• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Penelitian Menyebutkan Keterkaitan Obsesi Terhadap Selebriti dengan Kecemasan Masa Kecil
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Penelitian Menyebutkan Keterkaitan Obsesi Terhadap Selebriti dengan Kecemasan Masa Kecil

Redaktur III Senin, 1 Juni 2026
Share
6 Min Read
Ilustrasi pengidolaan terhadap selebriti/ Foto: psypost
Ilustrasi pengidolaan terhadap selebriti/ Foto: psypost

Aktual.co.id – Sebuah studi psikologis mengungkapkan bahwa obsesi terhadap selebriti sangat terkait dengan gejala depresi dan kecemasan.

Tetapi jika dihubungkan dengan trauma masa kanak-kanak ternyata kenyatannya sangat rumit.

Para peneliti menemukan meskipun peristiwa traumatis di masa kanak-kanak pernah dialami seseorang, namun tidak langsung meningkatkan kekaguman terhadap selebriti dengan meningkatkan tekanan mental. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Psychological Reports .

Studi ini bertujuan memahami motif psikologis yang mendorong orang mengidolakan tokoh-tokoh terkenal. Psikolog memandang kekaguman terhadap selebriti melalui kerangka kerja yang disebut model penyerapan-kecanduan.

Menurut kerangka kerja ini, minat seseorang terhadap selebriti sering dimulai melalui cara yang sehat. Orang-orang menikmati menonton film atau mendengarkan musik, dan menikmati mendiskusikan para penghibur ini dengan teman-teman sebaya mereka.

Namun bagi sebagian kecil individu, fokus hiburan ini perlahan-lahan berubah menjadi keterikatan obsesif. Orang yang mengembangkan keterikatan yang tidak sehat merasa memiliki kebutuhan kompulsif untuk mempelajari detail intim kehidupan pribadi seorang selebriti.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan tingkat fanatisme ekstrem dengan kerentanan pribadi, seperti rasa identitas yang lemah atau kesehatan mental yang buruk.

Studi ini memperluas gagasan dengan mengevaluasi trauma masa kecil dan ciri-ciri interpersonal dapat berkontribusi pada keterikatan ini.

Penelitian ini dilakukan oleh tim kolaboratif yang terdiri dari para psikolog. Lynn E. McCutcheon dari North American Journal of Psychology memimpin proyek ini.

McCutcheon bekerja sama dengan para ilmuwan dari Western Kentucky University, Farmingdale State College, Elmhurst University, Rollins College, dan Eötvös Loránd University di Hongaria.

Baca Juga:  Pola Otak Ditemukan Berbeda pada Gangguan Tidur Dibandingkan dengan Kurang Tidur

Bersama-sama merancang proyek untuk menguji validitas survei yang baru dipersingkat yang digunakan mengukur sikap terhadap selebriti.

Untuk mencapai tujuan ini, tim peneliti merekrut 367 mahasiswa sarjana dari empat institusi Amerika. Partisipan sebagian besar adalah perempuan dengan usia rata-rata dua puluh tahun.

Setiap partisipan menyelesaikan serangkaian kuesioner daring yang dirancang mengevaluasi empat area psikologis yang berbeda.

Survei tersebut mengukur sikap terhadap selebriti, tekanan psikologis, kepedulian patologis terhadap orang lain, dan pengalaman masa kecil yang buruk.

Tekanan psikologis diukur dengan menanyakan kepada peserta tentang perasaan depresi, kecemasan, dan stres umum.

Kepedulian patologis menggambarkan jenis perilaku interpersonal tertentu di mana seseorang berfokus pada kebutuhan orang lain sambil mengabaikan kebutuhan dasar mereka sendiri.

Kepedulian patologis sering kali didorong oleh rasa bersalah, kebutuhan yang besar untuk diterima, dan ketakutan yang intens akan ditinggalkan. Individu-individu ini akan menekan keinginan sendiri untuk mempertahankan hubungan yang rapuh.

Para peneliti mengukur pengalaman masa kecil yang buruk. Istilah ini merujuk pada peristiwa traumatis yang terjadi sebelum seseorang mencapai usia delapan belas tahun.

Contohnya mengalami pelecehan fisik atau verbal, menderita pengabaian ekstrem, atau tinggal di lingkungan yang berbahaya.

Mengalami trauma berat di usia muda secara teratur dikaitkan masalah kesehatan mental di masa dewasa. Para peneliti berteori kesulitan awal ini membuat orang rentan membentuk keterikatan obsesif dengan orang asing yang terkenal.

Baca Juga:  Kebiasaan Sehari Hari Orang yang Hidup Bahagia

Untuk menganalisis data survei, para peneliti menggunakan teknik statistik yang disebut model jalur. Metode ini memungkinkan para ilmuwan melihat hubungan yang saling tumpang tindih pada waktu yang bersamaan.

Alih-alih hanya melihat dua variabel secara terpisah, model jalur mengungkapkan bagaimana sifat psikologis berinteraksi memengaruhi hasil akhir.

Hasil dari model jalur mengkonfirmasi tekanan psikologis merupakan prediktor yang kuat terhadap obsesi terhadap selebriti.

Mahasiswa yang melaporkan tingkat depresi, kecemasan, dan stres yang lebih tinggi secara konsisten lebih cenderung menunjukkan tanda-tanda obsesi intens terhadap tokoh terkenal. Temuan ini mendukung gagasan bahwa orang yang berjuang dengan kesehatan mental mereka mungkin menggunakan hubungan parasosial sebagai mekanisme penanggulangan. Hubungan parasosial adalah hubungan satu arah di mana seorang penggemar merasa dekat dengan tokoh publik yang tidak mengetahui keberadaan penggemar tersebut.

