Aktual.co.id – Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur erupsi dengan tinggi letusan hingga 1 kilometer di atas puncak pada Senin pagi.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 05.13 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1 kilometer di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Menurutnya kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 167 detik.
Dijelaskan aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, lanjut dia, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
“Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” katanya.
Ia meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.
Sementara itu, Pemerintah Lumajang mengingatkan khususnya penambang pasir agar meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya letupan sekunder material vulkanik Gunung Semeru di kawasan aliran lahar dan area penambangan.
Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan ancaman di sekitar gunung api aktif tidak hanya berasal dari erupsi atau awan panas guguran, tetapi juga dari timbunan material vulkanik yang masih menyimpan panas.
Material yang terbawa dari lereng Gunung Semeru dapat tetap memiliki suhu tinggi dalam kurun waktu tertentu dan timbunan material tersebut berpotensi memicu letupan sekunder yang membahayakan masyarakat yang beraktivitas terlalu dekat, terutama di area penambangan.
“Jangan pernah menganggap timbunan material di kawasan Semeru sepenuhnya aman. Material itu bisa saja masih panas dan dalam kondisi tertentu menimbulkan bahaya bagi masyarakat, khususnya penambang,” katanya.
Menurutnya, pemahaman mengenai karakter bahaya material vulkanik menjadi sangat penting, terutama bagi warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar aliran Besuk Kobokan dan kawasan penambangan lainnya.
Risiko di kawasan Semeru dapat meningkat ketika hujan turun di wilayah puncak dan lereng gunung. Air hujan dapat menggerakkan material yang tersimpan di aliran sungai, sehingga menambah potensi bahaya bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar jalur lahar maupun area penambangan.
“Masyarakat diimbau tidak hanya memperhatikan informasi tentang erupsi atau awan panas, tetapi juga memahami risiko dari material vulkanik sisa erupsi yang masih berada di sepanjang aliran sungai dan kawasan penambangan,” katanya. (ANTARA)
