanan psikologis merupakan prediktor yang kuat terhadap obsesi terhadap selebriti.
Mahasiswa yang melaporkan tingkat depresi, kecemasan, dan stres yang lebih tinggi secara konsisten lebih cenderung menunjukkan tanda-tanda obsesi intens terhadap tokoh terkenal. Temuan ini mendukung gagasan bahwa orang yang berjuang dengan kesehatan mental mereka mungkin menggunakan hubungan parasosial sebagai mekanisme penanggulangan. Hubungan parasosial adalah hubungan satu arah di mana seorang penggemar merasa dekat dengan tokoh publik yang tidak mengetahui keberadaan penggemar tersebut.
Hubungan antara fanatisme ekstrem dan kekhawatiran patologis menghasilkan temuan statistik yang tak terduga. Sekilas, angka survei menunjukkan orang yang memprioritaskan orang lain secara tidak sehat cenderung terobsesi dengan selebriti.
Namun, ketika para peneliti memasukkan tekanan psikologis ke dalam model yang lebih luas, hubungan awal tersebut sepenuhnya hilang.
Satu-satunya alasan mengapa kekhawatiran patologis terkait dengan obsesi terhadap selebriti adalah karena individu dengan kekhawatiran patologis mengalami tingkat depresi dan kecemasan yang tinggi.
Kecemasan itulah menjadi pendorong utama obsesi terhadap selebriti.
Temuan mengenai trauma masa kanak-kanak para peneliti mengantisipasi riwayat trauma masa kanak-kanak bertindak sebagai jalur menuju obsesi terhadap selebriti.
Namun, data mengungkapkan dua jalur matematis yang berlawanan. Di satu sisi, trauma masa kanak-kanak dikaitkan peningkatan tekanan mental pada orang dewasa, yang pada gilirannya memprediksi tingkat pemujaan selebriti yang lebih intens.
Sebaliknya, hubungan antara trauma masa kecil dan fanatisme ekstrem lemah dan negatif. Para peneliti mencatat hubungan ini hampir tidak signifikan secara statistik.
Bagi beberapa individu, trauma di masa kecil dapat mengakibatkan pola ketidakpedulian emosional, sehingga mereka cenderung kurang terikat secara intens pada tokoh publik.
Studi ini bergantung pada data survei yang dilaporkan sendiri. Para peneliti mencatat survei terkadang gagal menangkap realitas penuh perilaku sehari-hari seseorang.
Studi ini juga bersifat korelasional. Metodologi ini berarti para peneliti dapat mengamati hubungan matematis antara berbagai sifat, tetapi mereka tidak dapat membuktikan satu sifat secara fisik menyebabkan sifat lain terjadi.
Komposisi demografis peserta juga membatasi cakupan temuan. Sampel terbatas pada mahasiswa universitas yang lebih muda.
Selain itu, sebagian besar kelompok mahasiswa melaporkan mengalami empat atau lebih peristiwa traumatis selama masa kanak-kanak.
Penelitian selanjutnya perlu meneliti apakah jenis trauma masa kanak-kanak memengaruhi fandom secara berbeda pada orang dewasa yang lebih tua atau orang-orang dari latar belakang sosial ekonomi berbeda. (ndi/psypost)