Hubungan antara fanatisme ekstrem dan kekhawatiran patologis menghasilkan temuan statistik yang tak terduga. Sekilas, angka survei menunjukkan orang yang memprioritaskan orang lain secara tidak sehat cenderung terobsesi dengan selebriti.

Namun, ketika para peneliti memasukkan tekanan psikologis ke dalam model yang lebih luas, hubungan awal tersebut sepenuhnya hilang.

Satu-satunya alasan mengapa kekhawatiran patologis terkait dengan obsesi terhadap selebriti adalah karena individu dengan kekhawatiran patologis mengalami tingkat depresi dan kecemasan yang tinggi.

Kecemasan itulah menjadi pendorong utama obsesi terhadap selebriti.

Baca Juga:  Kalimat Para Narsisistik Menghindari Tanggung Jawab Ketika Melakukan Kesalahan

Temuan mengenai trauma masa kanak-kanak para peneliti mengantisipasi riwayat trauma masa kanak-kanak bertindak sebagai jalur menuju obsesi terhadap selebriti.

Namun, data mengungkapkan dua jalur matematis yang berlawanan. Di satu sisi, trauma masa kanak-kanak dikaitkan peningkatan tekanan mental pada orang dewasa, yang pada gilirannya memprediksi tingkat pemujaan selebriti yang lebih intens.

Sebaliknya, hubungan antara trauma masa kecil dan fanatisme ekstrem lemah dan negatif. Para peneliti mencatat hubungan ini hampir tidak signifikan secara statistik.

Bagi beberapa individu, trauma di masa kecil dapat mengakibatkan pola ketidakpedulian emosional, sehingga mereka cenderung kurang terikat secara intens pada tokoh publik.

Studi ini bergantung pada data survei yang dilaporkan sendiri. Para peneliti mencatat survei terkadang gagal menangkap realitas penuh perilaku sehari-hari seseorang.

Studi ini juga bersifat korelasional. Metodologi ini berarti para peneliti dapat mengamati hubungan matematis antara berbagai sifat, tetapi mereka tidak dapat membuktikan satu sifat secara fisik menyebabkan sifat lain terjadi.

Komposisi demografis peserta juga membatasi cakupan temuan. Sampel terbatas pada mahasiswa universitas yang lebih muda.

Selain itu, sebagian besar kelompok mahasiswa melaporkan mengalami empat atau lebih peristiwa traumatis selama masa kanak-kanak.

Penelitian selanjutnya perlu meneliti apakah jenis trauma masa kanak-kanak memengaruhi fandom secara berbeda pada orang dewasa yang lebih tua atau orang-orang dari latar belakang sosial ekonomi berbeda. (ndi/psypost)

 

SHARE
Tag :kesehatan mentalMental healthpsikologi
Ad imageAd image

Berita Aktual

Puing bangunan hancur akibat gempa bumi di Filipina/ Foto: Anadolu
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Meningkat 61 Orang di Filipina
Sabtu, 13 Juni 2026
SPBU Pertalite / Foto: JP
Pertamina Memastikan Ketersediaan BBM Pertalite di SPBU
Sabtu, 13 Juni 2026
Bayi dengan bando bendera Jepang/ Foto: Anadolu
Kelahiran Bayi Rendah Karena Penurunan Jumlah Pernikahan di Jepang
Sabtu, 13 Juni 2026
Donald J Trump/ Foto: The Guardian
Donald Trump Diklaim Setuju Mencairkan Aset Iran 24 Miliar Dolar
Sabtu, 13 Juni 2026
Lee Seung Gi / Foto: Allkpop
Penyanyi Lee Seung Gi Berselisih Terkait Pemutusan Kontrak Ekslusif
Sabtu, 13 Juni 2026

Mental Health

Ilustrasi bekerja di depan komputer/ Foto: gemini

Kebiasaan yang Bisa Menghancurkan Kesehatan Seseorang

Ilustrasi mengelola keuangan/ Foto: freepik

Kemampuan Mengelola Keuangan untuk Kehidupan Lebih Tenang

Ilustrasi media sosial/ Foto: freepik

Postingan Media Sosial Bukan Cerminan Diri Mental Seseorang

Ilustrasi tua bahagia/ Foto: freepik

Seni Menikmati Hidup Saat Menjelang Usia Tua

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

BMKG Memprediksi Puncak Musim Kemarau Juli – September 2026 di Indonesia

Wisatawan Mengeluhkan Biaya Hotel 10 Kali Lipat Jelang Konser BTS di Busan

Amerika Serikat Mengumumkan Melakukan Serangan ke Iran

Fenomena El Nino Diprediksi Membawa Iklim Lebih Kering di Tahun 2026

Kemampuan Mengelola Keuangan untuk Kehidupan Lebih Tenang

More News

Ilustrasi seorang konsultasi karena depresi / Foto : freepik

Gestur Fisik Tenang Ungkap Jiwa Seseorang Lelah, Kata Psikologi

Selasa, 15 Juli 2025

Kepemimpinan Narsisistik pada Hitler, Putin, dan Trump Memiliki Akar yang Sama

Selasa, 3 Juni 2025
Narsisistik kagum terhadap dirinya sendiri / Foto : freepik

Pemiliki Kepribadian Narsisistik Cenderung Dikucilkan Karena Arogan

Senin, 11 Agustus 2025

Studi Menemukan, ChatGPT Meniru Disonansi Kognitif Manusia Dalam Eksperimen Psikologis

Rabu, 4 Juni 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id