Aktual.co.id – Maskapai penerbangan AS mulai membatalkan ratusan penerbangan pada hari Kamis (6/11) karena perintah Administrasi Penerbangan Federal untuk mengurangi lalu lintas di bandara tersibuk di negara itu mulai hari Jumat karena kebijakan penutupan pemerintah.
Hampir 500 penerbangan yang dijadwalkan pada hari Jumat (7/11) telah dikurangi secara nasional, dan jumlah pembatalan meningkat sepanjang Kamis sore, menurut FlightAware, situs web yang melacak gangguan penerbangan.
Dikutip dari APNews jumlah tersebut lebih dari empat kali lipat jumlah penerbangan yang dibatalkan pada hari Kamis.
FAA telah memerintahkan maskapai penerbangan untuk melakukan pengurangan bertahap sebesar 10% dalam jadwal penerbangan mereka di 40 bandara tersibuk di lebih dari dua lusin negara bagian.
Gangguan ini juga akan memengaruhi layanan di banyak bandara yang lebih kecil, dan pada hari Kamis beberapa pelancong mulai mengubah atau membatalkan rencana perjalanan mereka secara preemptif.
Maskapai penerbangan berjuang keras mencari tahu di mana memotong penerbangan dan para pelancong menunggu untuk melihat apakah penerbangan sesuai jadwal.
Bandara-bandara yang terdampak mencakup bandara yang sibuk dan bandara dengan destinasi wisata populer, seperti Atlanta, Denver, Orlando, Miami, dan San Francisco. Di beberapa kota besar seperti New York, Houston, dan Chicago dalam beberapa ke depan akan ikut terdampak.
Menurut sebuah sumber yang tidak ingin disebutkan identitasnya, maskapai penerbangan melakukan pemangkasan secara bertahap sesuai arahan FAA, dimulai menghilangkan 4% penerbangan di 40 bandara pada hari Jumat.
“United Airlines akan memangkas 4% penerbangannya selama akhir pekan berdasarkan panduan FAA,” ujar Josh Freed juru bicara perusahaan.
Menurut Presiden dan CEO Asosiasi Perjalanan AS Geoff Freeman bahwa penutupan ini memberikan tekanan yang tidak perlu pada sistem dan merusak kepercayaan terhadap pengalaman perjalanan udara AS.
Kelly Matthews, yang tinggal di Flat Rock, Michigan dan sering terbang untuk bekerja, mengatakan dia telah membatalkan sebagian besar perjalanan mendatangnya.
“Kita tidak bisa mengharapkan orang untuk bekerja jika mereka tidak menerima gaji selama lebih dari sebulan. Maksud saya, ini bukan soal mereka tidak mau bekerja tapi kita tidak mampu membayar bensin, biaya penitipan anak, dan lain-lain,” ujarnya saat mengomentari tentang karyawan bandara yang tidak ada di lokasi layanan. (ndi/APNews)
