Aktual.co.id – Sebuah studi yang diterbitkan Jurnal Internasional Interaksi Manusia-Komputer menunjukkan bahwa adanya rasa takut ketinggalan peran dalam sifat narsistik pada penggunaan media sosial.
Salah satu ciri kepribadian yang mendapat perhatian signifikan terkait penggunaan media sosial adalah narsissisme. Orang kecenderungan narsistik sering menggunakan media sosial sebagai cara mencari validasi, kekaguman, atau kepastian.
Penelitian mengidentifikasi dua jenis narsisme: narsisme muluk dan narsisme rentan. Narsisme muluk dicirikan oleh kepercayaan diri, dominasi, dan perilaku mencari perhatian.
Sedangkan narsisme rentan melibatkan rasa tidak aman, kepekaan terhadap kritik, dan kebutuhan untuk kepastian. Kedua jenis narsisme tersebut dikaitkan penggunaan media sosial yang bermasalah. Tetapi alasan yang mendasari hubungan ini masih belum jelas.
Fenomena psikologisnya adalah di mana individu narsistik merasa cemas karena tidak diikutsertakan dalam pengalaman atau acara sosial, menjadi alasan kenapa narsistik terlibat penggunaan media sosial secara berlebih.
Si narsistik merasakan kebutuhan terhubung untuk mengetahui kehidupan orang lain, yang mengarah pada keterlibatan media sosial. Namun tidak semua individu memilik gangguan yang sama seperti ini.
Para peneliti melakukan studi daring melibatkan 208 orang dewasa muda berusia antara 19 dan 28 tahun. Peserta menyelesaikan kuesioner untuk mengukur tingkat narsisme muluk, rentan, takut ketinggalan, kesadaran sifat, dan penggunaan media sosial bermasalah.
Narsisme muluk dinilai menggunakan Narcissistic Personality Inventory-13, narsisme rentan diukur dengan Hypersensitive Narcissism Scale. Rasa takut ketinggalan dievaluasi menggunakan Fear of Missing Out Scale, dan kesadaran dinilai dengan Cognitive and Affective Mindfulness Scale-Revised.
Penggunaan media sosial yang bermasalah diukur menggunakan Bergen Social Media Addiction Scale, yang menangkap perilaku keasyikan yang berlebihan dengan media sosial, kesulitan mengendalikan penggunaan, dan konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari.
Para peneliti menganalisis menentukan apakah rasa takut ketinggalan menjelaskan antara narsisme dengan penggunaan media sosial yang bermasalah. Mereka juga meneliti apakah kesadaran memengaruhi kekuatan terhadap hubungan ini.
Temuan ini menunjukkan bahwa individu yang lebih berhati-hati lebih baik dalam mengendalikan perasaan tentang perbandingan sosial, mereka lebih fokus mengatur respons emosionalnya dengan lebih efektif.
Penelitian ini menjelaskan bahwa dengan kesadaran diri bisa meredam impulsifitas penggunaan media sosia secara berlebih. Melatih individu mengurangi kecemasan dalam bermedia sosial, menjadi lebih sehat. (ndi)
